Hujan turun deras malam itu, jenis hujan yang membuat lampu-lampu jalan terlihat seperti bintang yang menangis. Aira mempererat genggaman pada tas selempangnya, berlari kecil menyusuri trotoar Jakarta Selatan dengan sepatu kets yang sudah basah kuyup.
"Sial. Sial, sial, sial," gumamnya berulang.
Kafe tempat dia bekerja paruh waktu menutup lebih awal karena listrik padam. Bus terakhir sudah lewat dua puluh menit yang lalu. Aplikasi ojek online juga error karena hujan. Yang tersisa hanyalah jalan kaki dua kilometer ke kos-kosannya — atau memotong lewat gang belakang yang katanya bisa hemat sepuluh menit.
Suara petir menggelegar. Aira menatap mulut gang yang gelap di seberang jalan. Lampu jalan di sana mati. Bau got tercium samar.
"Cuma sepuluh menit," bisiknya pada diri sendiri. "Lewat sini, sampai depan minimarket, terus naik ojek pangkalan."
Dia tidak tahu bahwa keputusan itu akan menjadi keputusan paling salah dalam hidupnya.
Gang itu lebih panjang dari yang dia ingat. Tembok-tembok tinggi di kiri kanan ditumbuhi lumut. Genangan air di mana-mana. Aira menggigil — bukan hanya karena dingin, tapi karena perasaan ganjil yang merayap di tengkuknya.
Lalu dia mendengarnya.
Suara orang berbicara, pelan, di balik tumpukan tong sampah di depan. Seorang pria — atau lebih dari satu — dengan nada yang dingin dan terkontrol.
"Sudah cukup, Pak Edwin. Bos sudah memberi peringatan tiga kali. Anda memilih jalan ini sendiri."
Suara itu terlalu tenang untuk situasi normal. Aira refleks berhenti, menempel ke dinding. Jantungnya berdetak terlalu keras. Otaknya berteriak: balik, sekarang, balik!
Tapi kakinya tidak mau bergerak.
"Tunggu, tunggu! Bilang ke Razka aku bisa bayar! Aku bisa bayar dua kali lipat! Aku—"
DOR.
Suaranya pecah seperti petir kedua malam itu. Aira menggigit telapak tangannya untuk menahan teriakan. Lututnya gemetar. Dari celah antara tong sampah, dia bisa melihat — dia bisa melihat — tubuh seorang pria tua jatuh ke genangan air, darah menyatu dengan air hujan menjadi warna yang tidak punya nama.
Dan di hadapan mayat itu, berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam basah. Wajahnya tidak terlihat jelas — tertutup bayangan dan helai rambut hitam yang kuyup. Tapi tangannya. Tangan kanannya memegang pistol dengan peredam, masih terangkat.
Pria itu menunduk, mengusap pelipisnya dengan punggung tangan kiri. Dia berbicara pada seseorang yang tidak terlihat. "Bersihkan. Aku ingin tempat ini steril dalam dua puluh menit."
Aira mundur. Satu langkah. Dua langkah.
Sepatunya menginjak kaleng.
Suara kaleng itu terdengar seperti ledakan dalam keheningan gang. Pria di ujung gang menoleh — secepat kilat, secepat predator yang mendengar mangsa.
Dan untuk pertama kalinya, Aira melihat wajahnya.
Tajam. Muda. Mungkin awal tiga puluhan. Mata yang gelap dan dalam, seperti dua sumur tanpa dasar. Bibir tipis yang tidak tersenyum. Garis rahang yang dipahat dengan amarah.
Mata mereka bertemu — hanya sepersekian detik — tapi Aira merasa seluruh tubuhnya membeku. Dia tahu, dengan kepastian dingin yang masuk ke tulang, bahwa pria itu sudah melihatnya. Sudah mengingat wajahnya. Sudah memutuskan sesuatu tentangnya.
"Lari," bisik nalurinya.
Dan Aira lari.
Dia lari secepat yang bisa dilakukan tubuh manusia ketika takut akan hidup. Dia lari menabrak tong sampah, terjatuh, bangun lagi, terus lari. Hujan menghantam wajahnya. Air mata bercampur dengan air hujan. Suara langkah di belakangnya — dia tidak mau menoleh untuk memastikan.
Sampai akhirnya dia melihatnya: cahaya. Minimarket di ujung jalan. Cahaya. Manusia. Keselamatan.
Aira menerobos pintu kaca minimarket itu dengan napas tercekik, jatuh ke lantai dingin di depan mesin kasir yang kebingungan. Dia menangis tanpa suara.
Saat dia akhirnya berani menoleh ke pintu — tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya hujan.
Tapi dalam hatinya, Aira tahu satu hal dengan pasti: malam ini belum berakhir. Pria itu — Razka — pasti akan datang mencarinya.
Dan dia tidak punya tempat untuk bersembunyi.
(bersambung...)