Waktu berlalu bersama kontrol dan kegiatan yang perlahan bertambah. Sesudah dapat duduk lebih nyaman, Zafira memilih mengajak Albian berbicara lagi. Ia tidak sedang menagih maaf yang sama. Ia ingin mengetahui bagaimana lelaki itu memperlakukan orang ketika tidak ada kopi tumpah atau ucapan terima kasih yang harus disampaikan.
"Pak Albian. Zafira yang mulai. Jadi jangan Bapak bawa maaf lama, sponsor, atau ayah. Hari ini Zafira mau bicara biasa tentang cara Bapak memandang perempuan, dan cara Zafira memandang laki-laki. Kalau Bapak membelokkan ini jadi membereskan, Zafira hentikan."
"Saya tidak membereskan," kata Albian. "Saya dengar. Saya juga bicara, kalau kamu izinkan bagian itu."
"Boleh," kata Zafira. "Jangan dijadikan alasan Zafira harus ikut memaafkan orang lain."
Albian mengangguk. "Saya terbiasa mengira perempuan yang mendekat sedang mengurus uang. Kebiasaan itu bukan kebenaran. Ada perempuan yang dikenalkan ibu saya, namanya Fina. Nama lengkapnya Stefani Amabel. Saya memberi perhatian, lalu saya bilang itu hanya hormat pada ibunya, bukan hubungan. Saya memakai kebiasaan itu untuk menaruh perempuan lain di kotak yang sama, termasuk kamu di lorong. Pengalaman itu tidak membenarkan hinaan. Kamu bukan dia. Kamu tidak harus menjadi pengecualian supaya hinaan waktu itu terasa pintar. Kamu seharusnya tidak dihina."
Zafira tidak meminta sisa cerita Fina. "Zafira dengar kebiasaan itu. Zafira tidak mengadili dia hari ini. Zafira tidak mengundang dia. Nama itu tidak Zafira jadikan alasan percaya pada Bapak. Perhatian Bapak, maaf Bapak, dan berhenti menawarkan, tidak otomatis menjadi kepercayaan. Kepercayaan tidak muncul hanya karena Bapak duduk sopan dalam satu percakapan."
"Saya tidak menagih kepercayaan," kata Albian. "Saya juga tidak akan mengurai Fina sampai kamu merasa harus mengadili hidupnya. Ibu saya yang dulu mengenalkan. Itu tidak membuat ibu saya berhak atas hari ini. Saya tidak membawa pesan Mami. Kamu bukan contoh yang saya pakai untuk membandingkan perempuan lain, dan Fina bukan musuh yang saya serahkan padamu."
"Jangan dijadikan musuh," kata Zafira. "Zafira tidak menang dari dia. Zafira tidak mau dihina. Dua kalimat itu tidak sama. Perhatian Bapak, walaupun sudah dijelaskan, tidak membeli percaya. Maaf lorong tetap di tempatnya. Sponsor tetap di lapangan. Ayah tidak masuk ke menit ini."
"Saya tidak memasukkan," kata Albian. "Saya tidak menunggu kamu melunak karena saya sudah menyebut kebiasaan saya dengan jujur. Jujur bukan pelunasan."
Zafira mengangguk sekali. "Itu cara bicara yang Zafira mau dengar. Bukan cara yang minta tepuk."
"Keputusan pada dia, nanti, harus diucapkan pada dia," kata Zafira. "Bukan dititip pada Zafira sebagai perempuan yang lebih benar. Zafira tidak menjadi pembanding. Zafira tidak menjadi alasan Bapak bersembunyi. Kalau Bapak bicara, katakan dengan jelas. Zafira tidak mau dijadikan alasan atau pembanding dalam keputusan Bapak. Itu tanggung jawab Bapak sendiri."
"Saya perlu bicara jujur kepada Fina," kata Albian. "Saya yang membiarkan harapan itu, bukan kamu. Saya tidak meminta kamu menyetujui keputusan saya tentang dia."
"Zafira tidak akan ikut. Dan jangan membawa nama Zafira untuk membuatnya merasa kalah."
Albian mengangguk. Pertemuan berikutnya akan ia atur langsung dengan Fina, jika perempuan itu bersedia. Ia tidak meminta Zafira menjadi penilai pembicaraan mereka atau mendengarkan laporan kata demi kata. Sebelum berpamitan, ia menanyakan apakah mereka boleh saling berkabar langsung. Zafira mengizinkan pertukaran nomor dengan kesepakatan sederhana: pesan tidak selalu harus segera dibalas, dan kunjungan tetap diatur bersama.
Sheila mendengar kesepakatan itu tanpa menyisipkan tanggal pernikahan. Hari itu Zafira bersedia mengenal Albian lebih jauh, tetapi belum berjanji menjalani hubungan.
***
Beberapa hari setelah percakapan itu, Albian menelepon Fina dan meminta waktu bertemu. Ia menyebut bahwa ia ingin membicarakan kedekatan mereka dengan jelas. Fina setuju memilih sebuah kafe. Tidak ada keluarga atau sekretaris yang diminta duduk di meja mereka.
Siang itu kafe tidak sepi dan tidak tertutup. Albian duduk di kursi yang terlihat dari jalan. Tidak ada map. Tidak ada bunga. Fina datang sendiri, tepat waktu, dan duduk di seberang. Ia tidak menggenggam tangan siapa pun. Albian tidak berdiri untuk menyambut seperti orang yang merindukan.
"Abi," kata Fina. "Kamu yang memanggil. Saya datang karena saya mau kalimatnya dari kamu, bukan dari ibu saya, dan bukan dari ibu kamu."
"Dari saya," kata Albian. "Sekali. Kamu boleh pergi kapan saja."
Fina meletakkan tangannya di atas meja, tidak menyeberang. "Kamu tidak pernah bilang kita pacaran. Itu benar. Tapi kamu memberi waktu. Kamu datang ketika ibu kamu mengenalkan saya. Kamu mendengarkan. Kamu membalas. Beberapa bulan itu saya membaca sebagai harapan. Lalu kamu bilang itu hanya hormat pada ibu saya, bukan hubungan. Hormat itu tidak menjelaskan perhatian yang kamu beri. Saya berharap karena kamu membiarkan saya berharap. Saya tidak minta kamu mengarang pernyataan yang tidak pernah ada. Saya minta kamu tidak menyangkal apa yang sudah kamu lakukan."
"Ibu kamu mendudukkan saya di antara tamu," kata Fina. "Bukan sekali. Saya membaca kursi itu sebagai harapan juga. Tidak ada yang bilang saya sudah milik keluarga. Tidak ada juga yang bilang saya hanya lewat. Diam di meja itu yang membangun. Saya tidak minta kamu mengarang undangan yang tidak ada."
"Kursi itu bukan pernyataan," kata Albian. "Saya yang membiarkannya diartikan. Seharusnya saya bilang waktu itu, bukan sesudah kamu berharap. Saya tidak akan menyebut diam itu hormat."
"Saya menyangkalnya," kata Albian. "Itu salah saya. Perhatian itu perhatian. Bukan hormat yang saya pinjam sesudahnya supaya saya tidak bertanggung jawab. Saya membangun harapan tanpa kalimat pacaran, lalu saya menolak arti harapan itu. Saya hentikan permainan itu hari ini."
"Hentikan dengan kalimat yang berdiri," kata Fina. "Jangan dengan cerita bahwa saya perempuan yang buruk. Jangan dengan ibu saya sebagai tameng. Ibu saya tidak duduk di kursi ini."
"Tidak ada cerita tambahan," kata Albian. "Saya tidak membawa bukti. Saya tidak mengadilimu. Tidak ada hubungan di antara kita. Perhatian saya berhenti. Saya tidak akan mengulang kedatangan, balasan, dan waktu itu, lalu menyebutnya hormat. Saya minta maaf karena membangun harapan dan menyangkalnya. Maaf itu tidak saya tukar dengan kesempatan baru."
Fina diam. Air di meja tidak dijadikan alasan untuk tersenyum. "Saya marah," katanya. "Saya juga lega karena kalimatnya jelas. Saya tidak akan memegang tanganmu dan meminta tinggal. Saya tidak mengubah diri supaya perhatian itu kembali. Kalau kamu berhenti, berhentilah di depan saya, bukan di belakang ibu kamu."
"Saya berhenti di depan kamu," kata Albian. "Tidak ada hubungan. Tidak ada lanjutan. Saya tidak meminta kita berteman seolah ini tidak terjadi."
"Apakah ada orang lain?" tanya Fina.
"Saya tidak membahas orang lain," kata Albian. "Keputusan tentang kita berdua tidak saya gantungkan pada nama yang tidak ada di meja ini. Tidak ada hubungan. Perhatian berhenti. Itu utuh tanpa jawaban yang kedua."
Fina mengangguk sekali. Matanya panas, tetapi ia tidak menjadikan air itu permintaan. "Saya tidak mau jadi bahan yang kamu ceritakan supaya kamu tampak jujur pada perempuan lain. Saya juga tidak mau ibu saya ditelepon untuk merapikan harga diri keluarga. Kalau ibu kamu ingin menjelaskan, suruh dia tidak menjelaskan pada saya. Saya sudah mendengarnya dari kamu."
"Saya tidak menyuruh siapa pun menelpon ibumu," kata Albian. "Saya tidak membawa pesan ibu saya hari ini. Peran dia mengenalkan, itu akan saya hentikan pada dia, bukan pada kamu. Kamu tidak harus mendengar koreksi itu."
"Cukup," kata Fina. "Saya tidak tinggal untuk menang. Saya juga tidak akan datang ke tempat yang bukan urusan saya. Kalau kamu mengirim bunga sesudah ini, saya baca sebagai perhatian yang kembali. Jangan."
"Tidak ada bunga," kata Albian. "Tidak ada pesan malam ini. Tidak ada ajakan makan untuk menetralkan marahmu."
Fina berdiri. "Saya pulang sendiri. Kamu tidak mengantar. Mengantar akan jadi perhatian lagi, dan kamu baru saja bilang itu berhenti."
"Saya tidak mengantar," kata Albian.
Albian membayar pesanannya sendiri dan tidak mengikuti Fina keluar. Ia tidak mengirim bunga untuk melunakkan keputusan yang baru diucapkan. Malam berikutnya ia berbicara dengan Julia di rumah, saat kedua adiknya sudah berada di kamar.
"Dulu Mami mengenalkan Fina pada Abi," kata Albian. "Abi yang memberi perhatian. Abi datang, mendengar, dan membalas. Tidak ada pernyataan pacaran. Lalu Abi bilang itu hanya hormat pada ibunya. Hormat itu Abi pakai untuk menyangkal harapan yang Abi bangun. Abi sudah mengatakannya langsung pada Fina. Tidak ada hubungan. Perhatian berhenti. Ia berharap karena Abi membiarkan harapan itu. Ia marah. Ia tidak meminta tinggal. Abi tidak membahas orang lain. Abi tidak membawa bukti baru. Abi tidak membuat dia bahan malu."
Julia meletakkan sendok. "Mami kira mengenalkan itu menolong. Mami tidak mau Abi sendirian. Mami tidak menyuruhmu menyangkal perhatianmu."
"Mami tidak mengucapkan penyangkalan itu," kata Albian. "Abi yang mengucapkan. Tapi Mami yang membuka pintu berkali-kali, lalu membiarkan Abi kabur di antara perkenalan dan hormat. Peran itu Abi hentikan. Mami tidak mengenalkan pasangan lagi. Bukan Fina. Bukan perempuan lain yang tidak perlu Abi sebut namanya. Mami tidak menelepon Ibu Sheila untuk membicarakan keputusan Abi tentang Fina. Mami tidak menelpon ibu Fina untuk merapikan cerita. Fina sudah mendengarnya dari Abi. Merapikan lewat ibu akan membuat keputusan Abi jadi gosip."
"Mami tidak menelpon," kata Julia. "Mami juga tidak mengirim Adela. Mami tidak mengirim kue. Mami tidak bertanya pada Papi supaya Papi yang menyampaikan. Kalau Mami dulu keliru dengan mengira perkenalan itu kebaikan, Mami terima koreksinya. Mami berhenti."
Ketika ia dan Zafira kembali berbicara, Albian cukup mengatakan bahwa Fina sudah mendengar keputusan langsung dan ia telah meminta ibunya berhenti mengatur perkenalan. Zafira tidak meminta bukti percakapan atau menanyakan apakah Fina menangis. Yang ingin ia lihat berikutnya ialah apakah Albian memegang ucapannya.
Ia sendiri belum selesai dengan prasangka bahwa perhatian dapat berubah menjadi tagihan. Ia mengatakan itu tanpa meminta Albian menjadi orang lain pada hari yang sama. Percakapan mereka kini kadang menyentuh kue yang dibeli untuk si kembar atau cerita toko; bila salah satu tidak ingin melanjutkan topik, yang lain berhenti. Zafira mulai mengetahui selera Albian di luar jas dan kantor, dan lelaki itu mulai mengenal gadis yang dapat bercanda tanpa menyembunyikan rasa sakit.