Beberapa waktu setelah seleksi, saat keluhannya telah ditangani dan kegiatan kembali disesuaikan, Albian meminta waktu berbicara. Zafira menerima di rumah bersama ibunya. Ia belum mengirim lamaran umum; sementara ini ia memilih membantu pencatatan toko dan mengikuti program latihan yang diperbarui.
Albian tidak membawa pekerjaan atau bingkisan. Kali ini ia ingin menyatakan niat yang tidak berkaitan dengan perak.
"Pak Albian," kata Zafira. "Zafira kalah di final. Perak Zafira terima. Zafira tidak sembuh. Latihan tetap milik Bang. Kerja Zafira tunda, dan bukan lowongan Bapak. Usia Zafira dua puluh tiga. Usia Bapak tiga puluh lima. Zafira masih mau karate. Zafira masih anak Bunda. Zafira masih tidak memaafkan ayah. Tiga itu tidak dilepas untuk siapa pun."
"Saya dengar," kata Albian. "Saya tidak datang untuk mengambil perak, dan tidak untuk menawar ketiga hal itu. Saya tiga puluh lima. Saya punya kerja. Saya tidak minta kamu berhenti sebagai atlet, dan tidak minta kamu masuk perusahaan. Harapan saya: saya mau hidup yang kamu pilih juga, bukan hidup yang saya atur. Karena itu saya ucapkan niat. Saya ingin menikah denganmu. Niat, bukan tanggal. Bukan harga dari medali. Bukan balasan karena kamu menolong ibu saya. Jika kamu dengar niat itu sebagai hutang, tolak. Hutang bukan nikah."
Zafira diam. Ia tidak tersenyum. Ia tidak menjawab iya. "Zafira dengar niat. Zafira tidak jawab hari ini. Jika Zafira jawab sekarang, Zafira takut jawaban itu keluar karena takut kehilangan orang yang baik, atau karena tidak ingin mengecewakan Bunda. Takut itu belum Zafira pisahkan dari mau. Sebelum terpisah, jawabannya ditunda. Tunda bukan main-main. Tunda supaya iya, kalau ada, bukan bayaran."
"Tunda saya terima," kata Albian. "Saya tidak menagih besok. Saya tidak bertanya pada Mami untuk menekan. Saya tidak bertanya pada Papi. Saya tidak menciptakan jabatan. Saya tidak menyentuh urusan ayahmu. Saya pulang di menit ini jika kamu bilang cukup."
Zafira tidak menjawab pada hari itu. Albian menerimanya dan pulang tanpa mengumumkan tanggal kepada keluarganya.
Keesokan pagi, setelah sarapan, Zafira mengajak Sheila duduk di dapur.
Zafira memulai. "Zafira sebut. Zafira takut iya karena tidak ingin Bunda kecewa. Bunda sudah lama sendirian mengurus Zafira dan toko. Orang yang baik datang. Jika Zafira tolak, Zafira takut Bunda merasa jalan itu ditutup oleh anaknya. Takut kedua: Zafira takut iya supaya orang itu tidak pergi, karena dulu Zafira ditolak dan tidak mau ditolak lagi. Dua takut itu bukan mau. Mau Zafira pisahkan. Zafira mau dia. Mau itu Zafira ucapkan pada Bunda. Mau bukan iya nikah hari ini. Iya hanya kalau takut tidak menumpang."
Sheila tidak menangis untuk menggiring. "Bunda tidak kecewa jika kamu tidak iya. Kecewa yang Bunda tolak adalah kecewa karena kamu iya untuk saya. Toko tidak runtuh. Saya tidak kembali pada ayahmu. Saya tidak butuh menantu supaya rumah ini lengkap. Lengkap yang dibeli dengan iya-mu itu mahal, dan saya tidak membeli."
"Zafira dengar," kata Zafira. "Kalau begitu takut pertama tidak boleh jadi alasan. Takut kedua juga. Zafira tidak kehilangan diri jika ia pergi. Pergi, jika Zafira menolak, adalah jawabannya, bukan hukuman. Zafira belum menolak. Zafira belum menerima. Zafira mau melihat apakah niatnya tetap tanpa ditagih. Jika ia menagih, Zafira tolak. Jika ia menciptakan kerja, Zafira tolak. Jika ia menghubungi ayah, Zafira tolak. Jika ia diam di batas, Zafira pertimbangkan iya dengan syarat. Pertimbangan bukan hari ini untuk dikirim."
"Saya tidak mengirim," kata Sheila. "Saya tidak menasihati iya. Bang tidak saya jadikan saksi. Kimi tidak tahu. Tetangga tidak tahu."
Ia tidak membuat pesan jebakan untuk menguji apakah Albian akan pergi. Ia meminta waktu sungguhan, lalu memakai waktu itu untuk memikirkan apa yang ia inginkan. Beberapa hari berlalu tanpa desakan, tanpa lowongan yang diciptakan khusus, dan tanpa keluarga Albian datang menagih jawaban.
Ketika siap berbicara lagi, Zafira mengundang Albian. Ia membawa catatan agar hal yang penting tidak terlupa karena gugup.
Zafira membacakan syarat tanpa senyum. "Zafira iya, dengan ini. Olahraga tidak berhenti. Bang yang pegang latihan, bukan Bapak. Tidak ada jabatan yang diciptakan. Sponsor tidak menjadi urusan istri. Ayah tidak Bapak selesaikan, dan nama itu belum Zafira buka. Zafira boleh keberatan tanpa harus tersenyum. Bunda tidak kembali pada ayah Zafira. Toko bukan tanggungan suami. Dika bukan saingan yang harus disingkirkan. Iya ini bukan bayaran perak, bukan balas jasa untuk keluarga Bapak, bukan bayaran supaya Bunda tenang. Jika satu syarat Bapak ubah jadi harga, iya Zafira tarik sekarang juga."
"Saya tidak mengubahnya jadi harga," kata Albian. "Saya terima. Nikah, jika nanti dijalankan, tidak menuntut kamu berhenti karate. Saya tidak membuat meja untukmu. Saya tidak menghubungi ayahmu. Saya tidak mengatur pelatihmu. Saya tidak mengambil toko. Usia kita tetap yang sudah disebut. Saya tidak menyimpan tanggal hari ini. Tanggal, kalau ada, kita bicara bersama, bukan saya yang mengirim undangan diam-diam."
"Tanggal belum," kata Zafira. "Zafira iya pada niat dan syarat. Bukan pada pesta minggu ini yang tidak kita jalani. Besok kita mulai bicara pembagian, bukan besok akad. Percaya Zafira berikan sebatas iya ini. Bukan sebatas luka yang sudah hilang. Luka tidak hilang. Kalah tidak hilang. Iya tetap iya."
Albian mengulang satu syarat dengan mulutnya sendiri, supaya tidak hanya mengangguk. "Kamu tetap atlet. Saya tidak menjadi pelatih. Saya tidak menjadi atasan. Jika nanti ada akad, akad tidak berisi janji berhenti dari karate. Janji yang saya tolak sebelum ada yang mengusulkannya."
"Tolak itu yang Zafira mau dengar," kata Zafira. "Bukan puisi. Puisi mudah. Syarat yang diulang lebih susah, dan lebih jujur."
Sebelum Albian pulang, mereka sepakat bahwa penerimaan niat belum sama dengan tanggal akad. Mereka masih perlu membicarakan pekerjaan, tempat tinggal, dan persiapan yang benar. Sheila tidak memeluk putrinya untuk dipertontonkan kepada tetangga; ketika Zafira sendiri meraih tangannya, ia membalas.
Zafira tetap mengingat penolakan ayahnya, tetapi malam itu ada rasa gembira yang tidak perlu dibatalkan. Ia dapat senang menerima Albian dan tetap terluka oleh orang lain. Kedua perasaan itu tidak saling menghapus.