Suara riuh dan jeritan memilukan masih bergema di seluruh penjuru aula, namun bagi Arsen, seluruh suara itu perlahan lenyap, menyisakan hanya detak napas istrinya yang makin lemah dan samar di pelukannya.
Arsen mendekap tubuh Arilla semakin erat, seakan kehangatan pelukannya saja mampu menahan nyawa wanita itu agar tak terbang menjauh. Darah terus merembes membasahi gaun putih pengantin yang kini berubah pekat dan mengerikan, menetes perlahan di antara celah jari-jari tangan Arsen yang gemetar tak henti.
“Arilla… Kumohon… bertahanlah… Bantuan segera datang… Dokter sebentar lagi sampai…” Arsen berucap dengan suara parau dan terputus-putus, matanya basah berair menatap wajah pucat yang masih berusaha tersenyum di hadapannya.
“Kau tak boleh pergi… Kita baru saja bersatu… Kau berjanji menua bersamaku…”
Arilla berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa begitu berat. Cahaya di matanya mulai meredup, namun pandangannya tetap tertuju lembut dan penuh kasih sayang kepada pria yang menjadi suaminya.
Napasnya tersengal-sengal pendek, setiap kali ia menarik napas seakan terasa tajam menyakiti dadanya, namun bibirnya tetap berusaha tersungging senyum yang begitu tulus dan lembut.
Jari-jemarinya yang dingin perlahan terangkat, bergetar hebat menyentuh pipi Arsen, menyeka sisa air mata dan darah yang membasahi wajah pria itu dengan selembut mungkin.
“Arsen…” suaranya begitu pelan, nyaris berbisik, namun terdengar begitu jelas di telinga Arsen seakan bergetar seirama dengan detak jantungnya.
“Lihatlah aku… biarkan aku… mengingat wajahmu… untuk terakhir kalinya…”
“Tidak! Tak ada yang terakhir! Kau akan pulih! Kita akan menjalani hidup yang panjang bersama!” Arsen menahan tangan itu di pipinya, mencium telapak tangan yang dingin berulang kali, air mata jatuh membasahi punggung tangan Arilla.
“Kau tak boleh pergi! Aku melarangmu mendahuluiku!”
Arilla tersenyum tipis, darah segar perlahan menetes dari sudut bibirnya yang pucat. Ia menggeleng pelan, sekuat tenaga berusaha menatap mata Arsen dengan sisa kekuatan yang masih tersisa.
“Dengarkan aku… sayang… Waktuku sudah habis… Tak ada yang bisa menahan takdir Tuhan…” Jemarinya meremas pelan telapak tangan Arsen, seakan ingin mewariskan seluruh keberanian dan ketabahan yang ia miliki kepada pria itu.
“Aku pergi… dengan hati yang penuh kasih… tak ada rasa benci… tak ada rasa takut…”
Napas Arilla terhenti sejenak, dadanya terangkat berat lalu turun perlahan. Matanya berkaca-kaca namun tak ada air mata yang jatuh, hanya pancaran cinta yang begitu dalam dan tulus. Bibirnya bergetar pelan, menyampaikan kata-kata terakhir yang terucap begitu lembut namun terasa menghancurkan hati Arsen berkali-kali lipat lebih sakit daripada luka yang mengoyak d**a wanita itu sendiri.
“Ikhlas kan aku pergi…”
Kalimat itu terucap begitu tenang, begitu ringan, seakan melepaskan sehelai daun yang jatuh ke tanah, bukan melepaskan separuh jiwanya yang masih terikat erat dengan cinta yang baru saja bersemi.
Arilla mengucapkannya tanpa rasa pahit, tanpa rasa takut, sepenuhnya ikhlas menerima kehendak takdir yang merenggutnya di hari paling bahagia dalam hidupnya.
Arsen menatapnya terpaku, hatinya terasa tercabik-cabik hingga tak mampu bernapas.
“Mengapa… mengapa kau berkata begitu… Bagaimana mungkin aku ikhlas melepaskanmu… kau adalah separuh jiwaku…” suaranya pecah kembali, tubuhnya gemetar hebat menahan isak tangis yang nyaris meledak.
“Kau pergi membawa seluruh kebahagiaanku… Apa yang tersisa untukku di dunia ini tanpamu?”
Arilla masih tersenyum, jemarinya perlahan bergerak menyentuh d**a kiri Arsen tepat di atas jantungnya yang berpacu liar penuh keputusasaan.
“Di sini… aku tetap tinggal… di hatimu… aku tak pernah pergi… Ingatlah… cinta kita… tak akan dipisahkan… oleh apa pun… bahkan oleh maut sekalipun…”
Matanya perlahan mulai meredup, namun tatapannya tetap lembut dan penuh doa yang tulus.
“Ikhlas kan aku pergi… Lepaskanlah… dengan senyuman… jangan biarkan hatimu… tertutup kesedihan dan dendam… Berjanjilah padaku… kau akan hidup… bahagia…”
“Aku tak bisa! Aku tak bisa berjanji begitu!” Arsen menggenggam erat tangan Arilla yang mulai terasa dingin, menempelkannya ke pipi basahnya, menatap wajah istrinya dengan pandangan tak rela yang menyayat hati.
“Bagaimana aku bisa bahagia tanpamu?! Bagaimana aku bisa tersenyum bila kau tak lagi di sisiku?!”
Arilla menarik napas terakhirnya yang panjang dan lemah, matanya menatap Arsen sekali lagi dengan penuh cinta yang tak terlukiskan.
“Ikhlas kan aku pergi… Kumohon… bahagialah…”
Genggaman tangannya perlahan melemah dan terlepas dari pipi Arsen, jatuh tak berdaya ke samping. Kepalanya terkulai lemah ke samping, senyum terakhirnya tetap membeku di bibir, senyum keikhlasan, senyum cinta yang tak pernah menuntut balas, senyum pengorbanan yang begitu mulia.
Cahaya di matanya telah padam selamanya, namun ketenangan dan kelembutan yang terpancar dari wajahnya tak akan pernah hilang dari ingatan Arsen seumur hidupnya.
“ARILLAAAAA!!!”
Jeritan Arsen membelah keheningan yang mencekam, bergema menyayat hati di seluruh ruangan. Ia memeluk erat tubuh istrinya yang perlahan mulai dingin dan kaku, menempelkan wajahnya ke d**a Arilla berharap masih bisa mendengar detak jantungnya.
Namun keheningan yang menyambutnya begitu sunyi dan menyakitkan. Tak ada lagi suara napas lembutnya, tak ada lagi jemarinya yang mengusap wajahnya dengan penuh kasih sayang.
Yang tersisa hanyalah keheningan yang dingin dan kata-kata terakhirnya yang terus berputar berulang-ulang di kepala Arsen bagai belati yang menyayat hati tanpa henti.
"Ikhlas kan aku pergi… Ikhlas kan aku pergi…"
Kata-kata itu terus bergema di telinganya, terasa begitu lembut namun sekaligus begitu berat menindih dadanya. Arilla pergi dengan penuh keikhlasan, memintanya untuk melepaskan dan hidup bahagia. Namun bagaimana mungkin ia bisa ikhlas melepaskan wanita yang baru saja menjadi seluruh hidupnya?
Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum bahagia bila wanita itu direnggut secara kejam dan keji oleh tangan manusia yang tak diketahuinya?
Arsen mendongak perlahan, wajahnya basah oleh air mata dan darah. Matanya yang tadi penuh cinta dan kelembutan kini berubah tajam dan menyala diliputi amarah yang sedalam samudera.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan, hingga kembali terhenti sejenak di arah pojok ruangan tempat Arthur dan Fabio berdiri. Namun sosok Arthur telah pergi, menyisakan Fabio yang masih berdiri terpaku gemetar menatapnya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca penuh ketakutan serta rasa bersalah yang nyata.
Di detik itu, di tengah kepedihan yang melanda jiwanya, Arsen menyadari sesuatu yang begitu pahit namun nyata. Arilla pergi dengan ikhlas dan memintanya agar ikhlas pula.
Namun keikhlasan Arilla tak berarti kejahatan yang merenggut nyawanya dibiarkan begitu saja tanpa balas. Arilla memintanya hidup bahagia, namun ia tak akan pernah bisa benar-benar bahagia sebelum kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan atas darah suci yang tertumpah hari ini.
Arsen kembali menatap wajah tenang Arilla di pelukannya, mengecup keningnya yang mulai dingin perlahan dan penuh hormat. Dengan suara yang bergetar namun penuh keteguhan yang tak tergoyahkan, ia berbisik pelan hanya untuk telinga istrinya yang telah pergi.
“Aku melepaskanmu dengan penuh cinta, Arilla… Aku ikhlas melepaskan ragamu pergi kembali kepada Penciptamu… Namun ketahuilah… hatiku tak akan pernah ikhlas melepaskan kejahatan yang telah merenggutmu secara kejam… Aku akan menepati separuh permintaanmu, aku akan tetap hidup dan berjuang… namun hidupku mulai hari ini adalah milik kebenaran dan keadilan atas namamu… Istirahatlah dengan tenang, cintaku… Aku bersumpah, darahmu tak akan pernah sia-sia…”
Arsen menutup mata Arilla perlahan, lalu mendekapnya sekali lagi erat di pelukannya, seakan ingin menyatukan jiwanya dengan jiwa Arilla yang baru saja terbang meninggalkan raganya. Di dalam hatinya, di balik duka yang mendalam dan cinta yang tak akan pernah pudar, tumbuh satu tekad bulat yang tak akan pernah goyah oleh apa pun.
Ia akan mencari siapa pelakunya, ia akan mengungkap segala kebenaran yang tersembunyi, dan ia akan memastikan keadilan ditegakkan seadil-adilnya. Demi Arilla, demi cinta mereka, dan demi keikhlasan yang dipersembahkan wanita itu di detik terakhir napasnya.