Tanah merah yang baru saja digaruk kini menutup rapat liang lahat itu, memisahkan raganya Arilla dari dunia yang kini terasa sepi dan kelabu tanpa kehadirannya.
Hening yang mencekam menyelimuti pekuburan keluarga di atas bukit itu. Rangkaian bunga melati putih yang menjadi kesukaan Arilla telah tersusun rapi di atas gundukan tanah yang masih tampak segar, harumnya perlahan terbawa angin lembut yang berhembus menyapu rambut dan pakaian para pelayat yang masih berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca.
Upacara pemakaman telah selesai. Doa terakhir telah terpanjatkan. Segenap kerabat dan tamu undangan perlahan mulai beranjak pergi, melangkah gontai membawa duka yang mendalam, meninggalkan tempat itu dengan berat hati.
Namun Arsen tetap berdiri di sana. Kakinya terasa berat bagai tertanam di tanah, seakan ia telah menyatu dengan bumi yang kini memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu. Ia tak ingin melangkah pergi. Ia tak sanggup beranjak menjauh dari tempat terakhir di mana Arilla beristirahat.
Tuan Satya mendekat perlahan, meletakkan tangannya yang berat namun penuh kasih sayang di bahu putranya yang berdiri tegak namun tubuhnya terguncang hebat menahan isak tangis yang nyaris meledak.
“Arsen… Nak… Upacara telah selesai. Mari kita pulang…” suaranya terdengar parau dan bergetar, berusaha menahan kepedihan yang meluap di dadanya sendiri.
“Arilla telah beristirahat dengan tenang. Ia pasti tak ingin melihatmu berdiri di sini terlalu lama dalam kesedihan yang tak bertepi.”
Arsen tak menoleh. Matanya tetap tertuju lekat-lekat pada gundukan tanah merah di hadapannya, pandangannya kosong namun memancarkan keputusasaan yang tak terlukiskan.
“Pulang, Ayah…” gumamnya pelan, suaranya pecah dan nyaris tak terdengar di tengah hembusan angin sepoi-sepoi.
“Ke mana lagi aku bisa pulang, jika bukan ke sisinya? Rumah itu terasa asing dan sepi tanpa tawanya, tanpa senyumnya, tanpa suara lembutnya memanggil namaku… Di sini… di tepi makamnya… aku merasa seakan ia masih berdiri di sampingku… tersenyum lembut seperti biasanya…”
Nyonya Sevila mendekat dengan mata basah yang bengkak, air matanya kembali jatuh membasahi pipi melihat putranya yang tampak hancur lebur tak berdaya.
“Arsen… Ibu mohon… Jangan menyiksa dirimu seperti ini… Arilla telah tenang… Percayalah, jiwanya bahagia di sisi Tuhan… Ia pasti ingin melihatmu tetap kuat dan melanjutkan hidup…”
“Melanjutkan hidup…” Arsen mengulang kata itu pelan, penuh kepahitan yang mendalam.
“Bagaimana mungkin aku melanjutkan hidup, Ibu… ketika separuh jiwaku telah ikut tertimbun di dalam sana… Ketika setiap sudut rumah, setiap benda, setiap kenangan… semuanya mengingatkanku padanya… Lebih baik aku tetap di sini… Di tempat di mana ia beristirahat… Di sini aku bisa mengenangnya tanpa harus berpura-pura kuat di hadapan siapa pun…”
Nyonya Lusiana, ibu Arilla, mendekat sambil menyeka air matanya yang terus mengalir. Ia memeluk bahu Arsen dengan penuh kasih sayang dan belas kasih.
“Anakku… Aku mengerti betapa berat hatimu… Aku pun merasakan hal yang sama… Namun kau harus pulang… Jangan menambah beban hatimu dengan berdiri sendirian di sini…”
Arsen menatap wajah wanita yang melahirkan kekasihnya itu dengan pandangan yang penuh rasa sakit namun juga penuh keteguhan hati.
“Ibu… izinkan aku tinggal sebentar lagi… Hanya aku dan Arilla… Aku ingin berbicara dengannya… Aku ingin mengenang hari-hari indah yang telah kami lalui bersama… Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku…”
Melihat keteguhan hati Arsen yang tak tergoyahkan, akhirnya seluruh keluarga menyadari bahwa tak ada daya yang mampu membujuknya pergi saat itu. Dengan berat hati dan terus menoleh ke belakang, mereka pun melangkah perlahan meninggalkan pekuburan, menyisakan Arsen sendirian di tepi makam kekasih hatinya.
Kini ia benar-benar sendirian. Hanya dirinya, gundukan tanah merah, dan keheningan lembut yang menyelimuti bukit itu.
Arsen perlahan berlutut di tepi makam, menyentuh permukaan tanah yang masih lembap itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Matanya berkaca-kaca menatap nama Arilla yang terukir indah di batu nisan, dan perlahan-lahan, bayangan wajah kekasihnya serta kenangan manis yang pernah mereka lalui mulai melintas hidup kembali di benaknya, seakan waktu berputar kembali ke masa- masa yang begitu indah dan membahagiakan.
Ia teringat pertama kali mereka bertemu. Di sebuah pesta tahunan perusahaan, di malam yang penuh keramaian, di tengah kerumunan orang yang berbusana mewah, matanya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata yang jernih dan lembut itu. Senyum yang tersungging di bibir Arilla saat itu seakan menyapu bersih seluruh kelelahan dan kesepian yang selama ini ia rasakan.
Sejak hari itu, tak ada satu pun hari yang berlalu tanpa bayangan wajah wanita itu. Setiap pertemuan terasa begitu singkat namun begitu berharga, setiap percakapan terasa begitu hangat dan menenangkan hati.
Ia teringat saat Arilla berjalan bersamanya di taman kota yang indah, di bawah rimbunan pohon yang rindang dan diiringi kicauan burung yang riang. Saat itu Arilla bercerita dengan mata berbinar penuh harapan tentang impian-impiannya, tentang keinginannya membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang dan kehangatan.
Arsen menatapnya saat itu dengan hati yang berdebar kencang, berjanji dalam hati akan memberikan dunia dan segala isinya kepada wanita yang begitu tulus dan murni hatinya itu.
Ia teringat tawa renyah Arilla yang terdengar begitu merdu, senyumnya yang selalu mampu mengusir segala kesedihan, dan kelembutan hatinya yang tak pernah lelah memberi kasih sayang kepada siapa pun tanpa pamrih.
Ia teringat saat ia melamarnya. Di bawah sinar rembulan yang terang benderang di teras rumah Arilla , rumah keluarga Johnson, di hadapan kedua orang tua mereka, Arsen menggenggam tangan Arilla dan memintanya menjadi pendamping hidup seumur hidup.
Arilla tersenyum bahagia, matanya berbinar penuh air mata kebahagiaan, dan mengangguk lembut menerima lamarannya. Saat itu Arsen merasa dirinya adalah pria paling beruntung di seluruh dunia. Ia berjanji akan menjaganya, menyayanginya, dan tak akan pernah menyakiti hatinya sekalipun.
Ia teringat masa-masa menjelang pernikahan. Setiap hari terasa begitu berharga dan penuh sukacita. Arilla begitu ceria, begitu bersemangat menyiapkan segala hal kecil demi hari bahagia mereka. Ia selalu tersenyum lebar, matanya bersinar penuh cinta dan harapan akan masa depan. Arsen masih teringat jelas ucapan Arilla saat mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong hotel tempat pernikahan akan dilaksanakan.
“Arsen, aku tak meminta kemewahan yang berlebihan. Aku hanya ingin menemani sisa hidupmu, menua bersamamu, dan merawat kasih sayang yang tumbuh di antara kita selamanya.”
Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinganya, terasa begitu lembut dan tulus, namun kini terasa menyayat hati bagai sembilu yang tajam.
Dan ia teringat hari pernikahan mereka. Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan abadi bagi mereka. Arsen masih teringat betul senyum terindah yang pernah dilihatnya di wajah Arilla saat berdiri berdampingan di pelaminan.
Cahaya mata Arilla memancarkan cinta yang begitu dalam dan tulus, seakan wanita itu ingin menyampaikan seluruh isi hatinya hanya dengan satu tatapan mata.
Saat mereka berdansa berputar perlahan di lantai dansa, di bawah kilauan lampu kristal yang indah, Arilla menyandarkan kepalanya lembut di d**a Arsen dan berbisik pelan.
“Terima kasih telah menjadikanku bagian dari hidupmu, sayang. Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini.”
Kenangan itu melesak kembali ke dadanya, begitu hidup, begitu hangat, namun kini terasa begitu menyakitkan. Arsen menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang akhirnya meledak tak terbendung. Air mata jatuh membasahi tanah di tepi makam itu, bercampur dengan rasa rindu yang tak terlukiskan dan penyesalan yang mendalam.
“Arilla… sayangku…” bisiknya pelan di antara isak tangis, suaranya penuh kerinduan yang tak bertepi.
“Semua kenangan itu masih terasa begitu nyata… seakan baru kemarin kau mengucapkannya padaku… Mengapa kini kau pergi begitu saja… meninggalkan semua janji dan impian kita yang belum sempat terwujud…”
Ia kembali menyentuh tanah makam itu dengan lembut, seakan sedang menyentuh wajah kekasihnya yang halus.
“Kau berjanji menua bersamaku… Kau berjanji menemani aku ke mana pun aku pergi… Kau berjanji tak akan pernah meninggalkanku… Namun kini kau berbaring di sini… sendirian… meninggalkanku di dunia yang terasa begitu sepi tanpamu…”
Angin berhembus lembut, membawa serta harum melati dari bunga yang tersusun di atas makam. Arsen menghirup aroma itu dalam-dalam, seakan aroma itu adalah wangi tubuh Arilla yang selalu ia kenal dan rindukan.
Ia membayangkan seakan Arilla berdiri di sampingnya saat ini, tersenyum lembut sambil menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang, mengusap rambutnya dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan.
“Terima kasih… untuk semua hari indah yang pernah kau berikan padaku…” bisik Arsen penuh syukur sekaligus penuh kepedihan.
“Terima kasih telah hadir dalam hidupku dan memberiku makna cinta yang sesungguhnya. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan betapa berartinya kau bagiku… Tak ada harta maupun kemewahan yang mampu menggantikan kehadiranmu di sisiku…”
Mata Arsen kembali menatap batu nisan di hadapannya, tatapannya perlahan berubah penuh keteguhan meskipun air mata masih terus mengalir deras.
“Istirahatlah dengan tenang, cintaku… Biarlah hari-hari indah yang pernah kita lalui menjadi kenangan abadi yang akan kusimpan rapi di dalam hatiku selamanya… Tak ada yang mampu menghapusnya… Tak ada yang mampu memisahkan cinta kita… Bahkan kematian sekalipun…”
Arsen berlutut di sana, terus berbicara kepada Arilla seakan wanita itu masih berdiri di sampingnya mendengarkan setiap kata yang terucap. Ia menceritakan kembali hal-hal kecil yang pernah mereka alami, tawa yang pernah mereka bagi, dan impian-impian yang pernah mereka susun bersama.
Di tepi makam itu, di tengah keheningan yang lembut, Arsen menghabiskan waktunya mengenang kekasih hatinya, melepas rindu yang tak bertepi, dan menyimpan kembali setiap kenangan indah itu ke dalam ruang terdalam hatinya, tempat di mana Arilla akan selamanya tinggal, tak akan pernah pergi, dan tak akan pernah terpisahkan darinya lagi.
Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan cahaya jingga yang lembut membelai gundukan tanah itu seakan turut ikut menyampaikan salam perpisahan dan kerinduan.
Namun Arsen tetap belum beranjak. Ia masih ingin berada di sana, masih ingin menemaninya sedikit lebih lama, masih ingin merasakan kedekatan yang masih tersisa di tempat di mana jiwa Arilla seakan masih melayang lembut menyertainya.