Razka menunggu di mobil tujuh menit.
Pada menit kedelapan, dia tahu ada yang salah.
Dia keluar dari mobil, berjalan kembali ke kafe. Satpam di pintu masih di sana — Aira tidak keluar lewat depan.
Dia langsung berlari ke dalam. Toilet. Pintu sedikit terbuka. Kosong.
Tapi di lantai — selembar tisu basah dengan noda darah kecil. Dan, di bawah wastafel, satu anting Aira. Jatuh, tertinggal.
Dia tidak butuh bukti lagi.
"Daksa! SELENA!" dia berteriak, balik ke ruang utama kafe. Pak Mahendra masih duduk di meja, ekspresinya tak terbaca. Daksa dan Selena hilang.
"Mereka pamit," kata Pak Mahendra pelan. "Tampaknya buru-buru."
Razka mendekati ayahnya, suaranya rendah dan dingin. "Ayah. Kalau kau terlibat — kalau kau tahu — aku tidak peduli kau ayahku. Aku akan membunuhmu sendiri."
Pak Mahendra menatap putranya. Untuk sesaat, di mata pria tua itu, Aira mungkin akan melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah. Tapi Razka tidak peduli.
"Aku tidak tahu rencana mereka," kata Pak Mahendra akhirnya. "Aku bersumpah. Tapi aku tidak akan menghentikanmu mencari. Pergi."
Razka berbalik dan berlari keluar.
Di mobil, dia langsung menelpon. "Yudha. Lacak ponsel Aira. Lacak ponsel Daksa. Lacak ponsel Selena. SEKARANG."
Sopirnya memacu mobil keluar dari Menteng. Razka berbicara di telepon dengan dingin yang dipoles oleh ketakutan murni.
"Pak Yudha — ponsel Aira mati."
"Daksa?"
"Ponselnya bergerak ke arah utara. Pelabuhan Tanjung Priok."
"Pelabuhan." Razka mengulang. Memori datang — minggu lalu, Daksa menyebut Tanjung Priok. Dua kontainer hilang. Bisnis.
"Tuan, satu hal — kami baru dapat info dari informan kami di pelabuhan. Daksa punya gudang di sana, di dermaga sebelah utara. Tidak terdaftar resmi. Kami pikir itu cuma untuk simpan barang ilegal."
"Itu di sana."
"Tim sudah saya mobilisasi. Sepuluh menit lagi siap berangkat."
"Aku ikut."
"Tuan—"
"Aku ikut, Yudha. Diam dan siapkan."
Razka menutup telepon. Tangannya gemetar — bukan karena takut. Karena marah.
Pelabuhan Tanjung Priok, satu setengah jam kemudian.
Aira terbangun perlahan. Kepalanya berat. Mulutnya kering. Dia berbaring di lantai beton dingin. Tangannya diikat di belakang.
Dia membuka mata. Gudang besar — kontainer-kontainer ditumpuk di sekeliling, lampu industri menggantung dari langit-langit. Bau ikan, oli, dan air laut.
Dia mendongak. Daksa duduk di kursi di hadapannya, kaki disilangkan, merokok. Selena berdiri di sebelahnya, sudah tidak berdandan elegan — sekarang dia mengenakan jaket kulit dan jeans. Tampak sangat berbeda. Lebih nyata.
"Akhirnya bangun," kata Daksa. Dia menjentikkan abu rokoknya. "Maaf soal jarumnya. Bius. Tidak permanen."
"Kenapa?" suara Aira parau.
"Bisnis," jawab Daksa ringan. "Bukan personal. Tapi kau berguna."
"Razka akan datang."
"Aku berharap begitu." Daksa tersenyum. "Itu seluruh rencananya. Razka akan datang sendiri — atau dengan tim kecil — karena dia akan panik. Dia akan masuk gudang ini. Dan di sini, di tempatku, di kondisiku — aku akan menyelesaikan apa yang seharusnya sudah lama selesai."
"Membunuhnya?"
"Mengganti." Daksa berdiri, mendekat. Berjongkok di depan Aira sampai wajah mereka sejajar. "Bukan membunuh — terlalu kotor. Membuatnya menyerah. Membuatnya menukarmu dengan posisi pewaris. Dia akan setuju, karena dia bodoh tentang kamu. Dan kalau dia tidak setuju..." Dia mengangkat bahu. "...maka iya, membunuh."
"Selena," Aira menoleh, "kenapa?"
Selena menatap Aira dengan ekspresi yang lebih kompleks dari yang Aira harapkan. "Karena Razka memilih bisnis lima tahun lalu. Bukan aku. Dan sekarang dia memilih kamu. Dan aku tidak punya tempat di dunia di mana aku tidak memilih atau dipilih."
"Itu bukan alasan."
"Tidak ada alasan yang baik untuk apa pun yang kita lakukan, Sayang. Ini cuma... pilihan."
Aira menundukkan kepala. Dia mendengar suara langkah kaki di kejauhan — penjaga. Dia menghitung di kepalanya: empat. Mungkin lima.
Tiba-tiba — suara tembakan dari luar gudang.
Daksa berdiri, langsung waspada. Selena menarik pistol kecil dari pinggangnya.
"Sudah?" Selena bertanya. "Cepat sekali."
"Razka selalu cepat kalau marah." Daksa tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai matanya kali ini. Ada sedikit ketakutan di sana.
Suara tembakan lagi. Lebih dekat. Suara teriakan.
Aira mendongak. Lampu di langit-langit berkedip sekali, dua kali — lalu mati. Generator. Razka mematikan listrik.
Hanya cahaya bulan dari jendela tinggi dan beberapa flashlight di tangan penjaga yang tersisa.
Daksa mengangkat pistolnya. Menempelkannya ke pelipis Aira.
"Razka!" Daksa berteriak ke kegelapan. "Aku tahu kau di sini! Keluar atau aku tembak istrimu!"
Hening.
Lalu suara — pelan, dingin, dari sudut paling jauh gudang.
"Daksa. Kau tahu apa kesalahan terbesarmu malam ini?"
Daksa membalikkan badan, mengarahkan pistol ke arah suara. "Apa?"
"Kau mengira aku datang sendiri."
Dan kemudian — dari empat arah berbeda — empat tembakan presisi terdengar dalam waktu kurang dari satu detik. Tiga penjaga jatuh. Yang keempat berhasil menembak balik, tapi ditembak juga.
Daksa berbalik panik. Tapi Razka sudah keluar dari kegelapan — berjalan tenang, pistol terangkat, mata tidak berkedip.
"Letakkan pistolnya, Daksa."
"Razka, aku akan tembak dia—"
"Letakkan."
Selena melepas pistolnya, mengangkat tangan. Dia tahu ini sudah selesai.
Tapi Daksa tidak melepas.
(bersambung...)