Aira terbangun jam empat pagi dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
Hujan sudah berhenti. Rumah sunyi. Tapi ada sesuatu — sebuah kegelisahan kecil di tengkuknya, seperti merasakan seseorang menatap meski tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Dia bangkit, mendekati jendela, dan membuka tirai pelan.
Taman bawah gelap. Lampu sorot di sudut menerangi kolam ikan koi. Pohon mangga tua menjulang di sudut paling jauh, daunnya bergetar pelan oleh angin malam.
Di balik pohon itu — sangat sebentar — Aira melihatnya.
Bayangan. Bentuk manusia. Berdiri diam, menatap ke arah rumah.
Lalu hilang.
Aira menutup tirai dengan cepat, jantungnya berdebar liar. Mungkin halusinasi. Mungkin dia hanya kurang tidur. Mungkin angin dan daun yang menipu matanya.
Tapi dia tidak bisa tidur lagi.
Dia turun ke dapur untuk minum air. Lampu lorong dimatikan, hanya lampu temaram dari aplikasi smart-home yang menyala. Saat dia melewati ruang tamu, dia melihat siluet seseorang duduk di sofa, dalam gelap.
Razka. Masih dalam kemeja putih yang sama, tapi sekarang lengan benar-benar digulung sampai siku. Tangan kanannya memegang pistol yang diletakkan di atas pahanya, jari telunjuk di luar pelatuk. Sangat tenang. Sangat siap.
Dia tidak menoleh ketika Aira mendekat — tapi dia sudah tahu Aira di sana.
"Kau juga merasakannya," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Aira berdiri di ambang ruang tamu, kaos tidurnya tipis dan kakinya dingin di marmer. "Saya melihat seseorang di balik pohon mangga. Tadi."
"Aku tahu. Pak Yudha juga melihat. Tim sudah keluar mengecek."
"Anda tidak terkejut."
Razka akhirnya menoleh. Matanya gelap dan sangat fokus, mata seseorang yang sedang menghitung kemungkinan.
"Aku sudah menunggu ini," katanya. "Pertanyaannya hanya kapan dan siapa."
Aira duduk di kursi tunggal di seberang Razka. Lututnya gemetar — entah karena dingin, entah karena takut. "Daksa?"
"Daksa adalah kemungkinan. Tapi bukan satu-satunya. Pak Edwin yang mati di gang punya banyak teman. Salah satunya — Pak Sembiring — sudah keluar dari Bali tiga hari lalu, dan kami kehilangan jejaknya tadi sore."
"Anda... memantau orang seperti itu?"
"Aira," Razka menatap dia dengan kelembutan yang aneh, "ini hidup yang kau masuki ketika kau menandatangani surat itu. Aku bukan investor. Aku bukan pebisnis biasa. Aku menjalankan satu hal yang besar dan sangat jahat, dan ada banyak orang yang ingin aku mati. Sekarang ada banyak orang yang juga ingin kau mati — karena kau aku, dan aku kau."
Aira menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa dia sadari.
"Kenapa Anda menariknya saya ke dalam ini?"
"Aku tidak menariknya kau," Razka menjawab pelan, "tapi aku juga tidak melepaskanmu ketika punya kesempatan. Aku bertanggung jawab. Aira — tatap aku."
Aira mengangkat wajahnya. Razka meletakkan pistol di meja, lalu bangkit dari sofa. Dia berjalan mendekat — perlahan, seperti pendekatan ke binatang yang takut — dan berlutut di depan kursi Aira.
"Aku akan membuatmu aman," katanya, suaranya rendah dan pasti. "Bukan janji kosong. Aku punya tiga puluh orang yang siap mati untukku, dan mereka akan mati untukmu juga, karena aku perintahkan. Tapi aku perlu kau juga mendengarkanku dalam beberapa hal."
"Apa saja?"
"Mulai sekarang, kau tidak tidur di kamarmu sendiri. Bukan di kamarku — di kamar tamu di lantai satu, dekat ruang panik. Setiap kamar di rumah ini punya pintu rahasia, dan kamar tamu yang terdekat dengannya."
"Anda... ada ruang panik di rumah?"
"Aira, aku punya tiga." Senyumnya tipis dan getir. "Salah satu kebutuhan profesi."
Aira mengangguk pelan, menelan ketakutannya. "Apa lagi?"
"Kalau aku bilang 'lari', kau lari. Tidak menoleh. Tidak menunggu. Lari. Jelas?"
"Jelas."
Razka menatapnya lama. Tangannya — yang biasanya kuat dan dingin — terangkat dan mengusap pipi Aira, menghapus air mata yang sudah jatuh. Sentuhan itu sangat lembut. Sangat berbeda dari pria yang menarik pelatuk di gang malam itu.
"Aku menyesal kau di sini," bisiknya. "Tapi aku tidak menyesal kau hidup."
Aira meraih tangan Razka, menahannya di pipinya. Dia menutup matanya. Untuk sesaat, dunia hanya berhenti — hanya ada sentuhan kulit dengan kulit, dan napas mereka berdua di ruang gelap.
Lalu — dari taman belakang — terdengar suara kaca pecah.
Razka melonjak berdiri dalam sepersekian detik. Pistol kembali di tangannya. Matanya sudah berubah — bukan lagi mata pria yang baru saja mengusap pipi istrinya. Mata predator.
"Aira," katanya tegas, "lari. Sekarang. Ke ruang panik."
(bersambung...)