Pada suatu pagi, sesudah Zafira menyelesaikan kegiatan pemulihan yang sesuai, Sheila menyampaikan kabar dari Lutfi. Tidak ada tamu yang menunggu di pagar.
"Pak Lutfi menelepon tadi," kata Sheila. "Ia meminta Bunda menyampaikan pertanyaan kepadamu, bukan menjawab atas namamu."
"Sampaikan," kata Zafira. "Jangan Bunda rapikan."
"Sebulan lagi ada rapat yang sudah terjadwal," kata Sheila. "Zafran ada di ruangan itu. Pak Lutfi bilang, kalau pembicaraan menyentuh keluarga, Zafran akan mengulang kalimat yang sudah sering ia ucapkan. Ia akan berkata tidak punya anak. Pak Lutfi tidak mau mengangguk. Ia juga tidak mau membetulkan kalimat itu di meja kerja, karena nama kamu akan jadi bahan staf. Ia minta keputusan sebelum tanggal itu. Bukan besok. Bukan dengan membawa Zafran ke rumah ini. Ia tidak memberi tahu kantor, Sandi, atau anaknya."
Zafira tidak tersenyum. "Itu kabar. Bukan pertemuan. Zafira dengar lewat Bunda, seperti Zafira minta dulu. Bunda tidak menahan. Bagus. Bunda juga tidak menjadwalkan Zafira."
"Bunda tidak menjadwalkan," kata Sheila. "Tanggal rapat itu milik pekerjaan mereka. Bukan tanggal yang Bunda siapkan untuk kamu. Bunda tidak janji kamu akan hadir."
Zafira membuka buku, bukan untuk menambah langkah.
"Zafira tidak ingin nama Zafira jadi bahan rapat," katanya. "Pak Lutfi tidak perlu ikut berbohong. Tetapi kalau ada jawaban tentang keluarga, itu bukan untuk staf."
Sheila menyampaikan keputusan itu. Zafira meminta waktu untuk memikirkan apakah ingin mendengar ayahnya sekali lagi. Ia tidak membuat pertemuan sebagai syarat kembali berlatih atau sebagai bukti akan menerima Albian.
Sebulan kemudian, ketika hari rapat itu tiba, ia memilih menjawab. Ia bersedia bertemu Zafran dua hari sesudahnya di ruangan tertutup, didampingi Sheila. Lutfi hanya akan membuka pertemuan lalu meninggalkan mereka. Tidak ada alamat rumah yang diberikan, dan keluarga besar tidak ikut diundang.
Keesokan harinya, di ruang yang Sandi tidak masuki, Lutfi duduk lebih dulu. Tidak ada notulen. Tidak ada Albian. Zafran masuk dan masih memakai kalimat yang sudah bertahun-tahun menyelamatkan meja kerja.
"Saya tidak punya anak," katanya, hampir ringan. "Kalau rapat kemarin ada yang bertanya, saya sudah menjawab begitu. Kamu diam. Itu cukup."
"Diam saya bukan setuju," kata Lutfi. "Saya tidak mengangguk di rapat kemarin. Saya tidak menyebut nama. Pembetulan di depan staf akan membuat orang yang tidak ikut memutuskan jadi bahan bisik. Karena itu kalimat tidak punya anak tidak menutup percakapan ini. Saya panggil Pak ke ruangan tertutup. Besok ada pertemuan. Putri Pak akan ada. Saya bukan juru bicaranya."
Zafran diam. "Kamu tidak punya hak membuka rumah tangga saya."
"Saya tidak membuka rumah tangga," kata Lutfi. "Saya menolak berbohong bersama Pak. Bertahun-tahun saya menerima kalimat tidak punya anak karena kalimat itu membuat kerja lebih mudah. Itu salah saya. Salah itu tidak saya tukar dengan mengatur hidupnya. Ia yang memutuskan hadir. Saya hanya memastikan Pak tidak masuk dengan bohong yang sama."
"Ia memilih ibunya," kata Zafran. "Urusan lama. Tidak perlu diangkat supaya dua rekan merasa jujur. Saya bisa menulis. Lebih rapi. Tidak perlu perempuan duduk di kantor orang lain."
"Menulis itu cara tidak bertemu," kata Lutfi. "Ia tidak minta surat. Ia minta Pak ada, lalu ia yang boleh pergi. Surat akan Pak susun sampai aman. Saya tidak membawa surat sebagai pengganti. Jangan libatkan anak saya. Jangan libatkan istri saya. Mereka tidak duduk di pertemuan ini, dan mereka tidak menjadi alasan Pak."
"Urusan lama itu bukan bahan kejujuran saya," kata Lutfi. "Ia akan bertanya pada Pak soal penolakan yang Pak sudah tahu. Saya tidak mengulang hinaannya di mulut saya. Saya tidak membawa uang sebagai pembuka. Saya tidak mengundang ibu Pak. Saya tidak mengundang saudara Pak. Saya tidak memberi alamat. Saya tidak memberi tahu anak saya. Sandi tidak mencatat. Kalau Pak menolak datang, saya tetap tidak akan mengangguk di rapat, dan saya tetap tidak akan mengucapkan nama itu untuk Pak."
Zafran memandang meja, bukan sebagai orang yang kalah di bisnis. "Kamu mau saya mengakui apa. Warisan? Nama di perusahaan?"
"Bukan warisan," kata Lutfi. "Saya tidak membawa bagian harta. Kalau Pak membawa amplop, pertemuan selesai sebelum dimulai. Yang diminta darinya ialah jawaban sebagai ayah yang menolak. Bukan sebagai rekan yang menawar damai. Saya keluar sesudah saya bilang kalimat tidak punya anak tidak berlaku di ruangan itu. Sisanya bukan meja saya."
Zafran akhirnya menerima pertemuan itu. Ia tidak memperoleh alamat rumah atau nama dalam daftar tamu rapat. Lutfi menyampaikan persetujuan tersebut kepada Sheila pada hari yang sama.
Dua hari setelah keputusan Zafira, Sheila mengantarnya ke tempat yang disepakati. Gadis itu tidak memakai medali, tidak membawa daftar harta, dan tidak menyiapkan pelukan. Lutfi mengatakan bahwa klaim tidak mempunyai anak tidak dapat dipakai untuk menutup pembicaraan, lalu keluar.
"Pak," kata Zafira. "Zafira yang menentukan topik. Penolakan dulu. Bukan warisan. Bukan Bunda kembali. Zafira boleh pergi. Kalau Zafira pergi, selesai. Jangan panggil Zafira Nak untuk melembutkan."
Zafran diam. Sekali ia hampir berkata bahwa ibunya yang menjauhkan anak. Sheila tidak menjawab. Zafira yang memotong.
"Jangan," kata Zafira. "Zafira bukan hadiah di antara dua orang tua. Bunda tidak Zafira pakai untuk memenangkan kursi. Pak tidak Zafira pakai untuk menghukum Bunda. Topiknya tetap penolakan Pak. Kalau Pak pindah ke salah Bunda, Zafira pergi."
"Saya tidak pindah," kata Zafran.
Zafran meletakkan tangannya di meja. Tidak ada amplop. "Kamu anak saya. Saya yang mengatakan tidak punya anak, bertahun-tahun, termasuk pada rekan kerja. Itu bohong. Bohong itu saya yang ucapkan."
"Kelas lima," kata Zafira. "Zafira minta bertemu. Zafira memakai baju yang Zafira pilih. Zafira mau dipeluk. Bunda antar sampai pintu dan tidak masuk sebagai juru bicara. Yang Zafira terima bukan pelukan. Penolakan. Hinaan. Seolah Zafira datang minta uang. Zafira mau Pak sebut itu. Bukan harta yang terlambat."
Sheila tidak menyela. Ia duduk di kursi yang tidak lebih dekat.
Zafran menatap meja, lalu menatap Zafira. "Saya menolak kamu. Saya mengataimu seperti orang yang datang karena uang. Kamu tidak membawa permintaan harta. Kamu membawa badan yang mau dipeluk. Saya tidak memeluk. Saya memilih kalimat yang membuat saya tidak punya anak, karena kalimat itu lebih mudah daripada menjadi ayah yang sudah pergi. Itu pengabaian. Bukan salah ibumu. Bukan salah kamu. Kamu anak saya, dan saya yang menolak."
"Zafira dengar," kata Zafira. "Zafira tidak memaafkan. Zafira tidak memeluk. Zafira tidak pulang ke rumah Pak. Bunda tidak kembali. Keluarga besar Pak tidak Zafira temui. Mereka pernah mau Zafira datang supaya keluarga kelihatan utuh, dan pernah membawa curiga uang. Itu bukan topik yang Zafira buka hari ini, dan mereka tidak diundang untuk mendengar pengakuan Pak."
"Saya bisa memperbaiki," kata Zafran. "Ada yang bisa diatur. Nama. Biaya. Supaya penolakan itu tidak tinggal sebagai hinaan."
"Uang itu hinaan yang sama," kata Zafira. "Zafira tidak datang untuk ditawar. Zafira datang supaya penolakan itu punya pemilik. Pemiliknya Pak. Selesai untuk hari ini bukan damai. Zafira tidak memberi tanggal susulan. Kalau suatu hari Zafira mau mendengar lagi, Zafira yang buka. Bukan Pak. Bukan keluarga Pak. Bukan lewat kantor."
"Kapan lagi," kata Zafran.
"Tidak ada kapan dari Pak," kata Zafira. "Tidak minggu ini. Tidak dari rapat. Tidak dari ibu Pak. Zafira tidak memberi jadwal supaya pintu terasa sudah terbuka. Terbuka hari ini artinya Zafira mendengar. Besoknya belum."
Zafran tidak menjangkau tangannya. "Saya menyesal. Penyesalan itu tidak saya tukar dengan pelukan yang kamu tidak beri."
"Jangan ditukar," kata Zafira. "Bunda juga tidak Pak minta kembali. Cerai itu tidak diselesaikan di kursi ini."
"Saya tidak kembali," kata Sheila. "Saya antar anak saya karena ia yang mengizinkan. Saya bukan bagian dari tawaran damai."
Zafira berdiri. Bahu menarik ketika ia terlalu cepat, dan ia tidak menjadikan tarikan itu alasan tinggal. "Cukup. Zafira pergi. Pak tidak mengikuti. Pak tidak bertanya alamat. Pak tidak menitip pesan pada Pak Lutfi untuk anaknya."
Zafran tetap duduk. "Saya tidak mengikuti."
Di luar, Lutfi tidak bertanya apakah sudah damai. Sheila mengangguk sekali, artinya selesai, bukan artinya baik. Mereka pulang. Zafira tidak naik motor. Tidak ada mobil Zafran di belakang.
Di mobil, Zafira tidak berkata bahwa ia baik-baik saja. Sheila tidak bertanya. Sesampainya, pagar ditutup. Tidak ada mobil yang mengikuti.