Julia mengetuk pintu ruang kerja, tidak langsung masuk. Albian membuka. Lampu meja masih menyala. Dasi sudah ia lepas, tetapi laptop belum ditutup.
"Mami."
"Abi duduk. Mami tidak lama. Ini bukan urusan kantor, dan bukan urusan jodoh." Julia menunggu sampai anaknya benar-benar duduk. "Orang yang menolong Mami di mall namanya Zafira. Zafira Mecca. Atlet yang Papi ceritakan, yang naik podium hari itu. Dia yang merebut tas Mami. Dia juga yang terluka. Mami dan Papi sudah ke rumahnya, mengembalikan tas, dan berterima kasih. Malam ini Mami hanya menyampaikan nama penolong. Tidak lebih."
Albian tidak bertanya lebih dulu. Nama itu sudah ada di kepalanya sejak podium, sejak lorong, sejak parkir toko kue. Ia mengulang pelan, seperti memastikan bukan kebetulan bunyi.
"Zafira Mecca."
Ia melihat lagi, di dalam kepala, kopi di jas dan mulutnya sendiri yang menyuruh gadis itu pergi. Kalimat di podium yang ia kira kecil tidak kecil kalau orangnya yang sama dengan orang yang terluka karena ibunya. Ia tidak mengucapkan hinaan itu di depan Julia. Cukup ia tahu daftarnya belum lunas.
"Iya. Jangan kamu susul malam ini. Dia sedang istirahat. Punggungnya dijahit karena menolong Mami. Kamu tidak punya izin datang."
Albian menutup laptop. Jarinya berhenti di atas ponsel, lalu ia tarik tangan itu kembali. "Mami baru bilang sekarang."
"Karena baru boleh dibilang dengan utuh," kata Julia. "Nama penolong. Bukan cerita lain. Papi memegang sisanya, dan sisanya tidak untuk kamu."
Lutfi muncul di ambang, tidak melewatinya. "Papi di sini supaya kalimat itu tidak bertambah. Kamu dengar nama. Kamu tidak dengar alamat untuk disimpan. Kamu tidak menelepon Sandi. Kamu tidak menjadikan ini tugas sekretaris."
"Papi mengira Abi akan menyuruh Sandi mencari orang," kata Albian. Bukan sangkalan yang marah. "Abi memang hampir. Abi batalkan."
"Bagus," kata Lutfi. "Hampir itu sudah cukup buruk kalau sampai terkirim."
Albian menatap layar yang sudah gelap. "Abi bisa berangkat sekarang. Abi tidak perlu Sandi. Abi tahu kira-kira daerahnya dari cerita Papi, dan Abi bisa salah, lalu pulang. Itu lebih cepat daripada menunggu besok."
"Lebih cepat bukan lebih benar," kata Lutfi. "Kamu datang malam ini, kamu memakai alamat yang bukan kamu yang diberi. Dia sedang berbaring. Maaf yang datang tanpa izin hanya menenangkan kamu. Papi tidak mengizinkan itu."
"Abi tidak tenang," kata Albian. "Itu sebabnya Abi ingin berangkat."
"Tahan tidak tenang itu di rumah," kata Julia. "Besok, kalau ibunya mengizinkan, kamu bawa tidak tenang itu sebagai maaf. Malam ini kamu bawa tidak tenang itu ke kamar. Tidak ke mobil."
Dari ruang tengah terdengar langkah yang tidak berusaha pelan. Adela muncul dengan rambut masih setengah diikat, Adelia di belakangnya, lalu berhenti karena melihat wajah kakaknya.
"Mas kenapa diam begitu?" tanya Adela. "Mami tadi bilang Zafira. Zafira yang mana?"
Julia menoleh. "Kamu dengar dari lorong?"
"Dela dengar namanya," kata Adela. "Kakak yang di resto. Dela ketinggalan dompet, teman-teman sudah pulang, dia yang bayar. Namanya Zafira. Motornya keren. Dia suruh Dela langsung pulang."
Albian memandang adiknya, lalu ibunya. Berbagai peristiwa yang ia kira terpisah kini terhubung. Gadis di podium. Gadis yang menumpahkan kopi. Gadis di lampu merah yang ia kira laki-laki sampai helmnya terbuka. Penolong ibunya. Penolong Adela. Satu orang, dan mulutnya sudah menyebut orang itu dengan kalimat yang tidak layak diulang di depan adik.
Albian mengangguk, tetapi rahangnya belum lepas. "Abi menghina dia. Di lorong. Di parkir. Di podium juga, Abi selipkan kalimat yang tidak perlu. Abi tidak tahu dia yang menolong Mami. Itu bukan alasan. Abi tetap yang mengucapkannya."
"Kalau kamu mau minta maaf, minta maaf," kata Julia. "Jangan campur dengan tertarik. Jangan campur dengan sponsor. Dan jangan malam ini. Dia baru saja punya hari yang berat. Rumah itu bukan tempat kamu muncul untuk merasa lega."
"Besok Papi tanya," kata Albian. "Abi tidak menawar jam. Abi tidak menawar tempat. Kalau dia menolak, Abi terima. Abi juga tidak minta alamat malam ini. Alamat yang Papi punya dari kartu bukan milik Abi. Abi tidak akan menyalinnya, tidak akan mengirimnya ke kantor, tidak akan menitipkannya pada Sandi supaya kelihatan seperti kebetulan."
"Itu yang Papi tunggu," kata Lutfi. "Besok Papi bertanya pada ibunya. Kamu hanya menerima ya atau tidak. Kamu tidak memperbaiki tidak menjadi ya dengan datang sendiri."
Keesokan paginya Lutfi meminta izin melalui Sheila. Zafira mengenali nama Albian sebagai orang yang memakinya di lorong, mengejeknya di podium, lalu menghinanya lagi di parkir toko kue. Ia mau mendengar permintaan maaf, tetapi meminta ibunya tetap di rumah. Kunjungan disepakati untuk Jumat pukul empat sore, tanpa hadiah.
Albian datang sendiri. Ia tiba beberapa menit lebih awal dan menunggu sampai Sheila membukakan pagar. Zafira sudah duduk di ruang tamu, tidak perlu bangkit untuk menyambutnya.
"Pak Albian," katanya. "Zafira yang menolong ibu Bapak di mal, dan yang di resto menolong adik Bapak. Zafira juga yang menabrak Bapak di lorong. Jadi jangan mulai dari terima kasih seolah lorong itu tidak ada."
Albian meletakkan kedua tangan di lutut. "Saya tidak mulai dari terima kasih. Saya datang karena syarat kamu. Saya minta maaf."
"Sebentar," kata Zafira. "Zafira mau dengar Bapak tahu minta maaf untuk apa. Kalau Bapak minta maaf secara umum, Zafira anggap Bapak belum sampai."
Sheila duduk di kursi lain, tidak menjadi juru bicara. Albian mengangguk.
"Di lorong gedung, kopi saya tumpah karena kita bertabrakan. Kamu minta maaf. Kamu menawarkan bantuan membersihkan. Saya menolak dengan menghina. Saya berkata kamu tidak punya mata. Saya menyuruh kamu pergi. Saya menyebut kamu menyebalkan. Saya sempat mau bilang jas itu mahal. Saya hapus kalimat itu. Harga kain tidak mengubah urutannya. Kamu minta maaf lebih dulu. Saya yang memperbesar."
"Harga jas tidak Zafira tanya," kata Zafira. "Zafira tawarkan lap karena Zafira yang menabrak. Bapak menolak. Urusan selesai di situ kalau Bapak berhenti. Bapak tidak berhenti. Bapak menambah kata. Itu yang diminta maaf, bukan kopinya."
"Saya mengerti bedanya," kata Albian. "Kopi bisa dilap. Kata tidak kembali hanya karena saya sekarang duduk sopan. Makanya saya sebut kata-katanya, bukan cuma saya sebut tumpah."
"Lanjut," kata Zafira. "Parkir."
"Di parkir toko, saya memanggil kamu cewek barbar. Saya bilang perempuan sableng. Kamu sudah minta maaf sebelum itu. Saya mengulang hinaan karena saya mau menang, bukan karena baju saya masih rusak."
"Podium."
"Saya mengucapkan selamat, lalu saya selipkan terima kasih karena kamu sudah mengotori pakaian saya. Di depan orang. Setelah kamu menang. Itu bukan ucapan selamat. Itu cara saya menandai kamu."
Zafira menahan bahunya tetap di posisi yang tidak menarik jahitan. "Bapak belum menyebut ibu Bapak. Zafira tidak mau terima kasih itu menimpa maaf."
"Saya sebut sekarang, supaya tidak disimpan sebagai pembuka," kata Albian. "Ibu saya hidup dan tasnya kembali karena kamu. Adik saya pulang dari resto karena kamu membayarkan makanannya dan menyuruhnya tidak keluyuran. Saya berhutang ucapan terima kasih untuk dua hal itu. Saya tidak memakai hutang itu untuk mengurangi hinaan saya. Hinaan tetap hinaan. Tolong tetap tolong."
Zafira meletakkan telapak di lutut sampai gemetar halus itu reda. Ia tidak menyembunyikannya. "Zafira tidak akan bilang itu tidak mengenai. Mengenai. Zafira tetap duduk karena Zafira yang memilih mendengar, bukan karena Zafira wajib kuat di depan anak sponsor."
"Saya bukan datang sebagai sponsor," kata Albian. "Perusahaan Papi mensponsori kejuaraan. Itu tidak membuat saya berhak atas kamu, atas latihanmu, atau atas maafmu. Maaf saya tidak membeli apa pun."
"Kalau saya bilang saya kasar karena saya memperhatikan kamu," kata Albian, pelan, "saya sedang minta hinaan itu dimaafkan oleh ketertarikan. Itu tidak jujur. Saya kasar karena saya memilih kasar. Saya sedang marah pada hari saya, pada perempuan lain, pada kebiasaan saya menganggap perempuan mendekat karena uang. Kamu tidak membawa uang saya. Kamu membawa maaf untuk kopi. Saya yang menolaknya. Ketertarikan, kalau ada, tidak berhak duduk di sebelah alasan."
"Bapak menyebut perempuan lain," kata Zafira. "Zafira tidak meminta ceritanya. Zafira meminta Bapak tidak menaruh Zafira di kotak yang sama dengan dia, lalu menghina Zafira untuk menghukum kotak itu."
"Tidak," kata Albian. "Kamu bukan dia. Saya tidak akan menyebut namanya di rumah ini. Kamu tidak meminta ceritanya, dan cerita itu tidak saya jadikan tiket. Saya tidak berhak menghukum kamu untuk hal yang tidak kamu lakukan. Saya juga tidak berhak memuji kamu sebagai pengecualian supaya hinaan waktu itu terasa pintar. Kamu tidak harus menjadi pengecualian. Kamu harusnya tidak dihina. Titik."
Zafira menatapnya, mencari sisa nama yang tidak ia undang. Tidak ada. "Bagus Bapak tidak menyebut. Zafira tidak sedang mengadili hidup Bapak. Zafira sedang mengadili kalimat yang mengenai Zafira."
Albian tidak mengisi hening dengan cerita kantor. Ia juga tidak mengisi dengan nama perempuan yang sempat membuatnya marah. Nama itu tetap di luar rumah ini. Zafira tidak menanyakan. Sheila tidak menanyakan. Yang ada di sofa hanya daftar yang sudah disebut.
Sheila berdiri. "Saya isi air. Kalian lanjut. Saya dengar dari dapur kalau ada yang melewati batas."
Ia tidak menutup pintu. Di dapur ia mengisi kendi dan tidak menelepon siapa pun. Dari ruang tamu suara anaknya tetap datar, bukan senyum. Sheila kembali tanpa membawa kalimat penengah.
"Bunda tetap di sini," kata Zafira. Itu pengingat bahwa saksi tidak boleh hilang di tengah maaf.
"Saya di sini," kata Sheila.
Zafira mendengar maaf itu sampai selesai. Ia tidak mengatakan bahwa semua hinaan sudah menjadi lelucon, tetapi ia juga tidak meminta Albian mengulanginya sampai lelaki itu merasa hancur. Ketika bahunya mulai mengganggu, ia mengakhiri percakapan. Albian berterima kasih karena ibunya dan Adela telah ditolong, kemudian pulang.
Sheila kembali setelah menutup pagar. Zafira meminta berbaring. Mendengar maaf tidak langsung membuatnya percaya, dan ibunya tidak menyebut ketampanan atau jabatan tamu itu sebagai alasan untuk melupakan kemarahannya.