Tiga hari kemudian, sebelum Aira sempat berangkat ke Bali, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Pak Mahendra Adhitama datang ke Pondok Indah. Tanpa janji. Tanpa pengawal. Sendiri.
Pak Yudha menahan dia di gerbang, terkejut. "Pak, Tuan tidak menerima tamu—"
"Beritahu Razka aku di sini. Sendiri. Tanpa senjata. Untuk mengaku."
Pak Yudha menatap pria tua itu, lalu menelpon ke dalam.
Razka mengizinkan masuk. Dia menyambut ayahnya di teras — Aira berdiri di belakang Razka, menatap Pak Mahendra dengan curiga.
"Ayah," kata Razka datar. "Apa yang Anda mau?"
"Bicara. Hanya itu. Lima belas menit."
"Empat belas."
Mereka duduk di teras. Bu Marta membawakan teh, lalu mundur. Pak Yudha berdiri di pintu, tidak jauh.
Pak Mahendra menyeruput tehnya. Tangannya gemetar — Aira baru sadar. Sedikit, tapi nyata. Pria tua ini lebih tua dari yang terlihat.
"Razka. Aku akan ke pokok. Aku tahu Daksa di tangananmu. Aku tahu Selena juga. Dan aku tahu Bujang Pratama di sini, di tahananmu juga."
"Anda banyak tahu, Ayah."
"Aku selalu banyak tahu. Itu pekerjaanku selama empat puluh tahun." Pak Mahendra menatap Razka. "Aku datang untuk mengakui sesuatu yang seharusnya aku akui lima tahun lalu. Aku — sebagian dari penghancuran Keluarga Saraswati."
Razka tidak berkedip. "Saya tahu."
"Apa?"
"Saya tahu, Ayah. Saya sudah tahu sejak tiga tahun lalu. Saya tidak pernah bilang karena saya menunggu Anda jujur sendiri. Anda tidak pernah jujur. Sampai sekarang."
Pak Mahendra menundukkan kepala. "Bagaimana kau tahu?"
"Karena saya membaca semua arsip lama keluarga setelah Mama meninggal. Saya menemukan dokumen yang Anda kira saya tidak akan menemukan. Tentang aliansi yang Anda buat lima belas tahun lalu untuk menggulingkan keluarga Aira."
"Bukan keluarga Aira waktu itu. Hanya keluarga Saraswati."
"Tapi Anda tahu Aira ada. Anda tahu ada putri pewaris asli yang selamat dan bersembunyi. Anda tahu — dan Anda diam."
"Aku diam karena membiarkan dia hidup. Bukan karena rencana. Karena rasa hormat pada Aditya Saraswati. Aditya — ayah Aira — pernah menyelamatkan nyawaku ketika kami masih muda, sebelum permusuhan keluarga. Aku berhutang. Aku memutuskan: aku tidak akan mengusiknya, atau anaknya."
"Tapi sekarang Anda membiarkan Daksa menggunakan Aira sebagai jaminan?"
"AKU TIDAK MEMBIARKAN!" Pak Mahendra meninggikan suara untuk pertama kali — dan suara itu pecah di akhir, seperti suara orang tua yang lelah. Dia menarik napas, menenangkan diri.
"Aku tidak tahu sampai pertemuan di kafe Menteng. Daksa membawa itu sebagai 'restrukturisasi'. Aku tidak tahu rencana sebenarnya — bahwa dia berkonspirasi dengan sisa Saraswati untuk menukar Aira. Aku baru tahu setelah Selena ditangkap, ketika orang Yudha mengintergerogasi dia di Bogor."
"Anda tahu sekarang. Apa yang Anda mau lakukan?"
Pak Mahendra menatap putranya. Lalu mengeluarkan sebuah folder kulit dari jasnya — yang Razka kira kosong, tapi ternyata berisi dokumen.
"Aku menulis dua hal, Razka. Pertama: surat pengunduran diri saya dari posisi ketua dewan. Efektif segera. Kau yang menggantikan."
"Saya tidak—"
"Dengarkan dulu. Kedua: daftar tujuh orang di sisi Saraswati Lama yang masih hidup, dengan alamat lokasi terbaru, kebiasaan, kelemahan, dan koneksi. Termasuk kepala mereka — namanya Hartono Saraswati, paman dari Aditya. Tinggal di Bandung, di villa di kawasan Lembang."
Razka mengambil folder itu. Membukanya. Membaca cepat.
"Kenapa Anda memberi saya ini?"
"Karena aku salah, Razka. Selama dua puluh tahun aku salah. Aku menghancurkan keluarga Saraswati karena ambisi — bukan karena perlu. Aku membiarkan Daksa tumbuh dengan racun yang sama yang aku miliki. Aku gagal sebagai ayah, dan aku gagal sebagai kepala keluarga. Aku — aku tidak bisa memperbaiki yang sudah lewat. Tapi aku bisa memberimu alat untuk menyelesaikan apa yang aku mulai."
Suaranya pecah lagi di akhir. Pria tua ini — pria yang Aira sebelumnya tidak bisa membayangkan menangis — sekarang menyeka matanya pelan.
"Razka," lanjutnya. "Anak istrimu — kalau jadi laki-laki — namanya jangan Adhitama. Tolong. Beri dia kesempatan tumbuh tanpa beban nama ini."
Razka menatap ayahnya lama. Untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya, dia melihat ayahnya bukan sebagai musuh, bukan sebagai bos, tapi sebagai manusia tua yang patah.
Dia berdiri. Dia mendekati ayahnya. Dia berlutut — pelan, hati-hati — dan memeluk pria tua itu.
Pak Mahendra menangis di bahu putranya. Pelan. Pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.
Aira menonton dari kejauhan, dan dia tahu — dengan kepastian yang sangat tenang — bahwa sesuatu sudah selesai. Dan sesuatu yang baru baru saja dimulai.
(bersambung...)