Tiga detik berikutnya terjadi sangat cepat.
Daksa menarik pelatuk — tapi dia menarik ke arah Razka, bukan Aira. Itu bisikan kebanggaannya: dia tidak mau membunuh wanita yang tidak melawan. Dia mau membunuh saudara.
Razka sudah menduga. Dia bergerak ke samping sepersekian detik lebih cepat dari Daksa menembak. Peluru lewat bahunya — hanya menggores. Lalu Razka menembak balik.
Bukan ke kepala. Bukan ke jantung. Ke tangan kanan Daksa.
Daksa berteriak, pistolnya jatuh. Dia ambruk berlutut, memegang tangannya yang berdarah.
Pak Yudha dan dua orang lagi muncul dari kegelapan, langsung mendekati Daksa dan Selena. Mereka diborgol cepat, tanpa ada yang berbicara.
Razka menjatuhkan pistolnya — tidak butuh lagi — dan berlari ke arah Aira.
Dia berlutut di lantai beton, melepas ikatan di tangan Aira dengan jari-jari yang gemetar. Aira menatapnya, dan untuk pertama kalinya melihat air mata di mata Razka.
"Aira—"
Dia tidak menyelesaikan kalimat. Dia memeluk Aira — keras, erat, seperti orang yang takut melepas. Aira menyembunyikan wajahnya di leher Razka, dan akhirnya menangis dengan suara.
"Saya baik," bisiknya, ke bahu Razka yang berdarah. "Saya baik. Mereka belum apa-apa."
"Aku tahu. Aku tahu. Tapi—"
"Bahu kamu berdarah."
"Tidak apa. Cuma menggores."
Aira menarik diri, menatap luka di bahu Razka. Memang menggores. Dangkal. Tapi darah masih merembes. Dia menggigit bibir.
"Razka, kalau kamu mati untuk saya satu kali lagi—"
"Aku tidak mati. Tidak akan. Tidak setelah aku menemukanmu."
Pak Yudha mendekat, hati-hati. "Tuan, Daksa sadar. Selena diam saja. Apa instruksinya?"
Razka menatap kedua tahanan. Daksa, yang sekarang pucat dan tangannya darah, masih berusaha menatap balik dengan sombong. Selena, dengan kepala menunduk, sudah menyerah pada nasib.
"Bawa ke rumah aman di Bogor," kata Razka. "Aku akan urus mereka sendiri. Tapi tidak hari ini."
"Tidak lapor polisi, Tuan?"
Razka tersenyum tipis, dingin. "Yudha. Daksa keluarga. Selena dulu juga. Ini bukan masalah polisi. Ini masalah keluarga."
"Mengerti."
Tim membawa Daksa dan Selena keluar. Razka membantu Aira berdiri. Mereka berjalan keluar gudang bersama — Aira bersandar di sisi Razka yang tidak luka.
Di luar, langit sudah gelap penuh. Bintang-bintang muncul di langit Jakarta — sesuatu yang jarang terlihat. Bau air laut. Suara ombak di kejauhan.
Razka membantu Aira ke mobil. Pak Yudha sendiri yang menyetir kali ini. Razka duduk di belakang, dengan Aira di pelukannya.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Hanya tangan Razka membelai rambut Aira, dan Aira mendengar napas Razka yang akhirnya kembali teratur.
"Aku takut," akhirnya Razka berbisik. Pelan. Hampir hanya untuk dirinya sendiri.
"Saya tahu."
"Aku belum pernah setakut itu dalam hidupku. Bahkan waktu Asha tenggelam — aku takut, tapi aku masih kecil, aku belum mengerti. Tadi — di kafe, ketika kau hilang — aku mengerti. Dan aku..." dia menelan, "aku menyadari aku akan menghancurkan dunia untukmu, Aira. Tidak peduli apa. Tidak peduli siapa. Aku akan membakar segalanya."
"Razka..."
"Itu bukan cinta yang sehat. Aku tahu. Tapi itu yang aku rasakan. Dan aku tidak akan pura-pura berbeda."
Aira mengangkat wajahnya, menatap Razka. Mata gelap pria itu — basah, lelah, jujur — menatap balik.
"Aku tidak butuh cinta yang sehat," bisik Aira. "Aku cuma butuh cinta yang nyata."
Razka mencium dahi Aira. Lama. Lalu hidungnya. Lalu pipinya. Akhirnya bibirnya — pelan, hati-hati, tapi penuh.
Ketika mereka menarik diri, dia berbisik kalimat yang sudah lama dia tahan.
"Aira. Aku cinta kamu."
Aira tersenyum di antara air matanya.
"Saya juga."
Mobil terus melaju di tol Jakarta-Cikampek yang kosong di tengah malam. Bintang di atas. Aira dalam pelukan Razka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang baru ini, Aira merasa benar-benar aman.
Dia tidak tahu — belum tahu — bahwa di rumah aman Bogor yang menjadi tujuan Daksa dan Selena, sudah ada seseorang yang menunggu.
Seseorang yang lebih berbahaya dari mereka berdua.
Dan seseorang yang menyimpan rahasia tentang Aira yang Razka sendiri pun belum tahu.
(bersambung...)