Operasi kecil itu dilakukan di kamar tamu, di atas tempat tidur yang sama. Dr. Wira — pria paruh baya dengan tangan tenang yang Aira yakin sudah sering menangani luka tembak — bekerja diam selama dua jam. Bu Marta jadi asisten, menyerahkan instrumen.
Aira tidak menonton. Dia menunggu di lorong, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding, masih dalam piyama berdarah. Tangannya gemetar tidak berhenti.
Pak Yudha datang dengan satu mug kopi panas dan satu selimut. Dia duduk di lantai juga, di samping Aira.
"Tuan kuat, Bu," katanya pelan. "Saya sudah delapan tahun jadi pengawalnya. Saya lihat dia kena luka yang jauh lebih buruk. Selalu sembuh."
Aira mengangguk pelan, tidak bisa berbicara.
"Bu Aira," Pak Yudha melanjutkan setelah jeda, "Anda baru beberapa minggu di sini. Saya tahu Tuan menculik Anda — itu cara dia memperkenalkan diri yang... khas. Tapi saya mau Bu Aira tahu satu hal."
Aira menoleh.
"Saya tidak pernah lihat Tuan memandang siapa pun seperti dia memandang Anda. Bukan Mbak Selena dulu. Bukan siapa-siapa."
Aira menelan ludah. "Bagaimana cara dia memandang saya, Pak?"
Pak Yudha tersenyum tipis. "Seperti dia takut Anda akan hilang."
Aira menundukkan wajah ke lutut, dan menangis lagi — tapi pelan kali ini.
Pintu kamar terbuka. Dr. Wira keluar, lengan kemejanya berdarah, tapi wajahnya tenang.
"Beliau stabil," katanya. "Peluru hanya menembus jaringan, tidak kena organ. Saya jahit. Banyak darah hilang tapi transfusi sudah masuk. Akan istirahat dua minggu. Tidak boleh bergerak banyak hari ini sampai besok."
Aira berdiri, lututnya hampir gagal. "Boleh saya masuk?"
"Tentu, Bu. Dia sadar. Lemah, tapi sadar."
Aira masuk kamar perlahan.
Razka berbaring di tempat tidur, kemejanya sudah diganti dengan kaos longgar putih bersih. Perban tebal di sekitar perut kirinya. Wajahnya pucat tapi matanya terbuka. Ketika dia melihat Aira, sudut bibirnya naik tipis — senyum yang lelah tapi nyata.
"Kau gemetar," katanya, suaranya parau.
Aira duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan Razka. "Saya..." dia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tidak mati."
"Saya tahu."
"Bagus." Mata Razka menutup sebentar. "Tidur. Kau tidak tidur dari jam empat."
"Saya tidur di kursi di sini."
"Aira—"
"Razka," suaranya tegar, "saya tidur di sini. Jangan debat."
Razka menatapnya. Lalu, untuk pertama kalinya, dia tertawa — pendek, lemah, tapi tertawa. "Bossy."
"Belajar dari Anda."
Pagi datang dengan sinar matahari yang lembut. Aira tertidur di kursi di samping tempat tidur, kepalanya bersandar di tepi kasur dekat tangan Razka. Bu Marta yang menutupinya dengan selimut.
Razka terbangun lebih dulu. Dia tidak bergerak — tubuhnya sakit di setiap tempat — tapi dia menatap wajah Aira yang tidur. Rambutnya yang berantakan jatuh menutupi pipinya. Mata yang bengkak karena menangis sepanjang malam. Tangannya yang masih memegang tangan Razka, jari-jari mungilnya yang masih gemetar pelan dalam tidur.
Tuhan, bisiknya dalam hati. Aku tidak pantas.
Hari itu, dia tidak boleh bergerak. Aira yang melakukan segalanya. Menyuapinya bubur ketika dia tidak bisa duduk. Mengganti kompres. Mengambil obat sesuai jadwal dari Dr. Wira. Membantu Bu Marta mengganti seprai. Membaca dengan suara pelan buku 'Cantik Itu Luka' yang Razka pernah suka.
Razka tidak banyak bicara. Tapi matanya — matanya mengikuti Aira setiap kali wanita itu bergerak. Dengan rasa terima kasih. Dengan kelembutan. Dengan sesuatu yang lebih dalam.
Sore harinya, ketika Aira sedang membaca dengan suara pelan, Razka mengangkat tangannya — tangan yang sehat, yang sebelahnya tertahan oleh infus — dan menyentuh rambut Aira.
Aira berhenti membaca.
"Aira."
"Hm?"
"Aku ingat apa yang aku bilang semalam. Sebelum aku ambruk."
Aira menutup bukunya pelan. Dia tidak menatap Razka — dia menatap halaman buku, takut menatap mata pria itu.
"Saya ingat juga."
"Apa jawabanmu?"
Hening lama. Suara jam dinding berdetik pelan. Di luar, burung berkicau di pohon. Bau melati dari taman masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Aira meletakkan bukunya di meja samping. Dia menatap Razka — pria yang seharusnya menjadi penculiknya, suaminya paksa, ancaman terbesar dalam hidupnya. Dan dia tidak bisa lagi menemukan apa pun dari semua itu di wajah pria yang berbaring lemah di hadapannya.
"Saya tinggal," katanya pelan. "Bukan karena terpaksa. Karena saya mau."
Razka menutup matanya. Air mata jatuh dari sudut matanya — pelan, satu butir — dan menggenang di pelipis.
Aira menunduk dan mencium dahinya.
(bersambung...)