Tiga hari Razka istirahat di Pondok Indah. Tiga hari Aira menjaga rahasianya di dalam dirinya, tidak tahu kapan dan bagaimana mengatakan pada suaminya.
Pada hari keempat, Pak Yudha datang dengan berita dari Bogor.
"Tuan," katanya pelan di ruang baca, di hadapan Razka dan Aira, "ada perkembangan dengan tahanan kita."
"Daksa?" Razka mengangkat alis.
"Bukan. Ada... orang lain yang ditemukan di rumah aman, sebelum tim kita tiba. Bersembunyi di paviliun belakang."
"Bersembunyi?"
"Ya, Tuan. Dia bilang dia datang untuk menemui Daksa, tapi datang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Ketika tim kita datang membawa Daksa dan Selena, dia sudah di sana. Dia tidak melawan ketika diborgol. Justru meminta secara spesifik untuk bicara dengan Anda."
"Siapa dia?"
Pak Yudha menelan ludah. "Namanya Hendra Wijaya. Tapi nama itu palsu. Kami sudah cek wajahnya dengan database kami. Nama aslinya — Tuan — Bujang Pratama. Tangan kanan Keluarga Saraswati Lama."
Aira menjatuhkan cangkir tehnya. Bunyinya pecah di lantai.
Razka menoleh padanya. Wajah Aira pucat.
"Aira? Kau kenal nama itu?"
"Saraswati," bisik Aira. "Itu marga keluarga ayah saya. Sebelum ayah saya pakai nama Bambang Saraswati. Itu... bukan nama aslinya."
Razka menutup matanya sebentar, mencerna. Lalu membuka lagi.
"Aira. Ayahmu siapa sebenarnya?"
Aira menggenggam tangan sendiri di pangkuan, gemetar.
"Saya tidak pernah benar-benar tahu. Ayah meninggal waktu saya tujuh tahun. Ibu cuma bilang dia 'tukang antar barang' dan sering keluar kota. Ibu tidak suka cerita lebih banyak. Tapi setelah ayah meninggal, kami pindah dari Jakarta ke Pekalongan, dan ibu mulai pakai marga Lestari — bukan Saraswati."
"Bersembunyi."
"Saya... saya tidak pernah berpikir begitu. Tapi sekarang..."
Razka menatap Pak Yudha. "Bawa Bujang Pratama itu ke sini. Sekarang. Aira ikut bertanya."
Aira menggeleng. "Razka, mungkin saya tidak siap—"
"Aira." Razka memegang tangannya. "Kau berhak tahu siapa dirimu sebenarnya. Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam ini, kau perlu kebenaran."
Aira mengangguk pelan.
Empat jam kemudian, Bujang Pratama dibawa ke ruang baca Pondok Indah. Tangan diborgol di belakang. Pria tua sekitar enam puluh tahun, kurus, rambut beruban penuh. Tapi matanya — tajam, terlatih, seperti mata Razka di versi lebih tua dari versi yang sangat berbeda.
Dia melihat Aira. Ekspresinya berubah — terkejut tulus, lalu sesuatu yang lebih lembut.
"Astaga," bisiknya. "Kau persis ibumu. Sri."
Aira menelan. "Anda kenal ibu saya?"
"Saya menjaga ibumu selama kehamilanmu, Nak. Saya menjaga ayahmu selama dua belas tahun sebelum dia meninggal. Saya..." dia menundukkan kepala, "...saya yang seharusnya menjagamu juga, tapi ayahmu meminta saya menjauh setelah dia memutuskan keluar dari keluarga."
"Keluarga apa?"
Razka menjawab pelan, sebelum Bujang. "Keluarga Saraswati Lama. Aira, itu kartel utama di Bandung dan Jawa Barat dua puluh tahun lalu. Saingan utama keluargaku waktu itu. Mereka hancur sekitar lima belas tahun lalu — perang internal. Banyak orang mati. Sisa-sisa anggota menghilang."
"Ayah saya..."
"Putra mahkota," kata Bujang. "Pewaris asli. Tapi ayahmu — Bambang Saraswati, atau nama aslinya Aditya Saraswati — menolak posisi itu. Dia jatuh cinta pada ibumu, gadis biasa yang dia temui di pasar. Dia keluar dari keluarga, membawa nama palsu, sembunyi. Kakek dan paman-pamanmu yang melanjutkan, dan mereka yang membawa keluarga ke kehancuran."
Aira merasa kepalanya berputar. Dia duduk pelan, Razka langsung menahannya.
"Kenapa Anda datang ke Bogor?" tanya Razka tajam. "Mau apa Anda?"
Bujang menatap Razka lurus. "Saya datang karena saya tahu Daksa Adhitama berencana menggunakan Aira sebagai jaminan dalam sebuah kesepakatan. Dengan siapa? Dengan sisa-sisa Keluarga Saraswati Lama. Mereka belum mati, Tuan Razka. Mereka tahu Aira — putri pewaris asli — masih hidup. Dan mereka mau dia."
"Mau dia kenapa?"
"Untuk meneruskan darah. Untuk meneruskan klaim atas wilayah lama mereka. Dengan Aira di tangan mereka, mereka bisa mendeklarasikan kebangkitan keluarga. Daksa akan memberikan dia sebagai 'hadiah' untuk mendapat aliansi mereka."
Razka berdiri pelan. Wajahnya — dingin, gelap, tidak terbaca. Tapi Aira merasakan tangannya yang masih memegang tangan Razka mengeras.
"Berapa orang yang tahu identitas asli Aira?" tanyanya pelan.
"Daksa. Selena. Saya. Dan sekitar lima orang di sisi Saraswati Lama."
"Tujuh orang."
"Tuan, saya datang bukan untuk membantu Daksa. Saya datang untuk menghentikan dia. Saya — saya gagal melindungi ayah Aira waktu itu. Saya tidak akan gagal melindungi Aira."
Razka menatap Bujang lama. Lalu kembali ke Aira.
Aira menatap balik. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia adalah keturunan kartel. Dia tidak pernah tahu. Dia adalah taruhan dalam permainan yang dia tidak mengerti aturannya.
Tapi dia tahu satu hal: dia sedang hamil.
Dan rahasia itu, sekarang, harus dia katakan. Sekarang. Sebelum bahaya datang lagi. Sebelum apa pun yang akan terjadi, terjadi.
Dia menarik napas dalam.
"Razka," katanya pelan, "saya harus bicara dengan kamu. Berdua. Sekarang."
(bersambung...)