Waktu seakan terhenti berputar di detik itu. Saat bunyi derit besi yang putus terdengar nyaring di udara, di saat cahaya kristal yang tadi berkilau indah kini meluncur deras bagai benda maut yang menghantam dari ketinggian, Arilla tak berpikir dua kali.
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri, seketika itu pula ia mendorong Arsen sekuat tenaga ke samping, menjauh dari titik jatuhnya benda berat itu. Gerakannya begitu cepat, begitu tulus, seakan seluruh kekuatan hidupnya dicurahkan hanya untuk satu tujuan, menyelamatkan nyawa pria yang baru saja menjadi suaminya.
Arsen terdorong terpelanting jatuh ke lantai marmer yang keras, bahunya terasa perih dan nyeri, namun nyawanya selamat. Sebelum ia sempat bangkit dan menyadari apa yang terjadi, dentuman dahsyat memekakkan telinga bergema menggetarkan seluruh ruangan.
Lampu hias kristal seberat sepuluh kilogram itu menghantam lantai tepat di tempat mereka berdansa sejenak sebelumnya, menimpa tubuh Arilla yang kini berdiri di sana menggantikan posisi Arsen.
Pecahan kristal berhamburan ke segala arah, berkilauan tajam bagai ribuan kepingan belati, sementara bingkai besi berat itu menindih tubuh mungilnya hingga terjatuh tak berdaya di tengah tumpukan puing-puing yang mengerikan.
“ARILLA!!!”
Jeritan Arsen meledak membelah keheningan yang seketika menyelimuti aula. Ia melompat bangkit, tak memedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan merangkak dengan tangan gemetar mendekati tempat istrinya terkapar.
Darah segar mulai merembes deras dari bawah tumpukan besi dan kristal, membasahi gaun putih bersih pengantin yang tadi begitu cantik dan suci, kini perlahan berubah merah pekat yang mengerikan.
“TOLONG!!! PANGGILKAN BANTUAN MEDIS!!! CEPAT!!! ADA YANG TOLONG PANGGILKAN DOKTER!!!”
teriak Arsen sekuat tenaga, suaranya pecah dan parau menyayat hati.
Tangannya bergetar hebat saat berusaha menyingkirkan pecahan kristal dan bingkai besi yang menindih tubuh Arilla, tak peduli telapak tangannya tergores dalam dan berdarah.
Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada wanita yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
“Arilla! Lihat aku! Kumohon buka matamu! Bantuan segera datang! Kau akan selamat! Bertahanlah!”
Arsen berhasil mengangkat sebagian beban yang menindih tubuh itu dan menarik Arilla ke dalam pelukannya. Wajah Arilla pucat seputih kertas, darah mengalir deras dari pelipis dan dadanya, membasahi telapak tangan Arsen yang gemetar tak berhenti.
Matanya masih terbuka samar, napasnya tersengal berat dan pendek, namun pandangannya tetap tertuju penuh kasih sayang kepada pria di hadapannya.
“Arsen…” suaranya lemah nyaris tak terdengar, bibirnya bergetar menahan rasa sakit yang luar biasa. “Kau… selamat… syukurlah…”
“Mengapa kau melakukannya?! Mengapa kau menggantikan tempatku?!” Arsen menjerit pilu, mendekap tubuh berdarah itu semakin erat seakan ingin memindahkan kehangatan hidupnya ke tubuh istrinya.
“Seharusnya aku yang terluka! Seharusnya benda itu menimpaku! Mengapa kau berkorban untukku?! Kumohon bertahanlah… Jangan tinggalkan aku…”
Kekacauan melanda seketika di seluruh penjuru aula. Jeritan histeris meledak dari arah kursi kehormatan tempat duduk kedua keluarga.
Nyonya Lusiana, ibu Arilla, seketika limbung dan jatuh berlutut di lantai, tubuhnya gemetar hebat seakan hendak pingsan. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat tanpa secercah harapan.
“ANAKKU!!! PUTRIKU!!!” jeritnya memilukan, berusaha berlari mendekat namun kakinya tak sanggup menopang tubuhnya.
Tuan Andre, ayah Arilla, merangkul erat bahu istrinya untuk menahan agar tak jatuh sepenuhnya, namun wajahnya sendiri tampak layu dan pucat. Matanya menatap putri tunggalnya yang terbaring berdarah di pelukan menantunya, tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga buku jarinya memutih, menahan rasa sakit dan amarah yang nyaris meruntuhkan kesabarannya sebagai seorang ayah.
Andre Johnson adalah mitra bisnis sekaligus sahabat karib Tuan Satya selama puluhan tahun, namun saat itu tak ada ikatan persahabatan yang mampu meredam pedihnya hati seorang ayah yang menyaksikan anak kesayangannya terluka parah.
Tuan Satya dan Nyonya Sevila segera bergegas mendekat, wajah mereka pucat pasi dan basah oleh air mata. Nyonya Sevila menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis yang tak mampu lagi dibendung, dadanya sesak menyaksikan penderitaan putra sekaligus menantunya yang baru saja resmi menjadi bagian dari keluarganya.
Tuan Satya, pria yang dikenal teguh dan berwibawa di mana pun ia berada, kini tampak goyah tak kalah dari yang lain. Ia segera memberi perintah kepada para petugas keamanan yang berlari mendekat, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegas:
“Segera bersihkan jalan! Ambulans sudah menunggu di bawah! Cepat bawa dokter ke sini sekarang!”
Gavin dan Ryan, kedua adik Arsen, ikut berlari mendekat dengan wajah pucat dan penuh ketakutan. Ryan tak kuasa menahan air matanya, berdiri terpaku di samping kakaknya sambil sesekali menyeka air mata yang terus jatuh, tak berani menyentuh seakan tak layak mengganggu kebersamaan terakhir yang menyakitkan itu.
Gavin berusaha tetap tenang, membantu menyingkirkan pecahan kaca yang berbahaya, namun keringat dingin bercampur air mata mengalir di wajahnya. Ia menatap Arilla yang terbaring lemah dengan pandangan tak percaya, wanita yang tadi tersenyum begitu cantik dan bahagia kini terbaring berdarah di pelukan kakaknya.
Arilla berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. Jari-jemarinya yang dingin dan gemetar terangkat perlahan, menyentuh wajah Arsen yang basah oleh air mata dan darah.
“Jangan… menangis…” ucapnya pelan, napasnya makin berat dan tersengal.
“Aku… ikhlas… asal… kau selamat…”
“Tak ada yang akan kulakukan tanpamu! Kumohon bertahanlah!” Arsen mencium kening dan wajah pucat istrinya berulang kali, menatapnya dengan pandangan penuh keputusasaan yang mengerikan.
“Kita baru saja bersatu… Kau berjanji menemaniku seumur hidup… Jangan pergi, Arilla! Kumohon jangan tinggalkan aku!”
Napas Arilla makin melemah, dadanya perlahan berhenti bergerak naik turun. Matanya yang mulai sayu menatap wajah Arsen untuk terakhir kalinya, bibirnya bergerak pelan menyampaikan pesan terakhir yang begitu lembut namun menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
“Ikhlaskan… aku pergi… Jangan… bersedih… hiduplah… bahagia…”
Jari-jemarinya perlahan terlepas dari pipi Arsen, jatuh tak berdaya ke samping. Kepalanya terkulai lemah di d**a suaminya. Cahaya di matanya perlahan lenyap, digantikan keheningan yang abadi.
Senyum tipis masih tersungging di bibirnya — senyum pengorbanan cinta sejati yang tak pernah mengenal pamrih, bahkan hingga nyawa terakhirnya.
“ARILLAAAAA!!!” Jeritan Arsen mengguncang seluruh ruangan, bergema menyayat hati di antara tumpukan pecahan kristal dan tangis keluarga yang tak henti-henti.
Ia mendekap tubuh istrinya yang kini mulai dingin dan kaku, mengguncang perlahan berharap wanita itu akan kembali membuka mata dan tersenyum seperti biasanya.
Namun kali ini, Arilla telah pergi untuk selamanya. Ia pergi dengan cara yang paling mulia, mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa pria yang dicintainya.
Di tengah lautan tangis, kepanikan, dan ratap yang melanda seluruh aula, di saat setiap wajah yang hadir tampak pucat, berduka, dan basah oleh air mata, terdapat dua sosok yang berdiri tenang terpisah dari kerumunan, di sudut ruangan yang agak gelap di balik tiang penyangga besar.
Mereka menatap pemandangan mengerikan di tengah lantai dansa itu, namun pandangan dan ekspresi yang terpancar dari wajah mereka begitu berbeda, begitu kontras, seakan mereka bukan sedang menyaksikan kehancuran yang menyedihkan melainkan sesuatu yang lain sama sekali.
Arthur Lorenzo berdiri tegak dengan tenang yang mengerikan. Kedua tangannya melipat rapi di depan perut, tubuhnya lurus dan tak sedikit pun tampak goyah. Wajahnya tampak datar, tak ada kerutan di dahi, tak ada air mata di sudut matanya, bahkan tak ada bayangan kesedihan yang sekadar pura-pura pun tak tampak.
Matanya yang tajam dan gelap menatap lurus ke arah Arsen yang sedang memeluk erat mayat istrinya dengan penuh keputusasaan. Di kedalaman matanya yang dingin itu, samar-samar terpancar kilatan kepuasan yang sulit disembunyikan.
Bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus, sesekali melirik sekilas ke arah pengait besi yang putus dan tergeletak tak jauh dari sana seakan memastikan sesuatu, lalu kembali menatap ke arah tengah ruangan dengan senyum tipis yang tak pernah sampai ke matanya, senyum yang begitu dingin, begitu berbahaya, seakan ia sedang melihat hasil rencananya berjalan sempurna sesuai harapan.
Di samping Arthur, berdiri adiknya, Fabio Lorenzo. Tubuhnya tampak gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisnya meskipun ruangan itu terasa sejuk. Wajahnya pucat tanpa secercah darah, matanya membelalak tak lepas dari tubuh Arilla yang terbaring diam di pelukan Arsen. Matanya berkaca-kaca, air mata jatuh berderai tanpa henti membasahi pipinya.
Di matanya terpancar duka yang mendalam, keputusasaan, dan ketakutan yang nyata. Bibirnya bergerak-gerak pelan seakan ingin memanggil nama Arilla, namun tak satu pun kata yang mampu melolos dari kerongkongannya yang tercekat.
Ia menatap Arilla berulang kali, lalu menoleh ke arah kakaknya dengan pandangan penuh tanda tanya dan ketakutan yang tak sanggup ia sembunyikan, seakan ingin bertanya apakah semua ini benar-benar terjadi dan mengapa harus berakhir dengan kematian wanita itu.
Rasa bersalah yang mendalam menyergap dadanya, menindihnya berat seakan ikut tertimpa benda itu bersama Arilla.
Arthur seakan menyadari tatapan penuh pertanyaan dan ketakutan dari adiknya. Perlahan ia menoleh ke arah Fabio, menatap sekilas dengan pandangan tajam yang seakan memberi peringatan tegas agar tetap diam dan menahan diri.
Tatapan itu begitu dingin dan mengancam sehingga Fabio tersentak seketika, menelan ludah dengan susah payah dan segera membuang muka, menunduk menatap lantai tak berani lagi menatap mata kakaknya.
Tubuhnya masih terus gemetar, tangannya saling meremas erat di balik punggung, berusaha menahan isak tangis yang nyaris meledak.
Arthur kembali menatap ke arah tengah ruangan, menatap Arsen yang masih mendekap erat mayat istrinya dengan pandangan penuh amarah dan janji balas dendam yang perlahan mulai menyala.
Bibirnya perlahan tersungging senyum tipis yang mengerikan, seakan puas melihat kehancuran yang kini menimpa pria itu. Lalu perlahan, tanpa menarik perhatian siapa pun, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan sudut gelap itu, menyisakan Fabio yang masih berdiri terpaku gemetar di tempatnya, menatap punggung kakaknya yang menjauh lalu kembali menatap tubuh Arilla dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Di lantai dansa yang berlumuran darah dan pecahan kristal itu, Arsen seketika menyadari keberadaan mereka. Sekilas pandangannya sempat tertangkap sepasang mata dingin Arthur yang menatapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun, sebelum pria itu berbalik pergi.
Di detik itulah, di tengah kepedihan yang nyaris merenggut kesadarannya, kesadaran pahit itu merembes masuk perlahan namun pasti ke dalam sanubarinya. Kejatuhan lampu itu bukanlah kecelakaan. Arilla mati mengorbankan nyawanya sendiri, menjadi korban tak berdosa dari kejahatan yang seharusnya menimpa dirinya.
Dan di balik semua itu, ada tangan manusia yang telah merencanakannya dengan sengaja. Serta-merta rasa sakit berubah menjadi bara api pembalasan dendam yang menyala-nyala di dadanya.
Arsen menatap ke arah pintu tempat Arthur menghilang, lalu kembali menatap wajah tenang Arilla di pelukannya, dan di dalam hatinya yang hancur itu, ia bersumpah tak akan pernah berhenti hingga kebenaran terungkap sepenuhnya dan darah Arilla dibalas dengan keadilan yang setimpal.