Dalam pekan-pekan berikutnya Zafira mengikuti pemeriksaan lanjutan. Demam tidak berulang, tetapi rasa tidak nyaman pada bahu belum boleh dianggap selesai hanya karena ia sudah dapat turun tangga. Dika menunggu penilaian tenaga medis sebelum menyusun kembali kegiatan. Pada awalnya ia hanya menemani berjalan santai; ketika keluhan mengganggu, kegiatan dihentikan dan dibicarakan pada kontrol berikutnya. Tidak ada tanggal kejuaraan yang dijadikan tenggat untuk sembuh.
Zafira bosan. Motor hadiah ulang tahun kedua puluh satunya masih terparkir, dan suara teman-teman berlatih kadang terdengar lewat telepon Dika. Ia ingin kembali menjadi orang yang bergegas dari gedung latihan ke toko, bukan orang yang menghitung tenaga untuk bangun dari kursi. Namun ia mulai dapat mengatakan bosan tanpa diam-diam mengambil kunci motor.
Sheila pergi ke toko pada jam biasa dan menata bantuan di rumah sesuai kebutuhan. Ia tidak perlu memperlihatkan setiap pesan kurir kepada Zafira. Yang mereka sepakati ialah tidak menjawab permintaan pertemuan keluarga atas nama putrinya tanpa bertanya lebih dahulu.
Pada suatu pagi di kantor, Sandi meletakkan draf di meja Albian. Bukan amplop dari rumah siapa pun. Kertas itu laporan sponsor kejuaraan, dan satu paragraf menonjolkan juara provinsi. Di situ ada tambahan yang tidak berasal dari pengumuman resmi. Staf sudah beredar cerita bahwa juara itu menolong ibu pemilik.
Albian membaca sampai paragraf itu, lalu meletakkan pena di atasnya.
"Hasil pertandingannya memang diumumkan," kata Sandi. "Alamat saya tidak punya. Saya tidak mencari. Saya pikir perusahaan bisa menampilkan dia, karena namanya naik, dan karena cerita itu."
"Coret paragraf ini," kata Albian. "Hentikan cerita itu di staf. Sponsor yang sudah ada untuk kejuaraan, untuk atlet yang bertanding. Bukan untuk satu wajah yang kita pilih karena urusan rumah. Tidak ada atlet lain yang digeser supaya dia lebih kelihatan. Tidak ada kunjungan perusahaan. Tidak ada permintaan agar dia mewakili kita."
Sandi mencoret di tempat, tidak menunda ke map lain. "Saya hapus. Saya tidak menghubungi. Saya tidak minta alamat pada siapa pun."
"Termasuk tidak pada Papi," kata Albian. "Alamat itu bukan arsip kantor. Kamu tidak menyimpan draf yang sudah dicoret. Kamu tidak menjadikan penolakan ini bahan rapat."
"Baik, Pak."
Sandi keluar dengan kertas yang paragrafnya sudah mati. Albian tidak memanggilnya kembali. Ia membuka daftar sponsor yang sudah berjalan, bukan untuk mencari celah, untuk memastikan tidak ada nama yang dihapus hari ini. Nama-nama atlet yang sudah masuk di kejuaraan itu tetap. Nama Zafira tidak ada di sana sebagai wajah, dan ia tidak mengetiknya.
Sebelum laporan itu beredar, Albian meminta Sandi menelusuri siapa yang sudah menerima draf agar paragraf yang sama tidak dipakai lagi. Ia tidak meminta sekretarisnya mencari Zafira. Melalui Lutfi, ia menyampaikan kepada Sheila bahwa cerita pertolongan di mal tidak akan dijadikan iklan.
Zafira memilih menerima penjelasan singkat di rumah. Ia ingin memastikan prestasinya dan daftar atlet lain tidak berubah menjadi urusan utang keluarga.
Albian meletakkan kedua tangan di lutut. "Sekretaris saya menyusun draf. Draf itu menampilkan kamu sebagai wajah sponsor, karena hasil provinsi, dan karena kabar di staf bahwa kamu menolong ibu saya. Saya coret. Saya larang dia menghubungimu. Saya larang dia mencari alamat, termasuk pada ayah saya, Pak Lutfi. Sponsor yang sudah berjalan tetap untuk kejuaraan dan untuk atlet yang bertanding. Tidak ada yang disingkirkan supaya kamu lebih kelihatan."
"Daftar yang sudah ada?" tanya Zafira. "Zafira tidak mau ada nama atlet lain yang hilang hari ini supaya rumah Bapak kelihatan baik."
"Saya cek sebelum ke sini," kata Albian. "Tidak ada yang dihapus. Namamu tidak saya masukkan. Daftar itu tetap daftar kejuaraan, bukan daftar terima kasih."
"Lanjut," kata Zafira. "Zafira mau dengar apakah keputusan itu digantung."
"Tidak digantung," kata Albian. "Bukan pada kamu menerima saya. Bukan pada kamu memaafkan lorong. Bukan pada kamu dekat dengan keluarga saya. Kedekatan yang belum kamu beri tidak saya pakai sebagai syarat. Sponsor itu sudah ada sebelum saya duduk di sini. Saya tidak memperbesarnya karena kamu, dan saya tidak mengancam mencabutnya kalau kamu menolak saya."
Zafira mengubah posisi agar bahunya tetap nyaman. "Nasional yang Zafira mau bukan nilai keluarga Bapak. Bapak bukan pelatih. Atlet lain tetap di tempat mereka. Zafira tidak menukar olahraga dengan terima kasih. Zafira juga tidak sedang sembuh untuk perusahaan."
"Saya terima semuanya," kata Albian. "Saya tidak menawar. Saya tidak membuat jabatan supaya kamu ada di bawah saya. Saya tidak bertanya kapan kamu turun. Sasaran latihan kamu, saya tidak sentuh."
"Kalau staf bertanya lagi, Bapak jawab apa?" kata Zafira.
"Saya jawab sponsor tetap untuk kejuaraan," kata Albian. "Saya tidak menceritakan mall. Saya tidak menceritakan rumah ini. Saya tidak menyebut kamu sebagai utang keluarga. Kalau ada yang mengulang usulan wajah, saya tolak lagi. Saya tidak meminta izin baru setiap kali untuk menolak. Izin hari ini supaya kamu mendengar. Bukan supaya saya memakai namamu."
"Itu yang Zafira perlu dengar," katanya. "Zafira ingin ke jenjang nasional lewat latihan dan seleksi, bukan karena mengenal keluarga Bapak."
Albian menerimanya. Ia tidak mengubah percakapan menjadi tawaran pekerjaan. Selepas ia pulang, Zafira mengabari Dika tentang keputusan perusahaan itu, secukupnya agar pelatihnya tidak terkejut bila mendengar draf lama. Mereka kemudian membicarakan perkembangan pemulihan yang memang menjadi urusan latihan.
Pada satu sore yang lebih tenang, Sheila mengakui bahwa masih ada kabar keluarga Zafran yang dahulu ditahannya. Zafira meminta ia bercerita keesokan pagi. Kali ini ia tidak ingin mendengar penggalan yang kemudian harus ditebaknya sendiri.
***
Keesokan pagi, sesudah sarapan, Sheila memenuhi janjinya. Buku latihan diletakkan di kursi lain. Tidak ada keluarga Zafran yang menunggu di luar pagar.
"Waktu Bunda pulang dari kantor toko dan menyampaikan pertanyaan Pak Lutfi, Bunda bilang Zafran ayahmu, pernikahan itu berakhir saat kamu kecil, dan kelas lima kamu ditolak. Bunda tidak menjanjikan pertemuan. Yang Bunda tahan, dan tidak Bunda tambahkan malam itu, ialah permintaan keluarga besarnya."
Zafira tidak tersenyum. "Seluruhnya. Jangan Bunda pilih yang enak."
"Sesudah kelas lima, ibu Zafran dan saudara-saudaranya meminta pada Bunda," kata Sheila. "Bukan sekali. Mereka minta Bunda membawa kamu, supaya kamu dilihat keluarga ayah, dan supaya keluarga itu tidak merasa terputus. Mereka bilang anak tidak boleh disembunyikan. Mereka bilang Bunda menjauhkan kamu karena sakit hati. Salah satu dari mereka bilang, kalau kamu datang, mereka akan lihat kamu datang karena rindu atau karena uang."
Kalimat terakhir ia ucapkan pelan, tidak karena malu pada anaknya, karena kata itu masih kasar. Zafira memegang tepi meja. Jari tidak gemetar. Tidak lepas.
"Bunda menolak," kata Sheila. "Bunda tidak menyeret kamu kembali supaya mereka merasa utuh. Bunda takut kamu dilukai lagi. Kamu sudah minta pelukan dan menerima hinaan. Bunda tidak mau permintaan mereka menjadi panggilan kedua, dengan curiga yang sama, sementara kamu masih anak. Karena itu Bunda tidak menceritakan seluruhnya padamu waktu itu. Malam Bunda lapor soal Pak Lutfi, kamu sedang terluka dan sudah menolak bertemu. Bunda tetap salah kalau Bunda mengira menunda itu sama dengan kamu tidak berhak tahu. Pagi ini kamu berhak. Bunda tidak membawa mereka ke pintu."
"Tidak ada yang menunggu di luar?" tanya Zafira.
"Tidak ada. Bunda tidak membalas siapa pun semalam. Bunda tidak membuat janji. Nama mereka tidak Bunda jadikan tamu."
"Mereka pernah sampai ke rumah ini?" tanya Zafira.
"Tidak ke rumah," kata Sheila. "Sekali ke toko, waktu kamu sudah lebih besar dan sedang di gedung. Bunda tidak memanggilmu pulang. Bunda bicara di kantor kecil. Pintu ke dapur Bunda tutup. Mereka tidak Bunda dudukan di tempat kamu biasa duduk. Bunda bilang kamu tidak akan dibawa. Bunda bilang jangan membawa kata uang ke toko Bunda. Mereka pergi. Zafran tidak berdiri di pintu itu. Penolakan kelas lima tetap milik hari yang lain, milik dia, bukan milik kedatangan saudara-saudaranya. Bunda tidak menggabungkannya supaya kedengarannya satu peristiwa yang mudah."
"Alasan mereka dulu," kata Sheila. "Mereka ingin kamu dilihat. Mereka bilang anak perempuan tidak boleh tinggal hanya di rumah ibu. Mereka bilang Bunda menyimpan kamu karena marah pada Zafran, bukan karena kamu terluka. Mereka ingin keluarga besar utuh di mata orang. Itu permintaan mereka, bukan permintaan kamu, dan bukan kesimpulan Bunda bahwa mereka rindu dengan cara yang bersih."
"Alasan Bunda," kata Zafira.
"Bunda takut," kata Sheila. "Bukan takut nama Bunda jelek. Takut kamu berdiri lagi di pintu dan pulang dengan hinaan uang. Bunda sudah melihat baju yang kamu pilih sendiri. Bunda sudah melihat kamu ingin dipeluk. Bunda tidak mau menjadi orang yang mengantar kamu ke curiga yang sama, lalu bilang itu demi keluarga. Karena itu Bunda menolak membawa kamu. Karena itu juga Bunda menahan ceritanya. Menahan itu melindungi kamu waktu kamu anak. Menahannya sampai kamu dewasa, tanpa kamu minta, itu yang Bunda serahkan sekarang supaya kamu yang nilai. Bunda tidak minta dinilai baik."
"Zafira dengar dua-duanya. Alasan mereka tidak Zafira jadikan bukti mereka sayang. Alasan Bunda tidak Zafira jadikan utang maaf pada Bunda. Zafira tidak memaafkan ayah karena Bunda takut. Zafira tidak memaafkan keluarga itu karena mereka memakai kata utuh. Zafira juga tidak menyuruh Bunda kembali pada Zafran supaya cerita ini rapi."
"Bunda tidak akan kembali," kata Sheila. "Itu bukan syarat ketenangan kamu. Bunda tidak sedang menawar."
"Keputusan bertemu tetap di Zafira," kata Zafira. "Hari ini tidak. Selama masa pemulihan ini juga tidak. Kalau suatu hari Zafira mau mendengar lagi, Zafira dengar lewat Bunda lebih dulu, bukan lewat ayah, bukan lewat Pak Lutfi, bukan lewat anaknya. Mendengar alasan bukan membuka pintu. Kalau Zafira nanti bertemu, Zafira yang menentukan topik, dan Zafira yang boleh pergi. Itu belum Zafira pakai. Jangan Bunda siapkan tanggal."
"Tidak ada tanggal," kata Sheila. "Tidak ada pesan yang Bunda kirim ke mereka. Pak Lutfi tidak Bunda jadikan utusan untuk permintaan ini. Ia sudah dilarang membawa nama ayah ke Zafran. Larangan itu tetap."
Zafira mengangguk. "Tante Julia boleh tetap pada batas yang lama. Fakta yang sudah Zafira izinkan, dan larangan. Permintaan keluarga ini belum. Jangan ditambah ke rumah mereka hari ini. Nama ayah tidak menumpang pada cerita tolong, dan tidak menumpang pada sponsor."
"Bunda pegang," kata Sheila.
Sheila juga menyebut telepon Bagas yang belum lama ini diterimanya. Kakek Zafira dari pihak ayah masih ingin bertemu. Permintaan baru itu tidak membuat semua penolakan lama berubah menjadi ajakan yang harus diterima.
"Bunda tidak boleh menjawab iya untuk Zafira," katanya.
"Tidak. Bunda akan menyampaikan jawabanmu. Kalau belum ingin bertemu siapa pun, itu juga jawaban."
Zafira belum mengizinkan kunjungan Bagas. Ia mengetahui kakeknya masih ada dan meminta waktu, tanpa menjadikan permintaan keluarga besar sebagai kewajiban untuk kembali pada ayahnya.
"Zafira sudah dengar alasannya," katanya. "Zafira tidak berubah jadi mau bertemu. Yang Zafira putuskan hari ini cuma bagian yang boleh diketahui Pak Albian, supaya ia tidak mendengar desas-desus dari ayahnya atau dari kantor. Bagian itu pendek. Sisanya tinggal di rumah ini."
Ia menghubungi Albian lewat Sheila dan memilih waktu singkat untuk berbicara. Kepada lelaki itu ia hanya menyebut bahwa keluarga ayahnya ingin bertemu dan ia belum bersedia. Nama Zafran tidak diberikannya. Albian sempat menawarkan bantuan lewat ayahnya, tetapi berhenti ketika Zafira mengatakan ia tidak meminta urusannya diselesaikan.
Albian mendengarkan tanpa mencoba mengubah keberatan menjadi persetujuan. Zafira belum membuka seluruh riwayat keluarganya. Sesudah percakapan di ruang tamu itu, ia kembali ke kamarnya tanpa merasa harus menambah cerita agar tamu merasa diterima.
Malamnya Sheila menolak permintaan pertemuan yang masih menunggu jawaban. Ia tidak menyalahkan putrinya saat menyampaikan penolakan, dan tidak menjanjikan tanggal pengganti.