Pertemuan dijadwalkan di sebuah kafe eksklusif di Menteng — tempat yang ditutup khusus untuk satu meja, satu pertemuan, satu kali. Tiga jam disewa. Satpam di pintu memastikan tidak ada orang lain masuk.
Aira mengenakan dress sederhana — krem, sedikit di atas lutut, dengan blazer hitam. Rambut diikat rendah. Razka mengenakan setelan abu-abu gelap. Tidak ada perhiasan. Tidak ada pernyataan kekuasaan.
Sopir berhenti di depan kafe. Razka membantu Aira turun. Tangannya di pinggangnya — sentuhan yang sekarang Aira ngerti: bukan pertunjukan, tapi koneksi.
"Apa pun yang terjadi di dalam," bisik Razka, "kau di sebelahku. Jangan bicara kecuali ditanya langsung. Setuju?"
"Setuju."
Mereka masuk.
Pak Mahendra Adhitama duduk di meja paling jauh dari pintu — pria di akhir lima puluhan, rambut hitam dengan uban di pelipis, jas Brioni biru gelap, dan tatapan yang sangat tajam. Aira melihatnya, dan langsung mengerti dari mana Razka mendapat matanya.
Tapi di mana mata Razka punya kelembutan tersembunyi, mata ayahnya tidak punya itu. Hanya bisnis.
Daksa duduk di sebelahnya — santai, tersenyum tipis. Dan di sebelah Daksa, Selena. Dress hitam panjang, kalung berlian, senyum yang sopan tapi penuh.
Tiga lawan dua.
Razka berhenti sejenak ketika melihat susunan ini. Aira merasakan otot punggungnya menegang.
"Ayah," kata Razka, menarik kursi untuk Aira. "Aku tidak tahu Daksa dan Selena ikut."
"Selena yang mengusulkan pertemuan ini, Nak," kata Pak Mahendra. Suaranya dalam, terkontrol, seperti suara Razka di versi lebih tua. "Dia juga di sisi kita. Daksa kakakmu — dia berhak ada di pembicaraan keluarga."
"Daksa saudara tiri," Razka mengoreksi pelan tanpa emosi. "Bukan kakak."
Daksa tersenyum tipis. "Tetap saudara, Kak."
Aira duduk diam. Tangannya menggenggam tas kecilnya di pangkuan.
Pelayan datang dengan menu. Mereka memesan kopi. Pelayan pergi.
Pak Mahendra bersandar ke kursinya. "Razka. Saya akan langsung saja. Dewan akan bertemu hari Rabu. Saya akan mengusulkan restrukturisasi: kamu pindah ke posisi pengawas — non-operasional, tapi tetap dalam keluarga. Daksa ambil alih operasi harian. Kamu fokus pada strategi jangka panjang dan portofolio investasi."
"Itu artinya saya kehilangan akses operasional," kata Razka tenang. "Yang artinya, saya kehilangan perlindungan keluarga di lapangan."
"Kamu masih dilindungi. Hanya posisinya beda."
"Ayah. Saya sudah lima tahun memimpin operasi. Kenapa sekarang?"
"Karena kamu menikah dengan saksi pembunuhan."
Hening total.
Aira merasa darahnya turun. Pak Mahendra mengatakannya tanpa berkedip — fakta sederhana yang dia tahu, fakta yang menjadi alasan semua ini.
"Aira istri saya," Razka berkata, suaranya turun jadi dingin. "Dia bukan saksi. Tidak lagi."
"Dia tetap saksi, Nak. Apa pun status pernikahannya. Dan kalau ada yang menangkapnya — yang dengan kemampuan teknik interogasi modern selalu mungkin — dia bisa membahayakan seluruh struktur. Kamu menempatkan keluarga dalam risiko karena keputusan personal."
"Saya akan melindunginya."
"Kamu sudah ditembak," kata Daksa tiba-tiba, dengan senyum yang bukan senyum. "Minggu lalu. Hampir mati. Kalau kamu tidak bisa melindungi diri sendiri, bagaimana melindungi dia?"
Razka menatap Daksa lama. Lalu kembali ke ayahnya.
"Apa pilihan saya, Ayah?"
"Dua pilihan. Satu: kamu setuju restrukturisasi. Aira tetap aman karena keluarga melindunginya dari jauh, tapi dia tidak lagi terkait operasi langsung. Dua: kamu cerai dengan Aira. Kita selesaikan masalah saksi dengan cara lama. Kamu tetap memimpin."
Aira merasa dunianya berputar.
Razka tidak menjawab langsung. Dia menyeruput kopinya dengan tenang. Tatapan dingin yang Aira kenal — tatapan yang dia lihat pertama kali di gang malam itu — kembali ke matanya.
"Tidak ada pilihan ketiga?" tanyanya pelan.
"Tidak ada."
Razka mengangguk pelan. Dia berdiri. Aira berdiri juga, otomatis.
"Saya mengerti, Ayah. Tapi saya tidak mau pilihan satu. Saya tidak mau pilihan dua. Saya akan menemukan pilihan ketiga sendiri."
"Razka—"
"Selamat sore, Ayah. Daksa. Selena."
Razka membalik tubuh. Tangannya di punggung Aira. Mereka berjalan menuju pintu.
Tapi sebelum mencapai pintu, Selena bangkit. "Aira, sebentar. Boleh saya ke toilet bareng? Saya ada yang mau bicara — wanita ke wanita."
Razka menengok ke Aira, pertanyaan di matanya. Aira mengangguk pelan. "Saya cepat."
"Aku tunggu di mobil," kata Razka. Dia menatap Selena sejenak — peringatan. Lalu keluar.
Selena tersenyum, menggandeng lengan Aira. "Mari ke toilet."
Toilet kafe kecil dan elegan. Hanya untuk satu orang. Pintu menutup.
Selena membalik tubuhnya — dan senyum manisnya hilang. Digantikan ekspresi yang dingin dan cepat.
"Maaf," katanya pelan.
Sebelum Aira sempat bertanya, Selena menusuk lehernya dengan sesuatu — jarum kecil dari cincin di jarinya.
Aira merasa kakinya gagal. Tubuhnya jatuh ke pelukan Selena, yang menahannya dengan kekuatan yang tidak diduga.
Pintu toilet terbuka. Daksa di sana, dengan dua orang yang Aira tidak kenal.
"Cepat," kata Selena. "Lewat belakang. Mobil sudah siap."
Sebelum kesadarannya hilang, Aira hanya bisa berpikir satu hal.
Razka. Maaf.
(bersambung...)