Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, Albian dan Zafira membagi urusan praktis. Rapat yang dapat digeser disesuaikan oleh Albian, sementara latihan dan kegiatan toko dibicarakan sesuai jadwal yang benar-benar ada. Keduanya tidak dapat selalu memperoleh jam yang diinginkan. Jika sebuah rapat tak dapat dipindah, mereka memilih waktu bertemu lain; Zafira tidak wajib menunggu di lobi sebagai bukti perhatian.
Lamaran umum masih ditunda atas pilihannya sendiri. Ia tidak menerima jabatan di perusahaan Albian. Sheila tetap menjalankan toko bersama para pegawainya. Bila kelak Zafira ingin melamar kerja, ia akan menempuh proses yang sesuai, bukan menganggap pernikahan sebagai lowongan.
"Nama ayah Zafira, Zafran," kata Zafira. "Zafira sebut sekali. Bapak tidak menghubunginya. Bapak tidak bertanya pada Papi untuk mengurusnya. Ia sudah mengakui Zafira anaknya. Ia juga menolak Zafira dulu, dan menghina. Zafira tidak memaafkan. Zafira tidak pulang ke rumahnya. Bunda tidak kembali padanya. Uang tidak membuka itu. Jika ada akad nanti, ia boleh duduk jika Zafira izinkan, bukan mengantar, bukan pidato, bukan amplop. Izin belum Zafira berikan hari ini. Hari ini hanya nama dan larangan. Jangan ditebak sisanya. Jangan diselesaikan."
Albian tidak mengulang hinaan itu. "Saya tidak menghubungi Zafran. Saya tidak bertanya pada Papi. Saya tidak membawa amplop. Saya tidak menganggap nikah sebagai damai keluarga. Jika kamu tidak mengizinkannya duduk, ia tidak duduk. Nama ini tidak saya teruskan ke Sandi, tidak ke Mami, kecuali kamu nanti minta kabar batas, bukan kisah."
Sebelum menyusun akad, mereka mendatangi petugas KUA untuk memastikan persyaratan. Zafira menyampaikan keadaan keluarganya dengan jujur. Hubungan emosional yang renggang tidak membuat urusan wali dapat diputuskan sendiri atau dilewati. Petugas memeriksa keterangan dan dokumen, lalu membicarakan kehadiran serta peran wali bersama mereka.
Zafran dihubungi melalui jalur yang disepakati untuk keperluan itu. Ia bersedia memenuhi pemeriksaan dan menjalankan peran sebagai wali sesuai arahan petugas. Zafira menerimanya sebagai keperluan akad, tanpa menganggap tindakan tersebut menghapus pengabaian dahulu. Ia tidak meminta ayahnya mengantar pengantin atau berpidato tentang keluarga yang kembali utuh.
Siangnya Julia menelepon Albian, dan Albian meminta izin Zafira sebelum menjawab di depan Sheila, pengeras ponsel, bukan rahasia. Julia bertanya apakah sepupu yang selalu di dekat Zafira itu saingan yang harus dimengerti. Albian langsung menjelaskan bahwa Dika adalah sepupu sekaligus pelatih, bukan saingan yang harus disingkirkan.
"Bukan saingan," kata Zafira, cukup keras. "Bang Dika sepupu. Pelatih. Bukan pilihan yang kalah. Jangan dipahami begitu. Jangan diatur. Jangan diajak bicara sebagai orang yang harus mengalah. Ia tidak mengalah. Tidak ada yang direbut."
Albian mengulang pada ibunya. "Bukan saingan. Saya tidak meminta Mami menasihati siapa pun. Adela dan Adelia tidak punya cerita dengan Zafira selain sebagai adik. Tidak ada yang lain. Jangan digali."
Julia diam sebentar, lalu berhenti. "Mami tidak menggali. Mami tidak menjodohkan. Urusan itu sudah selesai. Mami tidak mengatur hari."
"Terima kasih, cukup," kata Albian. Ia menutup. "Saya tidak menambahkan. Jika Mami mengulang, saya potong lagi."
"Potong," kata Zafira.
Sesudahnya surat Adela diberikan dalam keadaan tertutup, dengan izin Zafira. Isinya ucapan terima kasih karena dahulu dibantu di restoran. Zafira membacanya sendiri, lalu menitipkan jawaban singkat bahwa ia senang Adela pulang dengan selamat. Sesudah menitipkan surat itu, Adela bergabung lagi dengan Adelia. Mereka tidak diminta membacakan ucapan terima kasih di depan kerabat.
Dika pun tidak datang sebagai pihak yang harus mengalah. Ia sepupu dan pelatih, bukan calon suami yang kehilangan pilihan. Ketika diminta hadir pada akad, ia menyanggupi sebagai keluarga.
Tanggal disepakati empat minggu kemudian, sesudah pemeriksaan dokumen, bimbingan, dan pengaturan kehadiran petugas serta keluarga. Zafira memilih acara kecil. Ia tidak harus memotong seluruh jadwal latihan untuk pengukuran baju atau menyambut tamu seharian. Albian mengurus bagiannya, termasuk memberi tahu Julia dan Lutfi bahwa daftar tamu tidak akan diperbesar tanpa dibicarakan.
Ketika seorang kerabat mengusulkan prosesi yang menggambarkan Zafira kembali dipeluk ayahnya, ia menolak. Sheila mendukung keputusan itu. Persiapan tidak selalu berjalan tanpa gugup, tetapi tidak ada yang memakai tamu yang telanjur diundang sebagai alasan agar ia tak dapat menyatakan keberatan.
***
Pada pagi hari yang disepakati, Zafira tidak berlatih untuk membuktikan bahwa perkawinan tidak dapat mengubah dirinya. Kegiatan sudah disesuaikan bersama Dika dengan mempertimbangkan kondisi dan jadwal. Ia sarapan bersama Sheila, lalu bersiap tanpa harus menutupi kegugupan dengan canda.
"Masih mau?" tanya ibunya saat mereka berada berdua.
"Mau, Bun. Bukan karena orang sudah datang."
Sheila merapikan bagian jilbab yang diminta putrinya, lalu menggenggam tangannya sebentar. Menolong memilih satu lipatan tidak berarti mengambil keputusan.
Siangnya ruang itu kecil. Julia dan Lutfi ada, tidak mengatur. Adela dan Adelia duduk sebagai adik, tanpa cerita. Surat tidak dibaca. Albian tidak membawa Sandi. Perak tidak di meja. Zafran hadir sebagai wali yang telah diperiksa petugas. Di luar peran dalam akad itu, ia menerima batas untuk tidak mengantar pengantin, berpidato, atau membawa amplop sebagai tawaran damai. Sheila tidak duduk di sebelahnya.
Petugas memastikan kembali persetujuan calon pengantin. Zafira menjawab dengan suaranya sendiri. Setelah semua yang diperlukan dinyatakan lengkap, Zafran mengucapkan ijab sebagai wali dan Albian menjawab kabul di hadapan petugas serta para saksi. Mereka menyelesaikan pencatatan yang diperlukan.
Zafira tidak perlu memeluk Zafran untuk membenarkan pernikahannya. Ketika ayahnya kembali duduk, ia tetap mengetahui siapa yang dahulu menolaknya. Ada bagian yang telah dijalankan dengan benar hari ini; luka lama tidak otomatis selesai.
Zafran tidak mendekat. Albian tidak mengambil tangannya untuk dipertontonkan. Dika tidak berpidato. Julia tidak menyebut jodoh sebagai usahanya. Menjelang acara selesai, Zafira menyampaikan rencana pulangnya. "Cukup. Bunda, Zafira pulang ke rumah Bunda dulu untuk malam ini juga, karena Zafira dan Albian sudah sepakat beristirahat dan mengatur kepindahan bertahap. Bukan karena Zafira menyesal. Kita sudah membicarakan waktunya."
"Program kita sesuaikan saat perlu, seperti biasa," kata Dika.
"Rumah saya terbuka," kata Sheila. "Bukan karena kamu belum istri. Karena kalian sudah membicarakannya."
Albian mengangguk. "Saya tidak meminta kamu pindah malam ini. Saya tidak meminta medali. Saya pulang ke tempat saya. Besok kita atur waktu bertemu setelah kamu beristirahat."
Mereka makan bersama tanpa pidato panjang. Ketika diminta foto, Zafira menolak gambar bersama Zafran yang seolah menunjukkan semua persoalan telah selesai. Ia menerima satu foto bersama Sheila dan Albian karena memang menginginkannya, tanpa kewajiban tersenyum untuk orang lain. Julia dan Lutfi tidak mengambil keputusan itu sebagai izin mengunggah apa saja.
Sesudah acara, Sheila pulang bersama putrinya. Albian membantu memastikan barang yang diperlukan sudah ada, kemudian kembali ke rumahnya sesuai rencana. Tidak ada kunjungan kedua dari kerabat pada malam itu. Zafira dapat melepas pakaian acara dan duduk di kursi yang dikenalnya tanpa harus menjelaskan seluruh perasaan hari itu.
Dua hari sesudah akad, ketika Zafira sedang membantu pencatatan di toko, Zafran datang membawa amplop lagi. Sheila menemuinya sebelum pembicaraan mengganggu pelanggan. Kimi tetap menjaga etalase; ia tidak dijadikan pengawas keluarga.
"Saya hanya ingin memberi," kata Zafran. "Waktu akad saya sudah datang. Saya pikir itu membuka yang lain."
"Tidak membuka," kata Sheila. "Amplop tidak. Alamat tidak. Saya tidak kembali. Anak saya tidak memaafkan. Kehadiran saat akad adalah batas, bukan awal tawar."
Zafira datang dari dalam karena ia mendengar, bukan karena diundang untuk berdamai. "Zafira yang bilang. Duduk bukan perubahan yang membeli. Uang ini bukan perubahan. Penyesalan yang sudah diucapkan tidak Zafira buka lagi. Bawa pulang. Jangan ke rumah. Jangan ke Bang. Jangan ke suami Zafira. Jangan ke ayahnya. Jika Bapak datang lagi dengan amplop, jawabannya tetap tidak. Tidak itu tidak Zafira ulangi menjadi diskusi."
Zafran tidak meletakkan amplop di meja. Sheila tidak mengambilnya. Ia pergi. Mobilnya tidak mengikuti. Kimi kembali hanya pada tugas, tanpa cerita. "Sudah selesai. Tidak ada nama," kata Sheila.
Sore itu Zafira menceritakannya kepada Albian. Ia sedang marah dan tidak meminta suaminya menghubungi Zafran untuk berunding. Albian mendengarkan, lalu menanyakan apa yang dibutuhkan malam itu. Zafira memilih makan bersama ibunya dan membicarakan rencana mereka esok hari. Makan tidak menyembuhkan pengabaian, tetapi ia tidak harus menolak semua rasa nyaman agar kemarahannya dianggap nyata.
***
Sebulan setelah akad, kehidupan mereka tidak menjadi rangkaian acara pembuktian. Albian dan Zafira mulai lebih sering tinggal bersama di rumah yang disepakati. Ia tetap dapat mengunjungi Sheila dan membantu toko pada waktu yang mereka atur. Perpindahan berlangsung bertahap, tanpa menuntut perempuan itu memutus kedekatan dengan ibunya.
Pemeriksaan lanjutan dan penyesuaian latihan terus diikuti sampai keluhannya membaik. Dika tidak lagi menahannya pada jarak beberapa langkah yang sama. Ia menyusun kegiatan berikutnya sesuai kondisi dan penilaian yang diperlukan, sementara Zafira belajar melaporkan keluhan sebelum berubah menjadi usaha membuktikan keberanian.
Perak disimpan bersama medali lain. Tidak ada kewajiban memajangnya untuk tamu, juga tidak ada larangan membuka laci karena kalah harus terus dirasakan. Pada suatu pagi Zafira membersihkan debu pada pita medali itu, lalu meletakkannya kembali. Ia kalah di final. Ia menerima hasil itu. Kedua kalimat tersebut tidak meniadakan kerja yang telah dilakukannya.
Arabella tidak dihubungi untuk bertukar ejekan. Jika mereka bertemu lagi pada pertandingan berikutnya, mereka akan berhadapan melalui aturan yang sama, dengan kesiapan yang dinilai kembali. Albian tidak meminta sponsor menghapus nama saingan istrinya. Sandi mengurus urusan kantor, bukan laporan pribadi tentang pergerakan Zafira.
"Zafira sebut. Zafira sakit karena ditolak dulu. Akad tidak menghapus. Perak tidak menghapus. Bapak tidak perlu mencari kalimat yang membuatnya hilang. Hilang tidak. Yang ada: Zafira memilih Bapak dengan syarat, memilih Bunda sebagai yang paling dekat, memilih karate, dan menolak ayah Zafira sebagai orang yang sudah beres. Empat itu jujur. Senyum tidak Zafira pakai untuk menutup yang keempat."
"Saya tidak mencari kalimat penghapus," kata Albian. "Saya tidak bertanya pada Papi. Saya tidak merasa akad membuat saya berhak pada luka itu. Luka itu bukan mas kawin, dan bukan kegagalan saya jika tetap ada."
"Bukan kegagalan Bapak," kata Zafira. "Dan bukan tugas Bunda untuk terlihat ceria. Bunda, Zafira tidak baik. Bunda tidak perlu membalas dengan kuat. Kuat palsu itu yang dulu Zafira jual. Hari ini tidak dijual."
"Saya tidak membalas dengan kuat," kata Sheila. "Saya di sini. Toko saya jaga. Kamu bantu sejauh bisa. Tidak lebih."
Sheila menerima bahwa putrinya belum memaafkan ayahnya. Ia tidak kembali pada Zafran. Sejak amplop terakhir ditolak, tidak ada tawaran uang baru yang mereka terima. Bila suatu hari Zafira menghendaki percakapan lain dengan keluarga ayahnya, ia sendiri yang akan memulainya; hari itu belum tiba.
Bagas pun telah menerima jawaban bahwa cucunya belum ingin bertemu. Tidak ada undangan diam-diam melalui Lutfi. Menahan diri dari datang bukan hadiah yang ditukar dengan janji maaf, melainkan menghormati jawaban yang sudah diberikan.
Pada siang yang biasa, Zafira membantu mencocokkan daftar pesanan di toko. Ia tidak mengangkat barang yang sedang tidak disarankan untuknya dan meminta bantuan Kimi ketika perlu. Kali ini ia dapat mengucapkan terima kasih tanpa takut setiap kata ramah akan menjadi utang.
"Mau pulang sekarang?" tanya Sheila setelah pekerjaan yang disepakati selesai.
"Sebentar lagi. Zafira mau minum dulu."
Ia memilih sepotong kue kecil dari piring di dapur. Tidak ada pesta dan tidak ada pelanggan yang harus diberi kabar, hanya ibu yang menanyakan apakah ia ingin tambah teh. Zafira menjawab tidak. Ia justru meminta sepotong kue lagi yang lebih besar. Sheila memandang potongan pertama yang tadi dipilih putrinya sendiri, dan keduanya tertawa.
Senyum itu tidak menunggu ia membacakan daftar luka lebih dahulu. Ia sudah belajar bahwa berkata sakit ketika memang sakit dan tertawa ketika ada hal lucu dapat berasal dari orang yang sama. Yang tidak ingin diulang ialah tersenyum supaya pertanyaan berhenti sebelum ada orang mendengarnya.
Sore harinya Albian datang menjemput setelah mereka saling mengabari. Ia duduk bersama Sheila sebelum pulang. Zafira tidak dipindahkan dari tangan ibunya ke tangan suaminya. Ia memilih bangkit, mengambil tas, dan mengatakan kapan akan datang membantu lagi.
Lamaran umum masih belum dikirim. Untuk masa ini ia memilih mengatur waktunya antara latihan dan pencatatan toko, sambil memikirkan pekerjaan yang benar-benar diinginkannya. Pilihan itu dapat ditinjau lagi; tidak ada kursi di perusahaan Armadani yang menunggunya sebagai hadiah pernikahan.
Di rumah, Albian menanyakan jadwal esok hari agar mereka dapat menyesuaikan waktu sarapan. Zafira menyebut latihan dan rencana mengunjungi ibunya pada sore hari. Lelaki itu menyebut rapat yang tak dapat digeser. Mereka mencari waktu bertemu, bukan orang yang harus selalu mengalah.
Ketika Zafira terdiam setelah menyebut ayahnya, Albian tidak buru-buru menutupnya dengan janji semua akan indah.
"Masih berat?" tanyanya.
"Masih. Tapi malam ini Zafira tidak ingin membahasnya lagi."
"Baik."
Zafira bersandar dengan nyaman. Bukan karena pengabaian telah berubah menjadi kenangan yang baik, melainkan karena ia tidak perlu menyamarkannya untuk tetap diterima di ruangan itu.
Ia menatap Albian dan tersenyum. Senyum itu miliknya sendiri.
TAMAT