Di atas puncak menara Hotel Narendra, gedung pencakar langit berkelas bintang tujuh yang menjadi kebanggaan keluarga Narendra, pernikahan Arsen Narendra dan Arilla Johnson diselenggarakan dengan kemegahan yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya.
Aula agung yang menempati lantai teratas itu tampak bak istana yang turun dari awan. Dinding-dindingnya dilapisi kaca bening yang memancarkan kejernihan bak permata, menampilkan pemandangan seluruh kota Jakarta yang berkilauan di bawah sinar matahari siang yang cerah tanpa awan.
Ribuan lampu kristal gantung yang berjejer rapi di langit-langit tinggi memantulkan cahaya lembut, menciptakan pantulan pelangi yang berputar perlahan di sepanjang lorong yang dilalui para tamu.
Lantai marmer putih berurat emas berkilau sempurna, seakan menyelimuti seluruh ruangan dengan keagungan yang tak terlukiskan. Aroma mawar putih dan melati yang disusun dalam rangkaian bunga menara setinggi dua meter menyebarkan keharuman semerbak, mengiringi setiap langkah yang melangkah di ruangan penuh kemuliaan itu.
Di baris kursi kehormatan paling depan, duduk keluarga kedua mempelai dengan penuh haru. Di sisi Arsen, Tuan Satya Narendra duduk tegak, wajahnya yang tegas tampak melembut dibanjiri rasa bangga dan sukacita yang mendalam. Di sebelahnya, Nyonya Sevila Narendra menggenggam erat tangan suaminya, matanya berkaca-kaca menatap putra sulungnya yang berdiri gagah di atas pelaminan.
Di belakang mereka, Gavin Narendra dan Ryan Narendra, kedua adik Arsen, tampak berseri-seri, saling berbisik dan tersenyum penuh kebahagiaan melihat kakak yang sangat mereka kagumi akhirnya bersatu dengan wanita yang dicintainya.
Di sisi Arilla, duduk sepasang suami istri yang tampak begitu terhormat dan berwibawa — Tuan Andre Johnson dan Nyonya Lusiana Johnson, orang tua Arilla. Mereka bukan sekadar besan bagi keluarga Narendra, melainkan sahabat karib sekaligus mitra bisnis setia Tuan Satya selama puluhan tahun.
Persahabatan dan kerja sama yang dibangun sejak muda itu kini menyatu menjadi ikatan kekeluargaan yang tak terputus oleh apa pun. Tuan Andre Johnson menatap putri tunggalnya dengan mata berkaca-kaca, sementara Nyonya Lusiana Johnson sesekali menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata bahagia.
Ikatan dua keluarga yang selama ini saling melengkapi akhirnya disempurnakan oleh penyatuan cinta anak-anak mereka, menjadikan hari itu bukan sekadar pernikahan, melainkan perayaan persaudaraan yang tumbuh dan berbuah kebahagiaan.
Upacara berlangsung dengan hikmat dan khidmat. Saat janji suci terucap dengan lantang dan tegas dari bibir Arsen, diikuti jawaban jernih dan tulus dari Arilla, keheningan penuh haru menyelimuti seluruh aula.
Cincin pernikahan berlian murni terselip di jari manis mereka, menandai ikatan yang telah disepakati di hadapan Tuhan, keluarga, dan seluruh tamu undangan yang hadir. Riuh tepuk tangan pun pecah, bergema di seluruh penjuru ruangan, mengiringi doa restu yang tercurah tanpa henti bagi kedua mempelai.
Setelah upacara sakral selesai, rangkaian acara perayaan pun dimulai dengan penuh sukacita. Tiba saatnya acara potong kue pernikahan, kue raksasa bertingkat tujuh yang berwarna putih bersih dengan hiasan bunga gula yang tampak seakan hidup.
Arsen dan Arilla berdiri berdampingan, bersama-sama memegang gagang pisau bertatahkan berlian, dan secara serentak mengiris bagian teratas kue itu. Tepuk tangan kembali bergema, disambut senyum bahagia dari kedua keluarga yang menatap dengan mata berbinar.
Kemudian tiba saatnya suapan pertama, simbol kasih sayang dan kesetiaan yang akan saling mereka berikan seumur hidup. Arsen mengambil sepotong kue, menyuapkannya perlahan ke bibir Arilla dengan tatapan penuh cinta dan kelembutan yang tak terlukiskan.
Arilla menerimanya dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan sejati, lalu mengambil sepotong kue pula, menyuapkannya kepada Arsen dengan lembut dan penuh kasih.
Di detik itu, seakan seluruh dunia menyempit hanya untuk mereka berdua. Tidak ada kemewahan, tidak ada kemegahan, yang ada hanyalah dua hati yang saling menyatu, berjanji untuk saling merawat dan memberi kasih sepanjang masa.
Tuan Andre dan Nyonya Lusiana tersenyum bahagia saling berpandangan, sementara Tuan Satya dan Nyonya Sevila mengangguk penuh syukur, merasa yakin bahwa putra dan menantu mereka akan membangun rumah tangga yang penuh berkat.
Acara pun berlanjut ke sesi yang paling dinanti. Sesi dansa untuk pasangan pengantin. Lampu-lampu utama perlahan diredupkan, menyisakan cahaya lembut dari lampu kristal gantung yang berkilauan di atas lantai dansa yang luas dan berkilau bak cermin.
Musik instrumental yang lembut dan syahdu mulai mengalun memenuhi ruangan, iramanya bergerak pelan seakan mengikuti detak jantung kedua mempelai.
Arsen merangkul pinggang Arilla dengan lembut, sementara tangan Arilla bertumpu pada bahu suaminya. Mereka mulai melangkah berdansa berputar perlahan di tengah lantai dansa yang luas, seakan melayang di atas awan.
Cahaya kristal yang menggantung tepat di atas kepala mereka berkilau indah, memancarkan pantulan cahaya yang lembut menyelimuti mereka berdua bagai selendang cahaya.
Arsen menatap mata Arilla dalam-dalam, seakan ingin menampung seluruh keindahan dan kebahagiaan itu di dalam ingatannya selamanya.
Arilla menatap balik dengan senyum yang begitu tulus, kepalanya menyandar lembut di d**a Arsen, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu selaras dengan irama musik.
“Kau begitu cantik, cintaku,” bisik Arsen pelan, suaranya bergetar penuh haru.
“Seakan Tuhan menciptakanmu khusus untuk melengkapi sisa hidupku.”
Arilla tersenyum makin lebar, jari-jemarinya meremas lembut bahu Arsen.
“Dan kau, Arsen, adalah jawaban dari setiap doa yang selama ini kupanjatkan. Terima kasih telah menjadikanku bagian dari hidupmu.”
Mereka berputar perlahan, sepenuhnya hanyut dalam kebahagiaan yang begitu murni dan tulus. Di sekeliling mereka, para tamu berdiri berjejer menonton dengan senyum penuh haru, sesekali bertepuk tangan pelan mengiringi langkah dansa mereka.
Kedua orang tua menatap dengan mata berkaca-kaca, merasa bahagia melihat anak-anak mereka tampak begitu serasi, begitu dicintai, dan begitu penuh harapan akan masa depan yang cerah.
Gavin dan Ryan tersenyum bangga, sementara Tuan Andre dan Nyonya Lusiana mengangguk penuh syukur kepada Tuhan atas kebahagiaan putri tunggal mereka.
Namun di tengah kebahagiaan yang begitu menyempurnakan itu, tak ada satu pun yang menyadari bahaya yang tengah mengintai dari atas. Lampu hias kristal raksasa yang menggantung tepat di atas kepala Arsen dan Arilla, seberat sepuluh kilogram dengan susunan kristal yang begitu indah dan berkilau, tiba-tiba bergetar pelan.
Getaran itu awalnya begitu halus, nyaris tak terlihat di bawah pantulan cahaya yang berkilauan. Namun perlahan namun pasti, getaran itu semakin terasa. Pengait besi penyangga yang seharusnya kuat menahan beban berat itu ternyata telah rusak, dirusak dengan sengaja dan terencana sehingga tak tampak kerusakannya dari bawah.
Bunyi derit halus terdengar samar di tengah alunan musik yang masih mengalun syahdu.
Arsen yang memiliki pendengaran tajam seketika menoleh ke atas, firasat buruk menyergap dadanya seketika. Namun sebelum ia sempat menarik Arilla menjauh, seketika itu pula pengait besi itu lepas sepenuhnya.
Lampu hias kristal seberat sepuluh kilogram itu meluncur jatuh dengan kecepatan mengerikan dari ketinggian belasan meter, menukik tajam tepat ke arah kepala Arsen dan Arilla yang masih berdansa berputar di bawahnya.
Waktu seakan berhenti berputar. Cahaya kristal yang tadi berkilau indah kini melesat bagai benda yang mengancam nyawa, menghantam udara dengan kecepatan yang nyaris tak sempat dihindari siapa pun. Di detik yang mengerikan itu, Arilla menyadari bahaya yang datang.
Tanpa berpikir dua kali, seketika itu pula ia mendorong Arsen sekuat tenaga menjauh dari titik jatuhnya benda itu, tepat saat lampu hias kristal raksasa itu menghantam lantai dengan dentuman dahsyat yang memekakkan telinga, pecah berkeping-keping berhamburan di sekujur penjuru lantai dansa.