Zafira teringat latihan yang belum dikabarkannya. Ia mengambil ponsel dan menelepon Dika, dengan Sheila tetap di sampingnya.
"Lu sakit?" tanya Dika. Latarnya berisik, lalu menjauh, seperti ia berjalan keluar dari gedung latihan. "Suara lu bukan suara orang yang cuma males."
"Bukan males, Bang." Zafira menatap lantai, bukan tamu. "Kemarin sore Zafira kena tusuk di punggung. Sudah dijahit. Sudah boleh pulang. Semalam demam. Pagi ini demamnya turun, tapi Zafira tidak bisa latihan. Zafira tidak mau Bang dengar ini dari orang lain."
Di seberang, Dika diam cukup lama sampai Zafira mengira sambungan putus. "Lu di rumah sekarang? Bunda lu ada?"
"Ada. Bunda di samping. Zafira duduk, belum berbaring. Tamu yang kemarin ditolong juga ada. Mereka bawa tas yang tertinggal. Bukan mereka yang melukai."
"Gua tidak sedang nyari siapa yang salah dulu," kata Dika. Suaranya turun, tidak menjadi lembut seluruhnya. "Lu bilang tidak bisa latihan. Gue terima. Minggu ini lu tidak turun. Nasional jangan lu jadikan alasan untuk ngejar badan yang baru dijahit. Gue yang bilang ke tim, lu istirahat. Bukan berhenti. Kapan mulai lagi, tidak hari ini kita pasang tanggalnya."
Zafira menutup mata sebentar. Kalimat itu mirip dengan yang Sheila ucapkan, dan justru karena mirip ia tidak perlu berdebat. "Zafira setuju. Jangan dihapus, Bang. Ditunda. Zafira yang minta."
"Gue dengar." Dika mengembuskan napas. "Siapa yang ada di rumah? Jangan diurai kalau lu capek. Cukup gua tahu, mereka tidak maksa lu tanding, dan mereka bukan yang ngebuka luka lu."
"Bukan," kata Zafira. "Mereka yang ditolong. Mereka sudah dengar Zafira menolak uang, kecuali utang ke dokter yang jumlahnya di struk. Latihan tidak mereka atur. Sponsor kejuaraan tidak mereka jadikan alasan untuk nyuruh Zafira cepat turun."
"Gue catat yang itu," kata Dika. "Sisanya gua tanya ke lu, bukan ke mereka. Lu jangan naik motor. Jangan ke gedung cuma buat nunjukin lu baik. Gua yang ke rumah. Gua mau lihat lu ngomong, bukan cuma dengar lu nahan sakit lewat telepon."
Zafira melirik Sheila. Sheila sudah mengangguk sebelum ditanya. "Bunda bilang boleh. Tapi Bang jangan masuk seperti mau mengadili tamu. Mereka sudah diingatkan. Zafira juga sudah bilang batasnya."
"Gue bukan polisi," kata Dika. "Gue pelatih lu, sekaligus sepupu lu. Kalau ada yang maksa lu latihan atau maksa lu nerima apa pun, baru gua naik. Selain itu gua sopan. Kasih tau ibu lu, gua berangkat dari gedung. Tidak lama."
"Hati-hati di jalan, Bang."
"Lu yang hati-hati duduk. Jangan pura-pura tegak sampe gua datang."
Dika datang tidak lama kemudian. Ia menyapa Sheila sebagai tantenya, lalu diperkenalkan kepada Julia dan Lutfi. Kaos latihannya masih lembap. Di depan tamu ia tetap sepupu yang dahulu mengajari Zafira mengikat sabuk, sekaligus pelatih yang harus mengetahui keadaan atletnya.
"Bunda sudah membawa Zafira kembali diperiksa setelah demam semalam," kata Zafira sebelum ia ditanyai. "Zafira akan mengikuti kontrolnya. Hari ini masih nyeri."
"Latihan kita hentikan dulu. Setelah dokter menilai pemulihanmu, baru kita susun latihan yang sesuai," jawab Dika. Ia tidak membuka perban atau menilai luka dari cara gadis itu tersenyum.
Ia menoleh pada Zafira, dan marah yang tadi tidak menemukan lawan akhirnya menemukan satu hal yang masih mengganjal. "Lu pulang naik motor habis dijahit. Gue tidak suka. Gue tidak akan panjangin. Motor lu diam dulu. Minggu ini lu tidak buktikan apa-apa di jalan."
"Zafira tahu itu keliru," kata Zafira. "Zafira tidak akan mengulang. Tidak perlu ceramah. Zafira sudah cukup malu waktu Bunda tahu belakangan."
"Malu tidak gua tagih," kata Dika. "Yang gua tagih cuma lu jangan nambah rahasia. Perban tidak usah dibuka buat gua. Gua percaya lu nyeri. Gua tidak perlu lihat luka supaya percaya."
"Zafira tidak mau menjadi beban," katanya.
"Minta bantuan bukan berarti jadi beban," jawab Sheila. "Semalam Bunda lebih takut karena baru tahu setelah kamu pulang sendiri."
Kali ini Zafira tidak membalas dengan gurauan. Ia bersedia dibantu ke kamar. Sebelum beristirahat, ia mengizinkan Julia mengganti biaya sesuai struk yang masih menjadi utangnya kepada dokter. Bantuan lain tidak dimintanya. Sheila yang akan meneruskan jumlah itu kepada pemberi talangan; uang tersebut tidak menjadi uang saku atau hadiah.
Julia dan Lutfi berpamitan. Di teras Lutfi meminta waktu untuk berbicara dengan Sheila tentang nama belakang yang terbaca di KTP. Ia tidak menyembunyikan maksudnya di balik ucapan selamat. Sheila menimbang, lalu mengizinkan ia datang sendiri pada Rabu pukul tiga sore ke kantor belakang toko. Urusan itu tidak akan dibicarakan di dekat Zafira yang sedang lelah.
Dika pergi. Sheila mencuci tangan, lalu naik. Pintu kamar Zafira masih tidak tertutup rapat. Gadis itu duduk di tepi kasur, cardigan tidak dilepas, punggung tidak menyentuh kepala tempat tidur.
"Mereka sudah pulang, Bun?"
"Sudah." Sheila duduk di kursi, bukan di kasur, supaya tidak terasa seperti pemeriksaan. "Sebelum mobil jalan, Bunda memberi jawaban. Pak Lutfi minta bicara dua hari lagi. Bukan di rumah ini. Di kantor toko. Bunda yang setuju mendengar. Kamu tidak ikut."
Zafira menatap ibunya tanpa senyum. "Soal nama di KTP itu?"
"Iya. Bunda belum menjawab isinya. Bunda hanya setuju mendengar, dan Bunda bisa berhenti kapan saja. Tidak ada pertemuan dengan ayahmu yang Bunda janjikan. Tidak ada orang yang Bunda izinkan dihubungi."
"Kalau itu soal ayah," kata Zafira, pelan, "Bunda jangan menukar Zafira dengan jawaban yang rapi. Zafira tidak hadir bukan berarti Zafira menyerahkan keputusan. Bunda boleh jujur kalau ditanya. Jangan jujur sampai jadi janji ketemu. Jangan jujur sampai ada orang diundang ke rumah ini."
"Bunda tidak akan menjanjikan pertemuan," kata Sheila. "Kejujuran yang Bunda beri, kalau memang harus diberi, berhenti di fakta. Tidak berlanjut ke rencana. Kamu tetap yang memegang mau atau tidak mau, termasuk tidak mau yang berlaku hari ini juga."
"Bunda tidak akan menyerahkan kamu." Sheila menjaga suaranya tetap rata. "Bunda juga tidak akan mengarang bahwa pertanyaan itu tidak menyakitkan. Dua hari lagi Bunda dengar. Sesudah itu Bunda pulang dan bilang apa yang Bunda ucapkan. Bukan senyum. Bukan ringkasan yang sudah dipilih supaya kamu tenang."
Zafira mengangguk. Bahunya yang sehat turun. "Zafira tidak ikut. Zafira juga tidak mau dikirimi kabar dari sana selagi Bunda masih di toko. Pulang, lalu bilang. Kalau Zafira sedang tidur, bangunkan. Jangan ditunda sampai Zafira kelihatan kuat."
"Bunda bangunkan."
Mereka diam sebentar. Dari luar tidak ada mobil yang kembali. Zafira menunjuk kantong obat di nakas. "Struknya jangan dicampur dengan janji tadi. Kirim hari ini, angkanya yang tertulis, lalu selesai."
"Sekarang," kata Sheila.
Ia memotret kertas itu di meja lain, bukan di samping anaknya, lalu mengirim hanya gambar dan satu kalimat: sesuai yang tertulis, tidak lebih. Balasan Julia datang pendek. Sudah ditransfer. Sheila membalas bahwa dokter akan dikembalikan hari itu juga, dan nomor ini tidak dipakai untuk hal lain. Tidak ada kata tentang hari ketiga. Tidak ada kata tentang nama.
Zafira mendengar laporan itu tanpa meminta melihat layar. "Sudah?"
"Sudah. Urusan struk tutup. Urusan dua hari lagi tidak lewat situ."
"Bagus," kata Zafira. Ia merebahkan sisi yang sehat, pelan. "Bunda jangan latihan senyum di depan Pak Lutfi. Dia sudah lihat Zafira tidak senyum. Kalau Bunda senyum, dia kira rumah ini sudah selesai."
"Bunda tidak akan menutup apa pun dengan senyum," kata Sheila.
Zafira menutup mata, tidak untuk tidur. "Satu yang Zafira takutkan. Dia sudah cerita pada orang lain sebelum Bunda sempat menjawab."
"Bunda tidak bisa sumpah atas isi mobilnya," kata Sheila. "Yang Bunda bisa, batas yang diucapkan di pagar. Kalau batas itu dilanggar, Bunda tidak akan menutupinya demi tetap sopan. Kamu akan tahu."
"Besok Zafira tidak nanya lagi," kata Zafira. "Nanti, waktu Bunda pulang dari toko. Malam ini Zafira mau nyeri yang jujur, bukan kepala yang penuh tebakan."
"Tidur kalau bisa," kata Sheila. "Bunda di bawah. Pintu rumah sudah dikunci."
"Dua hari lagi Bang Dika menemani Zafira di rumah, ya, Bun?"
"Bunda tanyakan kesediaannya. Sesudah pertemuan selesai Bunda ceritakan apa yang dibicarakan."
Setelah Zafira beristirahat, Sheila meneruskan uang yang baru diterimanya kepada dokter yang dahulu menalangi. Urusan biaya selesai satu kali; putrinya tidak perlu keluar lagi untuk membayarnya.