Tiga hari kemudian, Razka sudah bisa duduk. Lima hari kemudian, dia bisa berdiri. Tujuh hari kemudian, dia berjalan pelan ke teras dengan bantuan Aira.
Mereka tidak banyak bicara tentang yang Aira katakan. Tapi sesuatu sudah berubah — sesuatu yang tidak perlu dibicarakan. Aira pindah pelan-pelan ke kamar yang berdampingan dengan Razka. Mereka makan malam selalu bersama. Aira mulai memanggilnya tanpa "Anda" — dia memanggilnya "kamu" sekarang. Razka memanggilnya "Sayang" sekali, tidak sengaja, dan langsung memerah.
Pada hari kesepuluh setelah penyerangan, dokter Wira datang untuk pemeriksaan terakhir.
"Sudah bisa lepas perban besok," katanya, mencatat. "Tapi jangan angkat barang berat dulu, dua minggu lagi. Dan satu hal, Tuan Razka—"
"Ya?"
"—jangan terlalu banyak aktivitas fisik berat. Apa pun bentuknya." Dokter melirik Aira sebentar dengan senyum tipis dan profesional yang membuat Aira memerah sampai telinga.
Razka tertawa, untuk pertama kalinya benar-benar tertawa. "Mengerti, Dok."
Malam itu, hujan kembali turun. Lembut kali ini — bukan badai. Hanya rintik yang membuat udara berbau tanah dan melati.
Aira sudah selesai mandi, mengenakan piyama satin krem tipis. Dia mengetuk pintu kamar Razka pelan. Sudah malam. Lampu di kamar Razka masih menyala.
"Masuk."
Aira membuka pintu. Razka sedang membaca di tempat tidur, hanya bercelana panjang piyama, tubuh atasnya tidak tertutup. Perban di sisi kirinya. Bahunya — Aira baru sadar — sangat lebar.
Dia menelan ludah, mendekat.
"Tidak bisa tidur?" tanya Razka, meletakkan bukunya.
"Bisa, tapi..." Aira berhenti di pinggir tempat tidur. "Tapi saya tidak mau."
Razka menatapnya. Mata gelapnya — mata yang dulu Aira takuti — sekarang penuh sesuatu yang lain. Hati-hati. Bertanya.
"Aira..."
"Razka," suara Aira pelan tapi tegas, "saya sudah memikirkannya. Lama. Saya tahu apa yang saya minta."
"Kau yakin?"
"Saya yakin."
Razka mengulurkan tangannya. Aira meraihnya, lalu naik ke tempat tidur — pelan, hati-hati pada lukanya. Dia duduk di sebelah Razka, di bawah selimut yang sama.
"Aku tidak boleh banyak bergerak," bisik Razka, dan ada sedikit tawa di suaranya.
"Saya tahu," Aira tersenyum. "Jadi biar saya saja."
Dia mencondongkan tubuhnya, mencium Razka — kali ini bukan ciuman hati-hati seperti di perpustakaan. Kali ini, Aira yang memulai, dengan tangan di dadanya yang hangat. Razka membalas — pelan dulu, lalu lebih dalam — tangannya naik ke rambut Aira.
Mereka berhenti, terengah. Razka menatap Aira dengan mata yang lapar dan penuh.
"Pelan," bisiknya, "kita pelan."
Aira mengangguk.
Dia membiarkan dirinya tenggelam. Bukan ke dalam hasrat saja — meski itu juga ada — tapi ke dalam rasa aman yang anehnya dia rasakan di lengan pria yang dulu menculiknya. Razka menyentuhnya seperti dia adalah sesuatu yang langka. Tangannya tahu di mana harus berhenti, kapan harus pelan, kapan harus menatap mata Aira dan bertanya tanpa kata: oke?
Aira mengangguk, lagi dan lagi.
Hujan di luar makin lebat. Tapi di dalam kamar, dunia menjadi sangat sempit dan sangat penuh — hanya napas, kulit, dan dua orang yang akhirnya berhenti berpura-pura tidak saling membutuhkan.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada janji. Hanya tatap mata, sentuhan, dan kebenaran yang terucap tanpa suara.
Ketika semuanya selesai — pelan, hati-hati, tidak terburu-buru — Aira berbaring di pelukan Razka, kepalanya di dada pria itu yang naik turun pelan. Razka membelai rambutnya dengan satu tangan, tangan yang lain memegang tangan Aira.
"Aira," bisiknya akhirnya.
"Hm?"
"Aku tidak tahu nama untuk apa yang aku rasakan padamu. Tapi aku tahu aku akan mati untuknya."
Aira menutup matanya. Dia mendengar detak jantung Razka di telinganya — detak yang dulu dia takuti, sekarang dia rindukan.
"Saya juga belum tahu namanya," bisiknya. "Tapi saya juga akan mati untuknya."
Mereka tidur seperti itu. Dengan jendela terbuka. Dengan hujan di luar. Dengan tangan yang menggenggam tangan yang lain seperti tidak akan pernah lepas.
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Razka bangun tanpa mimpi tentang Asha tenggelam di kolam.
Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak diculik, Aira bangun tanpa rasa ingin pulang.
Rumah, akhirnya, terasa seperti rumah.
(bersambung...)