Razka pulih perlahan. Dua minggu di rumah sakit. Sebulan istirahat di rumah dengan terapi fisik. Setiap hari Aira di sisinya.
Dia tidak banyak bicara di minggu pertama. Bukan karena tidak bisa — dokter bilang fungsi otaknya utuh — tapi karena dia memproses. Dia hampir mati. Dia tahu itu. Dia tahu artinya.
Pada minggu kedua, dia mulai bicara lagi. Dia bercerita pada Aira tentang malam di Lembang — operasi yang seharusnya cepat dan bersih, tapi Hartono Saraswati sudah menyiapkan jebakan. Tujuh anak buah Razka mati. Razka sendiri tertembak di paha dan kepala — yang di kepala dengan sudut yang seharusnya membunuhnya, tapi tidak.
"Aku ingat berbaring di lantai gudang itu," kata Razka pelan, "dan aku berpikir — Aira tidak akan punya pasangan. Anakku tidak akan punya ayah. Dan aku — aku sangat marah. Bukan pada Hartono. Pada diriku. Karena aku berjanji aku akan hadir di kelahiran, dan aku gagal."
"Kamu tidak gagal," Aira menggenggam tangannya. "Belum lahir. Masih ada waktu. Banyak waktu."
"Tujuh bulan."
"Iya. Banyak."
Pada minggu ketiga, Razka bisa berjalan tanpa kruk. Pada bulan kedua, dia bisa keluar rumah. Pada bulan ketiga, dia kembali ke kantor — tapi hanya untuk pengaturan transisi. Dia sudah memutuskan: dia keluar dari operasi.
"Aku mau jadi ayah," katanya pada Pak Mahendra di pertemuan dewan terakhir. "Bukan bos. Saya tidak bisa keduanya."
Pak Mahendra mengangguk. "Siapa yang akan ambil alih?"
"Tidak ada dari keluarga. Tidak Daksa — dia masih ditahan dan tidak akan saya bebaskan. Tidak Anda — Anda pensiun. Tidak saya. Kita jual operasi inti ke pesaing dengan harga yang adil. Kita pertahankan bagian legal — ekspor-impor sungguhan, properti, investasi. Kita jadi keluarga normal."
"Keluarga normal? Setelah empat puluh tahun, kau pikir kita bisa?"
"Tidak setelah empat puluh tahun. Tapi anak saya bisa lahir di keluarga normal. Itu cukup."
Pak Mahendra menatap putranya lama. Lalu mengangguk pelan. "Atur. Aku setuju."
Hartono Saraswati — yang dengan ironi kepala arif — tidak pernah ditangkap. Tiga minggu setelah serangan Lembang, dia ditemukan mati di villanya, dibunuh oleh anak buahnya sendiri yang sudah disuap. Razka tidak harus turun tangan untuk yang terakhir.
Pada bulan keenam kehamilan Aira, rumah Pondok Indah berubah. Kamar bayi disiapkan di sayap timur — dekat kamar Aira dan Razka, tidak jauh tapi tidak terlalu dekat. Dinding krem dengan stiker bintang. Tempat tidur bayi kayu jati. Kursi goyang di sudut untuk menyusui.
Aira yang memilih semuanya. Razka membayar dan menyusun semuanya, dengan tangan yang masih sedikit gemetar dari saraf yang belum pulih sempurna.
Mereka tidak tahu jenis kelamin bayinya. Aira tidak mau tahu. "Surprise," katanya.
Pada bulan ketujuh, Aira sudah sulit jalan jauh. Tapi Razka tetap mengajaknya jalan-jalan keliling taman setiap sore — pelan, dengan tangan di pinggangnya, dengan ngobrol tentang hal-hal kecil.
Pada bulan kedelapan, mereka membicarakan nama untuk pertama kalinya.
"Kalau laki-laki?" tanya Razka, duduk di ayunan dengan Aira di pelukannya.
"Saya suka 'Arsa'. Artinya kebahagiaan."
"Arsa Adhitama?"
"Bukan Adhitama," Aira mengoreksi pelan. "Ayahmu yang bilang. Saya setuju. Bagaimana kalau... Saraswati?"
Razka berkedip. "Mengambil nama keluargamu? Tapi keluargamu—"
"Sudah tidak ada lagi. Sisa-sisanya hancur karena permusuhan. Tapi nama itu — nama itu masih bisa hidup lagi, kalau kita berikan ke anak yang lahir dari damai, bukan perang."
Razka mencium puncak kepalanya. "Arsa Saraswati. Aku suka."
"Kalau perempuan?"
Razka diam lama. Lalu bisik, "Asha."
Aira menoleh, menatap suaminya. "Razka—"
"Bukan menggantikan adikku. Hanya... merindukannya. Memberinya nama yang akan terus diucapkan."
Aira mengangguk pelan, air mata jatuh. "Asha Saraswati. Cantik."
"Cantik."
Bulan kedelapan berlalu damai. Pada bulan kesembilan, kontraksi pertama datang di tengah malam.
Razka sedang tidur. Aira menggoyangkan bahunya, panik tapi tertahan.
"Razka. Sayang. Bangun."
Razka langsung bangun — alarm-alarm bos mafia dia masih ada. "Apa?"
Aira menggenggam tangannya, meletakkan di perut. "Mulai. Sayang. Mulai."
Razka menatap Aira. Lalu tertawa — tawa yang penuh, yang tidak ditahan, yang Aira jatuh cinta lagi pada saat itu.
"Bayinya mau lahir," bisiknya. "Bayi kita mau lahir."
Dia melompat dari tempat tidur — masih sedikit pincang, tapi penuh energi — dan mulai memanggil tim, menelpon Dr. Wira, menyiapkan mobil.
Aira duduk di tempat tidur, satu tangan di perut, menatap suaminya yang berlari ke sana ke mari dengan piyama dan sandal salah pakai.
Dan dia tersenyum.
(bersambung...)