Mereka pindah ke ruang kerja Razka. Pintu tertutup. Bujang Pratama dibawa kembali ke ruang tahanan bawah tanah.
Razka duduk di kursinya di belakang meja. Aira berdiri di hadapannya — bukan duduk. Dia perlu berdiri untuk ini.
"Aira, apa yang—"
"Tunggu. Saya bicara dulu."
Razka diam.
Aira menggenggam tangannya di depan. Dia menarik napas dalam, lalu, dengan tangan yang gemetar, mengeluarkan sesuatu dari saku cardigannya — sebuah benda kecil dari plastik putih.
Dia meletakkannya di meja Razka.
Razka menatap. Test pack. Dengan dua garis merah jambu yang jelas.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa untuk beberapa detik. Tangannya terangkat pelan — mengambil test pack itu — dan dia menatapnya. Membaca instruksinya. Memutarnya. Menatap dua garis itu lagi.
Lalu dia menatap Aira.
"Kapan?" suaranya parau.
"Saya... saya tidak tahu pastinya. Saya kira sekitar tiga minggu. Mungkin empat. Dr. Wira yang... memberi saya test pack-nya tiga hari lalu. Setelah saya pulang dari Tanjung Priok."
"Tiga hari lalu kau sudah tahu?"
"Iya."
"Kenapa baru sekarang—"
"Karena saya takut, Razka." Suara Aira pecah. "Saya takut kamu akan menganggap saya beban. Saya takut kamu akan menyuruh saya pergi karena terlalu berbahaya. Saya takut—"
Razka berdiri dari kursinya. Dia mengelilingi meja. Dia berdiri di hadapan Aira, sangat dekat, lebih tinggi darinya.
Lalu dia berlutut.
Aira berkedip. "Razka? Kamu sedang apa—"
Razka tidak menjawab. Dia mengangkat tangannya, dan dengan sangat hati-hati, dengan kelembutan yang membuat Aira pecah dalam, dia meletakkan telapak tangannya di perut Aira.
Perut yang masih rata. Perut yang masih hanya milik Aira di pinggangnya. Tapi perut yang sekarang juga rumah.
"Halo," bisik Razka pelan. Bukan pada Aira. Pada perut. Pada apa yang ada di dalamnya. "Halo, sayang. Selamat datang."
Aira jatuh berlutut juga, tidak bisa berdiri lagi. Air mata mengalir tidak henti.
Razka memeluknya. Erat. Dahinya bersandar di dahi Aira.
"Aira. Aira. Aku tidak — aku tidak punya kata. Aku—"
"Kamu marah?"
"Marah?" Dia tertawa pendek, terkejut. "Aira, kenapa aku marah?"
"Karena timingnya jelek. Karena ada Bujang. Karena keluarga Saraswati. Karena—"
"Aira. Diam sebentar."
Aira diam.
Razka mengusap pipinya dengan kedua tangan. Matanya — mata gelap yang Aira sudah cintai, mata yang dia kenal — basah penuh.
"Aira. Aku tidak akan pernah punya hari yang lebih baik dari hari ini. Tidak peduli apa yang terjadi di luar. Tidak peduli siapa Bujang. Tidak peduli ayahku, Daksa, Saraswati. Hari ini — kau memberiku alasan untuk hidup yang aku tidak pernah berpikir aku layak."
Aira tertawa di antara tangisnya. "Bukan cuma saya. Kamu juga."
"Aku tahu. Tapi tetap — kau yang menemukannya dulu. Kau yang menyimpan rahasianya tiga hari. Kau yang menanggungnya sendirian sampai sekarang. Aira, jangan pernah lagi. Apa pun. Jangan pernah lagi tanggung sendirian. Aku di sini. Aku selalu di sini."
Aira mengangguk. Mereka berlutut di lantai ruang kerja itu, berpelukan, dan untuk satu menit yang sangat panjang, dunia di luar — Daksa, Selena, Saraswati, ancaman, darah — tidak ada.
Hanya ada mereka. Dan sesuatu yang sangat kecil di antara mereka yang belum lahir.
Akhirnya, Razka menarik diri. Wajahnya berubah — lembut hilang, sesuatu yang lebih keras kembali. Bukan dingin. Tapi tekad.
"Aira. Aku perlu kau pindah ke rumah aman lain. Bukan Bogor — terlalu dekat dengan tahanan kita. Aku punya properti di Bali. Tertutup. Aman. Kau pergi minggu depan."
"Sendiri?"
"Dengan Bu Marta. Dengan Pak Yudha. Dengan empat penjaga. Bujang Pratama juga ikut — aku percaya cerita dia."
"Kamu?"
Razka menarik napas. "Aku tinggal di sini. Aku menyelesaikan ini."
"Tidak."
"Aira—"
"Tidak. Kalau saya pergi, kamu ikut."
"Aira, aku tidak bisa lari. Kalau aku lari, mereka akan mengejar selamanya. Aku harus menghadapi Saraswati. Aku harus menyelesaikan dengan ayahku. Aku harus mengakhiri ini permanen, supaya kau dan anak kita bisa hidup normal."
"Tapi kalau kamu mati—"
"Aku tidak akan mati. Tidak setelah hari ini."
Aira menangis di pelukan Razka. Dia tahu pria itu benar — tapi dia juga tahu, semua janji "aku tidak akan mati" yang diucapkan orang seperti Razka selalu rapuh.
"Berjanji satu hal," bisiknya akhirnya.
"Apa saja."
"Hadiri kelahiran. Apa pun yang harus kamu lakukan. Hadiri kelahiran anak kita. Jangan biarkan dia lahir tanpa ayahnya di samping ibunya."
Razka mencium dahinya, lama. "Aku berjanji. Demi nama Asha. Aku berjanji."
(bersambung...)