Rabu sore, Dika menemani Zafira di rumah. Setelah kontrol yang dijadwalkan, gadis itu masih perlu membatasi kegiatan dan belum kembali ke gedung latihan. Sheila berangkat ke toko. Kimi menjaga etalase ketika Lutfi tiba melalui pintu samping.
Di kantor belakang, Lutfi menyebut pertanyaan yang sejak Senin mengganggunya. Ia mengenal Zafran Uriya Atmadja sebagai rekan kerja, dan selama ini laki-laki itu selalu mengaku tidak mempunyai anak. Nama pada kartu Zafira membuatnya menduga ada hubungan yang tidak diketahuinya. Ia menunggu jawaban tanpa meminta dokumen keluarga.
"Zafira putri saya dengan Zafran," kata Sheila. "Mantan suami saya. Bukan anak yang disembunyikan dari akta, bukan anak yang ditukar, bukan ahli waris yang baru ditemukan. Pernikahan kami disusun keluarga. Saya menjalani. Dia menjalani karena diminta orang tuanya. Saya berusaha mencintai rumah itu. Dia tidak sampai ke situ."
Lutfi tidak menulis apa pun. Tidak ada pena di meja. Sheila memperhatikan tangannya tetap kosong, lalu melanjutkan.
"Kami cerai saat Zafira kelas satu SD. Pertengkaran yang mengakhirinya tidak perlu saya ulang jadi cerita panjang. Ada orang lain di hidupnya. Ada dingin yang sudah ada sebelum itu. Zafira kecil tidak saya suruh masuk kamar dan lupa. Ia ada di rumah. Ia melihat cukup banyak untuk menyimpan kesimpulan bahwa laki-laki yang seharusnya menjaga bisa menjadi sumber sakit. Saya tidak membantah kesimpulan itu dengan pidato. Saya keluar bersama dia."
Sheila menata gelas yang tidak perlu ditata. "Saya tidak kembali. Jangan tawarkan jalan damai untuk saya. Rumah tangga itu tidak saya buka lagi, tidak lewat kasihan, tidak lewat rekan kerja, tidak lewat alasan anak butuh ayah. Anak saya butuh orang yang tidak menolaknya. Itu tidak otomatis Zafran."
"Toko ini saya bangun dari modal yang saya pinjam pada orang tua saya, lalu saya kembalikan," lanjutnya. "Bukan dari uang dia. Zafira sekarang dewasa. Tidak ada yang berhak memindahkan dia dari rumah saya, tidak ada yang berhak mengatur pertemuan seolah saya masih memegang izinnya. Izin itu sudah lama bukan milik saya."
"Saya tidak menanyakan harta," kata Lutfi.
"Bagus. Karena dulu ada yang menuduh anak saya mendekat karena harta." Sheila menatap meja, bukan karena malu, karena kalimat itu masih kasar di mulut. "Kelas lima SD, Zafira minta bertemu ayahnya. Ia memakai baju yang ia pilih sendiri. Ia ingin dipeluk. Saya antar sampai pintu, saya tidak masuk menjadi juru bicara. Yang ia terima bukan pelukan. Penolakan. Hinaan. Seolah kedatangannya permintaan uang. Sejak hari itu ia menjauh, dan saya tidak menyeretnya kembali supaya keluarga besar merasa utuh."
Lutfi diam cukup lama. "Zafran mengatakan tidak punya anak. Itu yang ia ucapkan pada saya, lebih dari sekali, di meja kerja."
"Itu caranya menghapus," kata Sheila. "Bukan karena Zafira tidak ada. Karena mengakui berarti mengakui ia menolak anaknya sendiri. Saya tidak akan memperhalus kalimat itu untuk menjaga nama rekan Mas."
"Jangan diperhalus," kata Lutfi. "Saya yang selama ini menerima kalimatnya terlalu utuh."
"Mas menerimanya karena nyaman," kata Sheila. "Orang yang berkata tidak punya anak lebih mudah diajak kerja daripada orang yang harus ditanya kenapa anaknya tidak ada di foto. Saya tidak menuntut Mas tahu dari dulu. Saya menuntut Mas tidak memakai ketidaktahuan itu sebagai alasan untuk sekarang ikut mengatur."
"Tidak saya pakai," kata Lutfi. "Ketidaktahuan saya berhenti di pintu ini."
"Saya tidak akan memberi tahu Zafran," kata Lutfi. "Tidak hari ini, tidak lewat pesan, tidak sebagai selipan di pembicaraan kerja. Ia rekan saya. Itu tidak membuat anak Dek menjadi bahan yang boleh saya bawa ke mejanya. Kalau saya memberitahu, saya mengambil dari Dek sesuatu yang baru saja dipercayakan, lalu saya letakkan di tangan orang yang sudah menolak anak itu."
Sheila tidak mengangguk dulu. "Mas bisa saja pulang dan merasa kewajiban bisnis lebih besar. Banyak orang menyebut itu kejujuran pada rekan."
"Itu bukan kejujuran," kata Lutfi. "Itu pengkhianatan pada batas yang Dek sebut di pagar. Zafran sudah punya versi sendiri, bahwa ia tidak punya anak. Saya tidak akan membetulkan versi itu untuk membuat saya merasa beres. Pembetulan, kalau suatu hari ada, harus datang dari orang yang berhak. Bukan dari saya."
"Siapa yang Mas maksud berhak?"
"Zafira, kalau ia mau. Atau Dek, kalau ia meminta Dek yang bicara. Bukan saya. Bukan istri saya. Bukan anak saya. Bukan sekretaris saya. Kantor tidak akan punya catatan, tidak akan punya desas-desus, tidak akan punya alasan untuk menggali kartu keluarga siapa pun."
"Istri Mas boleh tahu sesudah anak saya tahu," kata Sheila. "Bukan sebelum. Saya yang pulang dan menyampaikan. Kalau saya sudah bicara pada Zafira, saya kabari Mas. Baru Mas bicara pada istri Mas. Kalau Zafira melarang bahkan itu, saya sampaikan larangannya, dan Mas menurut."
"Saya menurut."
Lutfi menerima syarat itu. Ia menjawab pesan kerja Zafran hanya tentang pekerjaan setelah pertemuan berakhir, tanpa menyisipkan nama Zafira. Sheila tidak meminta ia memusuhi rekannya; ia meminta putrinya tidak dipakai untuk menjaga hubungan bisnis.
Sheila pulang sebelum magrib. Dika mengundurkan diri ke dapur ketika ibu dan anak itu duduk berhadapan.
"Bunda sudah mendengar. Sekarang Bunda menyampaikan. Pak Lutfi bertanya apakah Zafran ayahmu. Bunda jawab iya. Mantan suami Bunda. Bukan rahasia warisan. Bunda bilang pernikahan itu berakhir saat kamu masih kecil, dan kelas lima kamu ditolak. Bunda tidak mengundang pertemuan. Bunda tidak mengizinkan dia menghubungi Zafran. Bunda tidak mengizinkan kantornya mencatat ini."
Zafira memegang tepi meja. Jari-jarinya tidak gemetar seperti dua hari lalu, tetapi tidak lepas. "Dia sudah tahu."
"Iya. Karena Bunda memilih menjawab, bukan karena kamu menyerahkan. Kamu tidak ada di ruangan itu. Keputusan yang Bunda ambil cuma keputusan untuk tidak berbohong pada pertanyaan yang sudah hampir jatuh di rumah ini. Keputusan bertemu tidak Bunda ambil. Itu tetap milikmu, dan hari ini kamu tidak sedang diminta memakainya."
"Zafira tidak mau bertemu," kata Zafira. Kalimatnya datar, bukan teriakan. "Bukan karena punggung Zafira. Karena Zafira belum mau, dan tidak mau Bunda mengatur mau itu jadi lebih sopan. Jangan hubungi dia. Jangan suruh Pak Lutfi menjadi jembatan. Jangan pulang dengan pikiran bahwa mengaku pada teman ayah sudah sama dengan Zafira memaafkan."
"Bunda tidak berpikir begitu," kata Sheila. "Pak Lutfi juga tidak mendapat tugas mendamaikan. Ia hanya tidak boleh membawa ini ke Zafran. Istri dia boleh tahu, sesudah kamu tahu, dan hanya supaya rumah mereka tidak diisi tebakan. Kalau kamu melarang bahkan itu, Bunda sampaikan laranganmu malam ini."
Zafira diam. Dari dapur terdengar Dika membuka gelas, lalu berhenti, seperti ia tidak ingin mengisi hening dengan kerja yang pura-pura. Zafira menarik napas dari sisi yang sehat.
"Istrinya boleh tahu," katanya. "Tante Julia sudah di rumah ini. Ia sudah melihat Zafira tidak menjawab. Lebih baik ia dapat kalimat yang benar daripada mengarang. Tapi tidak lebih dari itu. Tidak ada anak mereka, tidak ada rekan, tidak ada undangan. Kalau mereka cerita bahwa Zafira menolong Tante, nama Zafira memang sudah mereka punya. Nama ayah tidak boleh menumpang di cerita itu."
"Bunda pegang pembagian itu," kata Sheila. "Tolong dan nama ayah adalah dua hal. Tidak saya jadikan satu."
Zafira mengizinkan Julia mengetahui hubungan itu beserta batasnya. Ia tetap tidak mau bertemu Zafran. Sheila menyampaikan keputusan tersebut melalui pesan yang dibaca putrinya terlebih dahulu.
Sesudahnya Zafira memanggil Dika. Ia mengatakan bahwa pertanyaan mengenai ayahnya sudah dijawab, tetapi tidak ada pertemuan yang sedang direncanakan. Dika mendengarkan tanpa menawarkan diri menemui keluarga Zafran. Malam itu Zafira makan lebih tenang, meski ia belum mampu menyebut dirinya baik-baik saja.