Dua minggu berlalu damai. Lalu Selena muncul lagi.
Bukan di acara cocktail kali ini. Bukan di tempat netral. Dia muncul di gerbang rumah Pondok Indah pada hari Sabtu sore, mengenakan dress hitam dan kacamata hitam, dengan satu tas tangan Hermes dan satu senyum tipis yang Aira sudah belajar untuk tidak percaya.
Pak Yudha menahannya di pintu pagar. "Mbak Selena, Tuan tidak menerima tamu dadakan."
"Bilang ke Razka — Selena di sini. Ada yang harus saya bicarakan dengannya."
"Mbak, kalau perlu janjian dulu—"
"Pak Yudha." Selena melepas kacamatanya. Matanya tajam. "Saya datang sebagai teman lama, bukan musuh. Tapi yang saya bawa — Razka harus tahu. Hari ini. Bilang saja: ini tentang Pak Mahendra."
Pak Yudha terdiam. Dia tahu nama itu — ayah Razka. Hubungan ayah dan anak yang dingin, yang Razka tidak pernah bicarakan.
Dia menelpon Razka. Lima menit kemudian, gerbang dibuka.
Aira mendengar suara mobil dari ruang baca. Dia keluar — penasaran — dan melihat dari jendela depan. Selena sedang turun dari mobil, di sambut Razka di teras. Dari kejauhan, Aira melihat Razka tegang. Tapi dia memeluk Selena — pelukan singkat, formal, seperti yang dilakukan dua kolega lama.
Selena menengok ke jendela. Mata mereka bertemu lewat kaca. Selena tersenyum kecil — senyum yang penuh tantangan — lalu mengikuti Razka masuk ke dalam.
Aira merasa sesuatu yang panas di dadanya. Kecemburuan. Dia membenci namanya. Tapi itu nyata.
Dia berdiri di lorong, mendengar suara Razka dan Selena dari ruang kerja Razka. Pintu tertutup. Tapi suara Selena terdengar tinggi — bukan marah, hanya intens.
"...kau tidak tahu apa yang dia rencanakan, Razka. Kalau kau tidak melindungi dirimu—"
"Aku sudah tahu Daksa bicara dengan ayahku. Aku tidak butuh kau memberitahu."
"Bukan cuma Daksa. Razka, ayahmu sendiri yang mengusulkan."
Hening.
Aira menutup mulutnya. Dia tahu dia menguping, dan dia tahu dia tidak boleh. Tapi dia tidak bisa pergi.
"Apa maksudmu?" suara Razka, dingin.
"Pak Mahendra mengusulkan ke dewan: kau dipindah ke posisi non-operasional. Daksa yang ambil ujung tombak. Kau jadi 'wakil ketua kehormatan'."
"Itu artinya aku dilepas dari kontrol."
"Itu artinya kau dilepas dari segalanya, Razka. Dan kalau kau dilepas, kau tidak punya perlindungan keluarga lagi. Pesaing-pesaingmu akan menerkam kau. Dan istri barumu itu — dia juga tidak akan punya perlindungan."
Hening lagi. Lebih lama.
"Kenapa kau memberitahu aku ini, Selena?" suara Razka pelan.
"Karena aku dulu mencintaimu, idiot." Suara Selena melembut. "Aku tahu kita tidak akan pernah jadi apa-apa lagi. Aku menerima itu. Tapi aku tidak akan diam melihat Daksa dan ayahmu menjebak kau."
"Apa yang kau usulkan?"
"Bertemu ayahmu. Sebelum dewan. Hari Senin. Aku bisa atur."
"Aku akan pikirkan."
"Jangan pikirkan terlalu lama. Kau punya waktu sampai hari Minggu."
Suara langkah mendekat ke pintu. Aira refleks mundur — tapi terlambat. Pintu terbuka, dan dia berdiri di lorong, ketahuan menguping.
Selena menatapnya dengan senyum yang merendah. "Oh. Halo, Sayang. Eavesdropping itu kebiasaan buruk."
Aira menelan rasa malunya. "Maaf. Saya tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa," kata Razka cepat, melangkah keluar. Tangannya menemukan punggung Aira — sentuhan kepemilikan yang Aira sekarang kenal dan sukai. "Selena pulang."
Selena tertawa pelan. "Tentu. Razka, hubungi saya kalau sudah memutuskan." Dia menatap Aira sekali lagi. "Dan Aira — hati-hati. Pria ini punya banyak masalah. Kau di tengah semuanya sekarang."
Selena keluar, sopirnya membuka pintu mobil untuknya. Dia melambai sekali — palsu, manis — sebelum mobil melaju keluar gerbang.
Razka dan Aira berdiri di teras, hening.
"Saya minta maaf," Aira berkata akhirnya. "Saya seharusnya tidak menguping."
"Kau sekarang istriku — yang sebenarnya. Kau punya hak tahu." Razka menarik napas panjang. "Tapi maaf. Aku tidak bermaksud menarikmu lebih dalam."
"Apa benar yang dia bilang? Tentang ayahmu?"
"Mungkin. Mungkin tidak. Ayahku dan aku — kami punya sejarah yang rumit. Sejak ibuku dan Asha meninggal — dia tidak pernah sama lagi. Dan aku juga tidak."
"Kamu akan menemui ayahmu?"
Razka diam lama. Lalu mengangguk pelan.
"Aku harus. Bahkan kalau Selena bohong, aku perlu tahu. Tapi—" dia menatap Aira dengan mata serius, "—kau ikut. Aku tidak meninggalkanmu sendiri di sini lagi. Setelah penyerangan kemarin, tidak ada tempat yang benar-benar aman tanpa aku di sebelahmu."
Aira mengangguk. "Saya ikut."
Razka memeluknya. Aira menyandarkan kepalanya di dada pria itu — dada yang masih membawa perban di sebelah kiri.
Dia tidak tahu kenapa, tapi sesuatu di dalam dirinya berbisik: ini akan menjadi pertemuan yang mengubah segalanya.
(bersambung...)