Sesudah pertemuan itu, Zafira tidak segera mampu bercerita panjang. Ia lega telah mendengar pengakuan langsung, tetapi kemarahannya belum hilang. Sheila yang hadir di sana tidak memintanya mengulang ucapan ayahnya demi sebuah laporan yang terdengar lebih rapi.
Zafira mengikuti kegiatan pemulihan yang sudah disepakati. Jika merasa sedih, ia mengatakannya, bukan menambah beban latihan agar tampak tidak tersentuh. Dika tetap pelatih dan sepupunya; ia tidak diminta menilai apakah Zafira cukup berbakti kepada ayah.
Keesokan siangnya Zafran datang ke toko. Bukan ke rumah. Sheila melihatnya dari dapur kecil sebelum Kimi sempat bertanya. Ia menyuruh Kimi ke etalase.
"Ke depan," kata Sheila. "Istirahat tetap istirahat. Kalau ada yang bertanya, bilang tidak tahu. Jangan masuk. Jangan sebut nama."
"Baik, Bu." Kimi tidak melihat siapa yang berdiri di kantor kecil. Pintu ke dapur Sheila tutup.
Zafran tidak duduk di kursi yang biasa dipakai Zafira. Sheila tidak menawari kursi itu.
"Saya menyesal," kata Zafran. "Kemarin sudah saya katakan. Saya ingin bertemu lagi. Saya juga ingin kamu kembali, supaya anak itu tidak hanya tinggal di satu rumah."
"Tidak," kata Sheila. "Penyesalan kemarin tidak membuka hari ini. Ia tidak memberi tanggal. Saya tidak kembali. Saya tidak menjadi juru bicara. Saya tidak menerima apa pun yang mengganti hinaan. Penyesalan yang menuntut pintu baru bukan perubahan. Perubahan, kalau ada, tidak lewat amplop dan tidak lewat saya."
Zafran meletakkan amplop di meja. "Untuk keperluan dia. Bukan untuk membeli. Supaya saya tidak hanya berkata. Alamat rumah juga, supaya saya bisa minta maaf dengan benar, tidak di toko."
Sheila tidak menyentuh amplop. "Angkat kembali. Uang di meja ini sama dengan ucapan lama. Alamat tidak saya beri. Maaf yang butuh alamat rumah sudah salah pintu. Kemarin ada ruangan. Kemarin selesai untuk hari itu. Toko ini bukan susulan."
"Keluarga saya ingin melihatnya," kata Zafran. "Sekali. Supaya tidak seperti ia disembunyikan."
"Jangan bawa mereka," kata Sheila. "Jangan ke rumah. Rumah tidak Pak ketahui alamatnya, dan tidak akan saya beri. Toko ini juga bukan ruang keluarga. Kalau mereka datang, saya tolak di pintu yang sama. Ia yang membuka kalau suatu hari ia mau. Bukan Pak. Bukan saya. Bukan mereka."
Zafran mengambil amplop. Ia tidak meminta maaf untuk percobaan itu. "Saya pergi. Saya tidak mengikuti kamu pulang."
"Jangan mengikuti," kata Sheila.
Kimi mengetuk sekali dari depan, bukan karena ingin tahu, karena ada pembeli yang menunggu kembalian. Sheila membuka hanya selebar suara. "Sebentar. Kamu tetap di depan. Tidak ada nama."
"Baik, Bu."
Zafran tidak memakai sela itu untuk menyusul ke etalase. Sheila berdiri di ambang sampai ia pergi. Amplop di tangannya, bukan di meja. Tidak ada pelukan yang diminta pada Sheila. Tidak ada kalimat yang memaksa mantan istri menjadi jalan. Sheila mencuci tangannya, bukan karena kotor, karena ia tidak mau sisa meja itu ikut ke rumah sebagai benda.
Ia menunggu Zafran keluar. Kimi tidak dapat cerita. Pembeli tidak dapat nama. Sheila mengunci kantor kecil, menyelesaikan pesanan yang memang harus selesai, lalu pulang.
Di rumah ia menyampaikan sebelum melepas sepatu jauh-jauh. "Ada. Tidak saya tahan. Zafran ke toko. Bukan ke gang. Ia minta bertemu lagi. Ia minta saya kembali. Ia taruh amplop. Ia bilang keluarganya ingin melihat kamu. Saya suruh angkat amplop. Saya tidak kembali. Saya tidak beri alamat. Kimi tidak melihatnya. Kimi tidak dapat nama."
"Itu bukan perubahan. Penyesalan yang dibawa bersama uang tetap hinaan. Mengajak Bunda kembali bukan urusan Zafira yang harus didamaikan. Keluarga besar tidak diundang. Alamat tidak boleh lepas. Zafira tidak ke toko. Zafira tidak ke rumahnya. Jarak tetap."
Sheila menyimpan buku pesanan kembali ke tempatnya. Amplop sudah dibawa Zafran pulang. Ia tidak menerima uang itu untuk nanti dipertimbangkan, tidak menyimpan alamat yang diminta, dan tidak setuju kembali menjadi istrinya.
Zafira melihat bahwa pengakuan di ruangan tertutup belum mengubah kebiasaan ayahnya mencari jalan yang ia tentukan sendiri. Ia tidak memberikan janji maaf agar ayahnya berhenti datang. Sheila akan menolak permintaan yang sama jika diulang, tanpa selalu memanggil putrinya untuk menghadapi percakapan itu.
Beberapa hari kemudian Zafira mengajak Albian bicara. Ia belum menyebut nama Zafran. Ia hanya mengatakan bahwa ia sudah bertemu ayahnya, belum memaafkan, dan tidak ingin pernikahan orang tuanya disusun kembali.
"Jangan dihubungi," kata Zafira. "Jangan tanya pada ayah Bapak. Jangan diselesaikan."
Berhenti lagi. Ia hampir berkata toko. Kata itu tidak keluar. Ia hampir berkata uang. Kata itu juga tidak keluar. Napasnya pendek. Ia tidak menutupnya dengan senyum.
"Jangan ditebak," katanya.
"Saya tidak menebak," kata Albian. "Saya tidak mengisi yang kosong. Kosong itu bukan soal yang saya menangkan."
"Saya tidak menyambung," kata Albian. "Saya tidak menanyakan nama. Saya tidak menanyakan tahunnya. Saya tidak menanyakan apa yang ditawarkan. Saya tidak bertanya pada Papi. Saya tidak akan menghubungi siapa pun dari kalimat yang belum kamu ucapkan."
"Cukup itu," kata Zafira. "Zafira sulit yang lain. Sulit bukan ujian. Sulit bukan minta Bapak menghibur. Bapak tidak membawa jalan. Bapak tidak membawa kantor. Bapak tidak membawa ibu Bapak. Bapak boleh tetap di kursi itu. Zafira perlu jeda sebelum melanjutkan."
"Saya tidak membawa," kata Albian. "Saya tidak akan bilang kamu kuat karena duduk di sini. Duduk di sini tidak membuatmu wajib percaya. Penyesalan orang lain, yang tidak saya dengar, tidak saya jadikan alasan kamu harus lebih lembut pada saya."
Zafira memandang tangannya, bukan bahunya. "Perubahan belum. Zafira jaga jarak. Bukan tugas Bapak menjaga. Kalau Bapak ingin membereskan, pulang. Zafira tidak sedang mencari yang membereskan."
"Saya tidak membereskan," kata Albian. "Saya dengar yang kamu beri. Yang tidak kamu beri, saya tinggalkan di mulutmu. Saya tidak menyimpannya sebagai teka-teki. Saya tidak menanyakan pada Mami. Adela tidak saya beri. Sandi tidak saya beri. Papi tidak saya tanyai sesudah ini, termasuk dengan kalimat yang terdengar tidak sengaja."
"Jangan," kata Zafira.
Setelah mengatakan cukup, Zafira boleh diam. Albian tidak menghubungi Lutfi untuk mencari nama yang belum diberikan. Ia juga tidak meminta gadis itu tersenyum agar ia yakin kunjungannya berguna. Ketika mereka akhirnya berpisah, Zafira berterima kasih karena sudah didengarkan. Ucapan itu tidak menjadi utang untuk membuka sisa cerita.
Malamnya ia makan bersama Sheila. Pembicaraan tentang ayah telah berhenti, dan mereka dapat membahas pesanan toko yang jumlahnya keliru tanpa merasa mengkhianati rasa sakit yang masih ada. Zafira tidak harus memilih antara menangis sepanjang malam dan berpura-pura sembuh.