Aira lari. Dia tidak menoleh, tidak bertanya, tidak ragu.
Ruang panik berada di belakang lukisan besar di ruang baca lantai satu — Razka pernah menunjukkannya seminggu lalu, "untuk berjaga-jaga". Aira menekan ujung bingkai sesuai instruksi. Lukisan bergeser. Pintu baja terbuka tanpa suara.
Dia masuk. Pintu menutup di belakangnya dengan suara mekanik halus. Lampu otomatis menyala — sebuah ruangan kecil tanpa jendela, dengan satu monitor besar di dinding, dua kursi, dan rak kecil berisi air mineral.
Monitor itu menyala otomatis — menampilkan delapan grid CCTV dari sudut-sudut rumah.
Aira melihatnya: di kamera halaman belakang, dua bayangan bergerak cepat di antara semak. Berseragam hitam. Bersenjata.
Lalu kamera kedua: tiga orang lagi, di sisi timur, memanjat pagar.
Lalu kamera ketiga: dari atap rumah, sniper. Dia sudah dalam posisi.
"Razka," bisik Aira, tanpa sadar, "kabur."
Tapi Razka tidak kabur. Aira melihatnya di kamera koridor — bergerak cepat tapi tenang, pistol di tangan kanan, tangan kiri sedang mengetik sesuatu di ponsel. Memanggil tim. Mengkoordinasi.
Di kamera taman belakang, dua orang berseragam hitam menerobos pintu kaca. Penjaga rumah — Pak Yudha — sudah di sana, menembak duluan. Salah satu penyerang jatuh. Yang lainnya menembak balik. Pak Yudha menghilang di balik tembok.
Tiga orang lagi muncul dari arah samping. Mereka bergerak rapi — bukan amatir, bukan preman jalanan. Profesional.
Aira melihatnya: Razka mencapai ruang tamu. Dia berbalik ke arah lukisan — ke arah Aira di ruang panik — selama satu detik. Matanya menatap kamera. Bibirnya membentuk satu kata yang Aira bisa baca dari mulutnya.
"Aman."
Lalu dia berbalik dan menembak.
Aira menutup matanya. Tapi dia tidak bisa tidak mendengar suara tembakan, satu demi satu, di balik dinding baja yang melindunginya. Pistol dengan peredam yang dimuffler oleh tembok. Suara teriakan. Suara langkah kaki yang berlari.
Lalu — diam.
Aira membuka mata. Dia menatap monitor.
Halaman belakang: tiga mayat dengan seragam hitam. Pak Yudha berdiri, terluka di lengan, masih memegang pistol.
Ruang tamu: dua mayat lagi. Razka berdiri di tengah, pistolnya turun di sampingnya. Napasnya tampak berat di kamera.
Dia menatap ke kamera — ke Aira — lagi. Bibirnya membentuk kata-kata.
"Tunggu lima menit."
Aira mengangguk meski Razka tidak bisa melihatnya. Dia duduk di kursi, gemetar, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lima menit terlama dalam hidupnya.
Akhirnya — ketukan di pintu baja. Suara Razka, pelan tapi jelas: "Aira. Ini aku. Sudah aman."
Aira menekan tombol di samping pintu. Pintu terbuka. Dia keluar.
Dan dia langsung tahu ada yang salah.
Razka berdiri di koridor, tapi tubuhnya bersandar ke dinding. Kemejanya — yang putih beberapa jam lalu — sekarang basah dengan warna merah di sisi kiri perut. Tangannya menekan luka itu, tapi darah masih merembes melalui jari-jarinya.
"Razka!" Aira lari ke arahnya.
"Aku baik-baik saja," bisiknya, tapi suaranya tidak meyakinkan.
"Anda tidak — Anda ditembak — Pak Yudha! Bu Marta! Panggilkan dokter!"
"Dokter sedang ke sini," Razka tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja. Tidak masuk dalam. Cuma menggores."
"Anda bohong. Saya bisa lihat darah—"
"Aira." Razka memegang wajah Aira dengan tangan kirinya yang masih bersih. "Aku baik. Aku—"
Tubuhnya tiba-tiba ambruk.
Aira menangkapnya tepat sebelum dia jatuh ke lantai. Berat tubuh Razka — yang lebih besar dari Aira — hampir membawanya jatuh juga. Tapi dia menahan. Dia harus menahan.
"Razka! Razka, bertahan! BU MARTA!"
Pak Yudha dan Bu Marta berlari dari ujung koridor. Bu Marta menangis tertahan ketika melihat darah. Pak Yudha — yang sendirinya terluka — langsung menelpon seseorang dengan tangannya yang bagus.
"Dr. Wira lima menit lagi sampai," kata Pak Yudha. "Bu Aira, kita pindahkan Tuan ke kamar."
Mereka memindahkan Razka — Pak Yudha dan Aira — ke kamar tamu di lantai satu. Aira tidak ingat bagaimana, tapi tiba-tiba dia sudah duduk di sisi tempat tidur, memegang tangan Razka yang dingin, menatap wajahnya yang pucat, dan menangis tanpa suara.
"Jangan mati," bisiknya. "Razka, jangan mati. Tolong jangan mati."
Mata Razka sedikit terbuka. Lemah. Tapi terbuka.
"Aku... tidak akan mati... sebelum bilang sesuatu padamu, Aira..."
"Diam. Simpan napas. Dokter sebentar lagi."
"Aira..." napasnya pendek, "kalau aku selamat — aku ingin... aku ingin kau tinggal. Bukan karena terpaksa. Karena... kau mau."
Aira menangis. Dia mencium dahi Razka — yang dingin oleh keringat dingin.
"Saya tinggal," bisiknya. "Selamat dulu, baru kita bicara."
Pintu rumah terbuka. Dokter Wira berlari masuk dengan tas medis. Aira mundur, memberinya ruang.
Tapi dia tidak melepas tangan Razka.
(bersambung...)