Pemulihan berlanjut dengan pemeriksaan ulang, bukan hanya menunggu keberanian. Ketika keluhan belum membaik, Zafira menyampaikannya kepada tenaga medis. Sesudah dinilai cukup pulih untuk meningkatkan kegiatan, ia dan Dika menyusun kembali latihan secara bertahap. Tidak ada lompatan dari beberapa langkah di halaman langsung menjadi pertandingan kontak.
Pada pekan pertama kembali ke gedung, ia lebih banyak mengamati dan mengerjakan bagian yang sudah diizinkan. Setelah itu beban bertambah sesuai perkembangan, diselingi evaluasi. Ada hari ia kesal karena tubuhnya belum mengikuti ingatan, tetapi ia tidak menyembunyikan keluhan. Target menuju tingkat nasional tetap ada; seleksi berikutnya tidak menjadi utang yang harus dibayar dengan memaksa diri.
Sheila menyambut kepulangannya dari latihan dengan makanan, tanpa menanyakan kapan medali berikutnya. Pada hari lain Zafira membantu pencatatan di ZAF's Cake. Kimi tetap mengerjakan tugasnya dan toko tidak menggantungkan semua pesanan pada putri pemilik.
Siangnya Dika mengirim satu kabar, bukan program baru. Zafira membaca bersama Sheila, lalu membacanya lagi karena nama itu sudah dikenal, bukan karena nama itu undangan.
Arabella ada di daftar nama yang beredar untuk kelompok seleksi yang sama, kalau seleksi dibuka. Tanggal seleksi belum ditetapkan saat kabar itu diterimanya. Arabella bukan lawan hari ini. Dika menulis: jangan dibalas dengan langkah. Jangan dijadwalkan. Ejekan, kalau ada, teruskan. Gua yang pegang. Sponsor tidak memilih pemenang.
Belum sempat Zafira menjawab, pesan lain masuk, dari Arabella sendiri. Kalimatnya sombong dan lama.
"Masih ingat saya. Nanti kita lihat siapa yang masih layak di lapangan. Jangan sembunyi di rumah kalau memang masih karateka."
Zafira meletakkan ponsel. Ia hampir membalas dengan janji akan datang dan mengalahkan Arabella, lalu menghapus kalimat itu sebelum terkirim. Latihan berikutnya tidak perlu ditambah untuk membuktikan bahwa ejekan tersebut salah. Arabella akan dihadapi jika mereka benar-benar bertemu di lapangan.
Zafira meneruskan pesan Arabella kepada Dika, tanpa mengirim janji bertanding melalui ponsel. Ejekan itu tidak perlu dibalas dengan latihan berlebihan. Pelatihnya akan menangani urusan yang perlu disampaikan melalui jalur tim; perusahaan sponsor tidak dilibatkan.
Sesudah latihan yang kemudian selesai tanpa keluhan bertambah, Zafira membicarakan rencana kerja dengan ibunya. Lamaran umum akan ditunda sampai seleksi terdekat selesai. Untuk sementara ia memilih membantu toko sebatas kemampuannya. Keputusan itu tidak berarti semua masa depannya telah diserahkan kepada keluarga.
Di toko Kimi melihat Zafira di depan. "Mbak sudah bisa ikut?"
"Sebentar," kata Zafira. "Kalau narik, Zafira berhenti. Jangan ditebak lebih."
Pembeli meminta dus dari rak bawah dipindah ke meja. Zafira sudah mengulurkan tangan. Dus itu biasanya dapat ia pindahkan dengan mudah, dan justru karena itu ia menarik tangan kembali.
"Bukan saya," katanya. "Minta Ibu di dalam. Saya di depan saja."
Pembeli tidak marah. Kimi mengangkatnya. Zafira tidak merasa dikalahkan oleh karyawan. "Terima kasih. Jangan cerita kenapa. Istirahat cukup."
"Istirahat," kata Kimi, dan kembali ke etalase.
Zafira mencatat tiga pesanan. Pada yang keempat bahunya mulai tidak nyaman. Ia meletakkan pena. "Cukup hari ini. Sisanya tolong dilanjutkan, ya, Bun."
Sheila mengangguk di depan pembeli tanpa menjelaskan luka. "Pulang. Saya yang tulis sisanya."
Albian mengetahui rencana itu ketika Zafira sendiri menceritakannya. Ia tidak menawarkan jabatan yang dibuat agar gadis itu bekerja di dekatnya. Mereka berbicara tentang waktu yang dapat disediakan untuk saling mengenal, di luar jam kerja dan latihan.
"Zafira mau hubungan. Mau itu Zafira ucapkan. Bukan karena keluarga Bapak merasa berutang. Bukan karena perak atau emas yang belum ada. Bukan supaya Bunda senang. Batasnya: latihan milik Bang. Kerja milik pilihan Zafira. Keluarga yang belum Zafira buka, Bapak tidak selesaikan. Percaya tidak otomatis penuh karena kalimat mau. Zafira masih bisa keberatan. Zafira masih bisa menyuruh pulang."
"Saya mau juga," kata Albian. "Usia saya tiga puluh lima. Usia kamu dua puluh tiga. Itu bukan rahasia, dan bukan alasan saya mengatur hidupmu. Saya tidak minta nikah hari ini. Saya tidak minta kamu berhenti karate. Saya tidak minta nama ayah. Saya akan berhenti jika kamu bilang tidak."
Zafira menatap tangannya, bukan wajah Albian, supaya kalimat mau tidak berubah menjadi rayuan. "Zafira sebut usia karena Bapak sebut. Dua puluh tiga dan tiga puluh lima bukan halangan yang Zafira pinjam dari orang lain, dan bukan alasan Zafira menyerahkan jadwal. Zafira masih karateka. Zafira masih anak Bunda. Zafira masih orang yang tidak memaafkan ayah. Tiga itu tidak Bapak urus. Jika hubungan ini menuntut salah satunya dilepas, hubungannya yang berhenti, bukan ketiganya."
"Saya tidak menuntut itu," kata Albian. "Harapan saya sederhana, dan sederhana bukan berarti saya berhak. Saya mau mengenal kamu tanpa mengatur latihan, tanpa mengatur toko, tanpa menjadi juru damai. Jika nanti ada nikah, nanti harus kamu yang mau, bukan saya yang menyelamatkan. Hari ini saya tidak menyimpan tanggal."
"Jangan disimpan," kata Zafira. "Zafira juga punya harapan. Zafira mau tidak sendirian memutuskan. Mau itu. Zafira tidak mau dinilai sembuh karena ada yang menjemput. Kalau suatu hari Bapak menjemput untuk menonton, itu juga tidak menjadikan Bapak pelatih atau wali. Percaya Zafira belum berikan penuh. Yang Zafira berikan hari ini cuma arah: Zafira tidak menolak hubungan. Arah bukan sumpah."
"Arah saya terima," kata Albian. "Saya tidak akan mengabarkan pada Mami bahwa kamu sudah memilih hidup. Saya tidak akan bertanya pada Papi soal ayahmu. Saya tidak akan menyuruh Sandi mencatat alamat. Alamat rumahmu tidak masuk catatan kantor."
***
Beberapa pekan latihan teratur kemudian, pemberitahuan seleksi tiba. Zafira tidak memutuskan ikut hanya karena pada pagi itu rasa sakitnya tidak bertambah. Pemeriksaan dan perkembangan latihan telah menjadi dasar pembicaraan dengan Dika. Ketika dinyatakan dapat mengikuti kegiatan, ia tetap harus melapor jika muncul keluhan. Bila keadaan berubah, pertandingan dapat dihentikan.
Seleksi daerah itu merupakan bagian dari jalan yang ingin ditempuhnya menuju tingkat nasional, bukan kejuaraan nasional yang langsung didapat karena baru mengenal keluarga Armadani. Zafira mengundang Albian sebagai penonton. Sheila akan mengantarnya; Dika mendampingi sebagai pelatih. Mereka tidak membawa rombongan perusahaan atau menitipkan permintaan kemenangan kepada panitia.
Babak pertama bukan lawan yang mudah. Zafira tertinggal di awal. Wasit memberi angka pada lawan untuk bagian yang ia rasa tidak sepadan, dan ia tidak membantah. "Saya terima," katanya pelan, pada Dika, bukan pada penonton. Angka itu tidak ia kejar dengan marah. Ia ingin membalas dengan terburu supaya tribun melihat ia tidak takut. Keinginan itu ia tahan. "Buruan itu untuk ditonton. Zafira tidak bertanding untuk ditonton. Zafira bertanding untuk selesai dengan aturan."
Dika tidak memberinya gerakan. "Terima. Lanjut. Jangan lihat tribun."
Di akhir ia unggul tipis. Tangan wasit untuknya. Bukan kemenangan yang membuat orang berteriak bahwa ia sudah sembuh. Seorang penonton tetap berteriak sembuh. Sheila tidak membalas teriakan itu. Zafira tidak mengangkat tangan ke arah suara. "Biarkan salah. Salah mereka bukan tugas Zafira luruskan di lantai."
Babak berikutnya ia menang lagi, tidak lebih mudah. Ada peringatan untuk lawan yang kehilangan ketenangan. Zafira mundur dari kekacauan itu dan menunggu wasit, tidak membalas dengan amarah. "Zafira tidak mencederai," katanya pada Dika sesudahnya. "Menang yang dibeli dengan melukai tidak Zafira mau."
"Gue catat," kata Dika. "Tidak ada yang lu lukai. Lanjut kalau masih."
Pada jeda berikutnya petugas menawarkan pemeriksaan. Zafira menerimanya. Ia boleh meminta hasil pemeriksaan tidak disiarkan sebagai bahan promosi, tetapi keinginan menjaga privasi tidak membuat keluhan boleh disembunyikan. Setelah dinilai dan dapat melanjutkan, ia kembali bersama Dika. Papan pertandingan menampilkan nama Arabella.
Zafira tidak membuka ejekan di ponselnya. Di lapangan perempuan itu akan dihadapi sebagai atlet, bukan sebagai murid SMA yang harus dipermalukan karena cerita lama.
Wasit memanggil. Zafira masuk tanpa menoleh ke tribun untuk mencari kekuatan. Arabella sudah di seberang.
"Masih ingat saya," kata Arabella. "Jangan sembunyi. Rumah bukan tempat karateka."
"Saya tidak membalas pesan," kata Zafira. "Di sini saya lawan. Bukan hutang SMA. Jangan dicampur."
Wasit memulai. Awalnya rapat. Angka berganti, tidak ada yang mudah. Sekali wasit memberi Arabella angka yang Zafira tidak setuju. Ia menelan bantahan. "Terima," katanya, cukup untuk dirinya. Dika tidak berteriak instruksi. Albian tidak berteriak sama sekali.
Arabella bicara lagi di sela, tentang rumah dan sembunyi. Zafira tidak menjawab. Wasit memisahkan mereka tanpa perlu diberi cerita sekolah. "Tidak ada cerita," kata Zafira, hanya pada Dika di jeda pendek. "Jika Zafira cerita, Zafira akan bertanding untuk masa lalu. Masa lalu tidak memakai nomor hari ini. Nomor hari ini yang Zafira selesaikan."
"Jangan cerita," kata Dika. "Angka saja. Jika lu marah, marah tidak jadi alasan melukai. Gua tarik lu jika gua lihat itu. Bukan jika lu hanya diam."
"Zafira diam," katanya. "Zafira tidak baik. Tidak perlu dibalas dengan kata kuat. Kuat tidak Zafira minta."
Angka berpindah lagi. Ada saat Zafira unggul, ada saat imbang. Penonton ingin teriakan. Ia tidak memberi. Sheila tidak berdiri. Albian tidak berpindah tempat.
Pertandingan berlangsung ketat. Arabella sempat kehilangan ketenangan dan diperingatkan wasit. Zafira tidak membalas dengan gerakan liar. Ia menerima angka yang diberikan, lalu menang pada akhir babak. Itu membawanya ke final, bukan menyelesaikan seluruh kemarahannya tentang masa lalu.
Di final, lawan yang belum dikenalnya bertanding lebih tenang. Pada awalnya angka berimbang, kemudian lawan unggul. Ketika bahu Zafira terasa lebih sakit, ia memberi tahu Dika dan petugas. Pertandingan dihentikan untuk pemeriksaan; ia tidak meneruskan satu bagian tambahan hanya supaya tampak berani.
Keputusan tidak melanjutkan dibuat setelah penilaian. Hasil final dicatat sebagai kekalahan Zafira, dan panitia mengonfirmasi perak yang sudah menjadi hasilnya sebagai finalis. Ia tidak menyebutnya emas yang dicuri rasa sakit. Ia juga tidak menganggap pemeriksaan sebagai penghinaan terhadap ketangguhannya.
Zafira tidak tersenyum. Ia menunduk pada lawan, pada wasit, pada bendera yang ada di ruangan itu, tanpa pidato. "Kalah," katanya pada Dika. "Hasil. Bukan aib. Bahu tadi lebih sakit, dan Zafira berhenti setelah diperiksa. Zafira tidak minta diulang hari ini."
"Tidak diulang," kata Dika. "Perak lu. Bukan gua. Bukan dia. Pulang. Tidak ada latihan. Keterangan kepada petugas medis tetap diberikan; kisah pribadi tidak perlu dijadikan promosi."
Panitia ingin kalimat untuk pengeras suara, atlet yang kembali. Dika menggeleng. Zafira menggeleng. "Tidak. Saya tidak kembali sebagai cerita. Saya kalah di final. Itu yang boleh disebut. Cedera bukan pertunjukan."
Di perjalanan pulang ia mengakui kecewa karena kalah. Sheila tidak menghapus hasil itu dengan menyebutnya juara emas di hati semua orang. Mereka boleh menghargai usaha tanpa mengganti angka. Albian menunggu sampai Zafira ingin berbicara; ia tidak turun mengambil medali atau menganggap kekalahan itu tanggung jawab perusahaan.
Sesudahnya Zafira mengikuti pemeriksaan lanjutan untuk keluhan yang kembali muncul. Kegiatan dikurangi sesuai anjuran, lalu ditinjau lagi. Ia tidak memaksa mencapai tanda lama di halaman agar catatan terlihat sama.