Hari Minggu, Aira tidak bisa fokus.
Dia mencoba membaca. Tidak bisa. Dia mencoba memasak dengan Bu Marta. Selalu salah ukur garam. Dia mencoba berlatih piano di ruang musik — sebuah kebiasaan kecil yang dia mulai sejak Razka memberinya buku partitur.
Tidak bisa.
Bayangan Selena terus muncul di kepalanya. Wanita tinggi, anggun, percaya diri. Wanita yang pernah dimiliki Razka. Wanita yang masih mencintainya — dia mengatakan sendiri di balik pintu, idiot. Aku dulu mencintaimu.
Aira tahu itu konyol. Razka sudah tidur dengannya. Razka sudah bilang dia mau mati untuknya. Razka membawanya ke kamar Asha — tempat paling rahasia di hatinya.
Tapi tetap saja. Cemburu adalah kata yang sangat sederhana untuk hal yang sangat tidak sederhana.
Sore harinya, dia duduk di taman dengan teh. Razka pulang dari kantor lebih awal — dia masih pakai jas, dasi sudah dilepas. Dia melihat Aira di taman, lalu mendekat.
"Kau diam sepanjang hari," katanya, duduk di sebelahnya di ayunan. "Apa yang salah?"
"Tidak ada."
"Aira."
Aira menatapnya. Lalu menatap kebun. Lalu kembali menatapnya.
"Apa kamu pernah mencintai Selena?"
Razka berkedip. "Itu pertanyaan yang mendadak."
"Saya cuma mau tahu."
Razka diam lama. Lalu menjawab pelan, "Iya. Dulu. Lima tahun lalu. Kami pacaran dua tahun. Hampir menikah."
"Kenapa tidak jadi?"
"Karena Selena ingin posisi di keluarga Adhitama — bukan aku spesifik. Dia mau jadi nyonya besar. Aku sadar itu agak terlambat. Aku putus dengannya. Dia tidak pernah benar-benar memaafkanku — tapi dia juga tidak sepenuhnya menyalahkanku."
"Dan sekarang dia... datang membantu kamu?"
"Karena dia melihat kesempatan. Kalau aku berhutang padanya, mungkin aku akan mempertimbangkan dia lagi. Atau, kalau tidak, setidaknya dia jadi orang yang penting di jaringanku lagi."
"Kamu... akan?"
"Akan apa?"
"Mempertimbangkan dia lagi."
Razka diam.
Aira menyesal bertanya. Dia menundukkan wajah, malu pada dirinya sendiri.
Lalu tangan Razka memegang dagunya, mengangkat wajahnya. Mata gelap Razka sangat dekat, sangat fokus, dan tidak ada jejak ragu di dalamnya.
"Aira," katanya pelan, "aku sudah pernah punya wanita yang ingin posisi di sebelahku karena nama keluargaku. Aku tidak akan kembali ke itu. Tidak setelah memilikimu."
"Kamu tidak memilikiku sebagai pilihan."
"Aku tahu," dia menarik napas. "Aku tahu aku tidak boleh berkata 'memilikimu'. Tapi yang aku maksud — kau tahu yang aku maksud. Setelah mengenalmu. Setelah... merasakan apa yang aku rasakan ketika kau di sisiku. Aku tidak bisa kembali."
Aira menelan air mata.
"Saya tidak suka dia datang ke sini," akhirnya dia berkata, jujur. "Saya tahu itu egois. Saya cemburu. Saya tidak tahu kenapa saya cemburu — kita ini... pernikahan paksa, awalnya. Saya tidak punya hak."
"Kau punya semua hak," Razka mengoreksi pelan. "Aku istri-suami denganmu di kertas dan sekarang juga di kenyataan. Kau punya semua hak yang istri punya — termasuk hak untuk tidak suka mantan suaminya."
"Suami saya tidak punya hak punya mantan."
Razka tertawa — tawa yang nyata, dalam, yang Aira mulai cintai. "Adil. Akan kuhindari kalau bisa."
"Selena akan datang ke pertemuan dengan ayahmu besok?"
"Iya. Dia yang atur."
"Saya ikut?"
"Tentu. Aku sudah bilang."
Aira mengangguk. Lalu dia mendekat, kepalanya bersandar di bahu Razka. Bau parfumnya — kayu cendana dan sesuatu yang dingin seperti hujan — menjadi kenyamanan baru yang Aira tidak tahu dia butuhkan.
Mereka duduk di ayunan, dalam hening, sampai matahari turun.
Tapi malam itu, Aira tidak bisa tidur. Sesuatu di dalam dirinya — naluri perempuan yang sudah turun-temurun — berbisik bahwa pertemuan besok bukan hanya tentang politik keluarga.
Selena punya rencana sendiri.
Dan rencana itu, entah bagaimana, ada hubungannya dengan Aira.
Jam dua pagi, Aira bangun. Razka tidur lelap di sampingnya, lengannya melingkar di pinggangnya. Aira menatap langit-langit, mendengar napas Razka yang teratur, dan berbisik pada diri sendiri:
"Apa pun yang terjadi besok, saya tidak akan mundur. Saya tidak akan diam. Saya istrinya. Ini suami saya."
Pertama kalinya dia mengatakan kata "suami" tanpa rasa pahit.
Dia memeluk lengan Razka lebih erat, dan akhirnya tertidur.
(bersambung...)