Rumah aman di Bogor adalah sebuah villa terpencil di lereng Puncak — dikelilingi pinus dan kabut. Pemilik resminya adalah perusahaan cangkang yang dikelola Pak Yudha. Tidak ada tetangga dalam radius dua kilometer.
Razka dan Aira tidak ke sana hari itu. Razka membawanya pulang ke Pondok Indah dulu — Dr. Wira menunggu di sana, untuk merawat luka bahu Razka dan memeriksa Aira.
Aira tidak mau dipisahkan dari Razka. Dr. Wira menjahit luka bahu Razka sambil Aira duduk di tepi tempat tidur, memegang tangan pria itu.
"Tujuh jahitan," kata Dr. Wira. "Bersih. Tidak terlalu dalam. Tapi Tuan harus benar-benar istirahat kali ini. Dua kali kena tembak dalam satu bulan — tubuh tidak bercanda."
"Mengerti, Dok."
"Dan Bu Aira," Dr. Wira menoleh, "Bu Marta cerita Bu sudah dua kali muntah pagi ini setelah pulang. Mungkin efek obat bius yang dipakai. Saya periksa cepat ya?"
Aira mengangguk. Dia ikut Dr. Wira ke kamar sebelah untuk pemeriksaan singkat — tekanan darah, mata, denyut nadi.
"Stabil, Bu. Mungkin memang efek bius. Tapi kalau besok masih mual, atau telat haid, lapor saya. Saya bawa test pack juga, kalau Bu mau cek."
Aira berkedip. "Test pack?"
"Untuk berjaga-jaga. Bu menikah baru, kan? Mual dan pusing setelah trauma kadang tertukar dengan gejala lain."
Aira tidak bisa berbicara. Dia mengangguk pelan. Dr. Wira meletakkan kotak kecil di meja samping tempat tidur, lalu pamit.
Malam itu, Razka tidur lebih cepat dari biasanya — efek obat penenang. Aira duduk di teras kamar mereka, memandangi taman. Dia memegang kotak test pack di pangkuannya. Dia belum membukanya. Belum memakainya.
Dia juga belum menghitung — kapan terakhir kali haid? Dia tidak ingat. Hidupnya selama dua bulan terakhir terlalu kacau untuk mengingat hal sederhana seperti itu.
Dia ke kamar mandi.
Hasilnya jelas dalam dua menit.
Aira duduk di lantai kamar mandi yang dingin, memegang test pack, dan menatap dua garis merah jambu yang sangat jelas. Dua garis.
Hamil.
Dia membayangkan banyak reaksi yang mungkin keluar — terkejut, takut, sedih, panik. Tapi yang dia rasakan, secara aneh, adalah... tenang.
Tenang yang bercampur takut. Tapi sebagian besar tenang.
Dia kembali ke kamar tidur. Razka masih lelap, lengannya melintang di tempat yang seharusnya Aira tiduri. Wajahnya — wajah yang kasar dan brutal di siang hari — terlihat sangat muda dalam tidur. Hampir seperti anak laki-laki.
Aira berbaring di sebelahnya. Dia meletakkan tangan di perut sendiri — perut yang masih rata, yang masih hanya milik dirinya, tapi yang sekarang juga sesuatu yang lebih.
"Hai," bisiknya pelan. "Selamat datang di dunia paling aneh."
Air mata jatuh ke bantal — tapi senyum di bibirnya tidak hilang.
Dia tidur seperti itu. Dengan tangan di perut. Dengan suami berlumur perban di sebelah. Dengan rahasia yang akan dia simpan dulu — sampai Razka cukup kuat untuk mendengarnya. Sampai bahaya cukup lewat. Sampai dia tahu apa artinya semua ini.
Tapi dalam hatinya, dia sudah memutuskan satu hal: anak ini akan punya orang tua. Berdua. Aira akan memastikannya.
Apa pun yang harus dia hancurkan untuk itu.
Pagi itu, Razka terbangun dengan rasa sakit di bahu, mulut kering, dan istrinya sedang menatapnya dengan senyum yang aneh.
"Pagi," katanya parau.
"Pagi."
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Aira menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Saya cuma..." Dia mencium pipi Razka. "Saya cuma cinta kamu. Sangat. Itu saja."
Razka tertawa pelan — pelan, karena sakit. "Pagi yang aneh. Tapi aku terima."
Dia mengambil tangan Aira dan menciumnya. Lalu, untuk sesaat, dia menatap tangan istrinya — yang tadi malam diikat di gudang Tanjung Priok, yang dia hampir kehilangan — dan kembali menciumnya, lebih lama kali ini.
"Aira."
"Hm?"
"Tiga kata yang aku bilang di mobil kemarin. Aku tidak menariknya kembali. Aku akan mengatakannya tiap pagi sampai aku mati."
Aira tersenyum. Air mata jatuh — air mata bahagia kali ini.
"Saya tunggu pagi-pagi yang banyak."
Mereka berbaring di tempat tidur, sinar pagi masuk lewat jendela. Bu Marta mengetuk pintu pelan dengan nampan sarapan, tapi melihat mereka berdua diam-diam — istri yang memeluk suami yang berperban, suami yang tersenyum lelah tapi puas — dia hanya tersenyum, menutup pintu pelan, dan kembali ke dapur untuk memanaskan ulang nanti.
Di luar Pondok Indah, dunia masih penuh dengan musuh. Daksa, Selena, sosok misterius di Bogor, ayah Razka yang masih ambigu, masa lalu Aira yang dia sendiri belum tahu ada apa.
Tapi pagi itu, untuk satu pagi yang singkat, mereka punya kedamaian.
Dan di dalam perut Aira, tanpa siapa pun tahu kecuali dia, kehidupan baru sudah mulai tumbuh — kehidupan yang akan mengubah segalanya.
(bersambung...)