Aira berangkat ke Bali tiga hari setelah pertemuan dengan Pak Mahendra. Razka tidak ikut — dia harus tetap di Jakarta untuk mengeksekusi rencana terhadap Saraswati Lama.
Mereka berpisah di bandara Halim — pesawat pribadi keluarga Adhitama. Aira tidak mau pergi. Tapi dia tahu dia harus, demi anak yang ada di dalamnya.
"Tiga minggu maksimal," janji Razka, memeluknya di tarmac. "Setelah Hartono Saraswati selesai, aku terbang ke Bali sendiri. Tiga minggu."
"Hati-hati."
"Selalu."
"Razka—"
"Iya?"
Aira meletakkan tangannya di pipi Razka. "Kalau kamu tidak datang dalam tiga minggu, saya yang akan datang mencarimu. Saya tidak peduli kalau saya hamil. Saya akan datang."
Razka tertawa kecil, ciuman di dahinya. "Iya, Bu Aira. Aku tahu."
Mereka berpisah. Pesawat lepas landas.
Tiga minggu berikutnya, Aira hidup di villa Adhitama di Ubud — terpencil di lereng, dikelilingi sawah, dengan kolam alami dan pemandangan gunung. Bu Marta yang memasak. Pak Yudha yang mengawasi. Bujang Pratama yang ternyata sangat baik dengan Aira — dia bercerita tentang ayah Aira yang sebenarnya, tentang kisah lama keluarga Saraswati, tentang ibu Aira yang dia kenal sebelum pernikahan.
Razka menelpon setiap malam. Suaranya selalu tenang, tapi Aira bisa mendengar kelelahan yang tertumpuk.
Minggu pertama: tiga dari tujuh orang Saraswati Lama "diselesaikan" — Razka tidak detail.
Minggu kedua: dua lagi.
Minggu ketiga: tinggal Hartono Saraswati di Lembang, dan satu tangan kanannya.
Pada hari kedua puluh, Razka tidak menelpon malam itu.
Aira menunggu sampai jam dua belas. Sampai jam dua. Sampai matahari mulai terbit.
Tidak ada telepon.
Dia menelpon Pak Yudha di Jakarta. Pak Yudha tidak menjawab.
Akhirnya Bu Marta yang menjawab — Bu Marta yang seharusnya tidur. Suaranya bergetar.
"Bu Aira... Tuan terluka. Berat. Operasi di Lembang tidak sesuai rencana. Hartono punya orang lebih dari yang Pak Mahendra catat."
Aira merasa dunianya berhenti.
"Hidup?"
"Hidup, Bu. Tapi... koma. Pendarahan di kepala. Dokter masih operasi sekarang."
Aira tidak ingat bagaimana dia berpakaian. Tidak ingat bagaimana dia membangunkan Bujang dan menyuruh Pak Yudha (yang di Bali, bukan Yudha senior di Jakarta) untuk siapkan pesawat. Tidak ingat penerbangan dari Bali ke Jakarta.
Yang dia ingat adalah ketika dia masuk rumah sakit RS Premier di Jatinegara, dan dia melihat Pak Mahendra duduk di lorong dengan kepala di tangan, dan dia tahu — sebelum siapa pun mengatakan apa pun — bahwa kondisinya sangat-sangat buruk.
"Pak," bisik Aira.
Pak Mahendra mendongak. Matanya merah. "Aira. Dia masih operasi. Sudah enam jam. Mereka tidak bilang apa-apa."
Aira duduk di samping ayah mertuanya. Tangannya menemukan tangan Pak Mahendra, dan dia menggenggamnya. Pria tua itu menangis pelan.
"Kalau dia mati," bisik Pak Mahendra, "semuanya salah aku. Aku yang mengirim dia. Aku yang memberi dia daftar itu. Kalau aku tidak menyerah hari itu di Pondok Indah, dia tidak akan—"
"Dia akan tetap pergi, Pak. Sendiri. Itu cara dia."
"Tapi—"
"Dia akan hidup. Saya tahu dia akan hidup."
Aira tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. Tapi dia mengatakannya seperti fakta. Karena harus.
Empat jam lagi berlalu.
Dr. Wira — yang dipanggil sebagai konsultan — akhirnya keluar dari ruang operasi. Bajunya basah keringat. Tapi dia tersenyum lemah.
"Stabil. Tapi koma. Mungkin beberapa hari sampai bangun. Mungkin lebih. Kepala tidak bisa diprediksi."
Aira boleh masuk. Pak Mahendra menunggu di lorong.
Kamar ICU. Razka di tempat tidur, dikelilingi mesin. Kepalanya diperban. Selang di mana-mana. Tapi dadanya naik turun. Pelan, tapi naik turun.
Aira mendekati, memegang tangannya. Tangan yang dingin.
"Razka," bisiknya, "saya di sini. Anak kita di sini. Bangun kapan saja. Tapi bangun ya. Saya tunggu."
Dia duduk di kursi di samping tempat tidur, meletakkan tangan di perutnya — perut yang sudah mulai sedikit menonjol di minggu ke-delapan ini.
"Ayah lagi tidur, Sayang," bisiknya pada perut. "Mama temani."
Dan Aira menunggu. Sehari. Dua hari. Tiga hari.
Pada hari keempat, Razka membuka matanya.
Dan kata pertama yang dia ucapkan, parau dan lemah, adalah:
"Aira... apa anak kita... baik-baik saja?"
Aira menangis tanpa suara, kepalanya jatuh ke tangan Razka.
"Iya. Iya, kami baik. Kami tunggu kamu."
(bersambung...)