Sheila mengetuk pintu kamar yang hanya tertutup setengah. Dari ruang tamu ia membawa kalimat Julia masih utuh di kepala. Mereka datang membawa tas, ingin berterima kasih, dan ingin melihat anaknya. Sheila sendiri semalam melihat Zafira menggigil. Pagi ini panasnya sudah turun, tetapi bahu yang diperban tidak ikut pulih hanya karena matahari sudah tinggi.
"Zaf, sayang, kamu bangun?"
Dari dalam terdengar suara serak. "Bangun, Bun. Sejak tadi Zaf rebahan. Siapa yang datang? Zaf dengar bel."
Sheila masuk. Zafira duduk bersandar bantal, jilbab rumah agak miring, cardigan tipis menutup sisi yang diperban. Wajahnya tidak sepucat tengah malam, tetapi matanya lelah. Senyum kecil yang biasa ia pakai untuk menenangkan orang lain sudah menunggu di bibir, padahal Sheila belum sempat menjelaskan apa-apa.
"Ada tamu, nak. Perempuan yang kemarin kamu tolong di mall, sama suaminya. Mereka bawa tas kamu."
Senyum itu goyah. Zafira meluruskan punggung dan napasnya tertahan. "Tas Zaf? Yang ketinggal di lobi?"
"Iya. Nama beliau Mbak Julia. Suaminya, Mas Lutfi. Mereka sudah duduk di ruang tamu. Mbak Julia sempat menyusul ke rumah sakit, tapi kamu sudah pulang. Dia kecewa belum sempat bilang terima kasih."
Zafira diam. Jarinya memegang ujung selimut. "Mereka tahu rumah ini dari mana, Bun?"
"Dari KTP di dalam tas. Dompet kamu ada di situ."
"Oh." Satu suku kata itu tidak ceria. Zafira menunduk, lalu cepat mengangguk seperti orang yang tidak ingin dianggap rewel. "Ya sudah. Mereka kan mau balikin barang. Zaf turun."
"Kamu yakin kuat? Semalam kamu demam. Kalau masih pusing, Bunda bilang saja. Nanti tasnya Bunda yang terima, kamu bertemu mereka kalau badan sudah lebih enak."
Zafira menggeleng. "Jangan, Bun. Mereka sudah datang pagi-pagi. Masa Zaf sembunyi di kamar. Nanti dikira Zaf tidak sopan. Lagian Zaf sudah tidak demam."
Sheila duduk di tepi kasur. Tangannya sengaja tidak menyentuh perban. "Tidak demam bukan berarti kamu harus melayani tamu sampai capek. Mereka khawatir, nak. Bukan mau menguji kamu kuat atau tidak."
Zafira tersenyum lebih lebar. Sheila mengenal senyum itu. Senyum yang dipakai sejak kecil setiap kali ada yang bertanya kenapa ayahnya tidak pernah muncul di foto. "Zaf kuat, Bun. Lukanya sudah dijahit. Zaf cuma kelihatan lesu karena baru bangun."
"Kamu tidak perlu kelihatan kuat di depan mereka."
Kalimat itu membuat kamar menjadi sunyi sebentar. Zafira menarik napas lewat sisi bahu yang sehat. "Kalau Zaf tidak senyum, mereka makin khawatir. Bunda juga. Zaf tidak mau lihat Bunda cemas lagi."
"Bunda cemas karena kamu anak Bunda, bukan karena kamu gagal menolong orang." Sheila merapikan cardigan supaya kainnya tidak menekan luka. "Turun boleh. Kalau badanmu minta berhenti, kamu bilang. Jangan ditutup senyum."
Zafira mengangguk, lebih pelan. "Zaf coba."
Ia mencoba berdiri tanpa tangan Sheila. Kamar bergoyang pelan, sisa lemas dari semalam, bukan panas yang naik lagi. Ia duduk kembali di tepi kasur dan tertawa pendek, malu pada dirinya sendiri.
"Bohong, Bun. Baru berdiri saja sudah minta pegangan."
"Itu bukan bohong. Itu badanmu yang jujur lebih dulu." Sheila mengambil gelas yang sejak subuh ada di nakas. "Minum. Nanti turun pelan. Kalau di bawah kamu tidak kuat, kita kembali ke kamar. Tamu itu tidak akan menganggap kamu lari."
Zafira minum. Airnya sudah tawar, tetapi tenggorokannya kering. "Ibu yang kemarin, yang teriak di lobi? Yang barang belanjaannya jatuh, lalu mau bawa Zaf ke rumah sakit?"
"Dia bilang kamu merebut tasnya dari penjambret, lalu pergi sendiri. Rasa bersalah itu masih ada di wajahnya. Suaminya lebih pendiam. Mereka tidak terlihat seperti orang yang datang untuk menagih."
Zafira mengangguk. Teriakan di lobi itu lewat sebentar, disusul panas di punggung. Ia tidak mengulang kepada Bunda bagaimana badannya terhuyung. "Ya. Orang itu. Zaf menolak diajak. Zaf kira Zaf kuat sampai rumah sakit sendiri."
"Kamu memang keras kepala," kata Sheila. Nadanya tidak memuji. "Hari ini jangan keras kepala pada tubuhmu sendiri. Turun boleh. Tampil sehat tidak wajib."
Ia turun dari kasur dengan bertumpu pada siku kiri. Kaki masih kuat. Yang memberat adalah punggung, tarikan di sekitar jahitan setiap kali badan berputar. Sheila menunggu. Setelah tiga langkah menuju cermin, Zafira berhenti dan menerima tangan ibunya.
"Jilbabnya yang rapi, Bun. Biar tidak seperti orang sakit."
"Kamu memang sedang sembuh," jawab Sheila, tetapi ia tetap membantu. "Mereka tidak datang untuk melihat kamu tampil."
"Zafira turun, Tante," sapanya ketika sampai di tangga.
Sheila berjalan di sampingnya, satu tangan siap di siku, tidak mencengkeram. Setiap anak tangga membuat jahitan di punggung terasa menarik. Zafira tidak berhenti lagi. Ia tidak mau tamu itu mendengar napasnya putus-putus. Di anak tangga terakhir ia tersenyum, senyum tamu, dan melangkah masuk ke ruang tamu.
Julia sudah berdiri. Begitu melihat gadis di depan mata, air mukanya berubah. Bukan kaget seperti orang yang baru bertemu. Lebih seperti orang yang semalam terus menebak wajah ini dan akhirnya mendapat jawaban.
"Nak..." Julia melangkah, lalu menahan dirinya supaya tidak menyentuh bahu Zafira. "Kamu. Kemarin kamu yang merebut tas Mbak. Kamu yang melempar minuman ke orang itu, lalu kamu yang berdarah."
"Tante tidak apa-apa, kan?" tanya Zafira. Sapaan itu sama seperti di lobi mall. "Zafira yang kemarin minta izin pergi duluan. Maaf kalau Tante kaget."
"Mbak yang harus minta maaf." Suara Julia bergetar, tetapi kalimatnya jelas. "Kamu menolong Mbak, lalu Mbak tidak bisa menolong kamu. Mbak ajak ke rumah sakit, kamu tolak. Mbak menyusul, kamu sudah pulang. Semalam Mbak tidak tenang."
Setelah duduk, Zafira refleks hendak berdiri lagi untuk menyalami. Sheila menahan sikunya, pelan.
"Duduk saja, nak."
"Zafira belum salam dengan benar, Bun."
"Salammu sudah sampai," kata Sheila. "Mereka tidak menunggu kamu tegak."
Julia pun duduk setelah melihat Zafira mengurungkan niat bangkit. "Tetap duduk, Nak. Mbak yang datang. Kamu yang kemarin berdarah. Urutan sopan santunnya tidak seperti biasa."
Zafira tidak memaksa bangkit. Punggungnya tetap menjauh dari sandaran. "Supir Tante bagaimana? Kemarin dia juga kena."
"Sudah kami tanyakan. Dia terkejut, tidak sampai harus dijahit. Kamu tidak perlu menanggung dia juga." Julia menggeleng. "Orang-orang yang menjambret sudah dibawa satpam. Mbak tidak minta kamu ke kantor polisi hari ini. Jangan ditambahkan ke daftar yang harus kamu selesaikan."
"Zafira memang tidak sanggup ke mana-mana hari ini," jawab Zafira. Mengaku itu terasa aneh di mulutnya. "Motor Zafira ada di rumah. Biar di situ dulu."
Zafira menerima ransel itu dengan tangan kiri. Beratnya familiar. Tali yang biasa menekan bahu kanan ia biarkan jatuh di samping paha, tidak dinaikkan. Julia tidak melepas tangannya dari dasar tas sampai yakin gadis itu sudah memegangnya.
"Maaf, Nak," kata Julia. "Suami Mbak yang membuka. Mbak memarahi dia. Tapi karena KTP itu kami bisa datang tanpa mutar ke rumah sakit lagi. Kalau kamu tidak nyaman, bilang. Jangan ditelan."
Zafira meletakkan tas di pangkuan. "Tante juga membukanya?"
"Mbak tidak. Papi yang penasaran. Dia takut kita datang ke rumah sakit, minta alamat, dan ditolak karena itu urusan pasien. Jadi dia mencari di tas. Mbak tetap bilang itu tidak sopan."
Lutfi menunduk sedikit. "Maaf, Nak. Saya seharusnya menunggu dan bertanya, bukan membuka dompet orang. Saya sudah melihat nama dan alamat. Tidak ada yang saya salin untuk orang lain. Tidak ada yang saya kirim ke mana pun."
Zafira membuka resleting. Dompet merah muda masih di saku luar. Di dalamnya KTP, sedikit uang, dan foto Sheila yang sudah lecek di sudut. Buku catatan ada di kompartemen utama, sampulnya tidak basah. Di dasar tas, sabuk hitam tergulung, logo perguruan masih menempel di ujung. Ia menyentuh sabuk itu sebentar. Bukan sabuk biru yang Sabtu pagi ia pakai mengikat tali sepatu orang di lampu merah. Yang ini ia bawa karena lupa mengeluarkannya setelah latihan terakhir sebelum pertandingan.
Lutfi tidak mencondongkan badan untuk melihat isi tas. "Saya semalam hanya melihat sabuk itu sekilas, lalu menutupnya lagi. Saya tidak mengeluarkannya. Saya tidak memfotonya. Itu milik kamu, bukan barang pameran."
"Sabuk ini bukan medali," kata Zafira. Ia menutup resleting sebagian, cukup untuk menyembunyikan gulungan hitam itu. "Dan catatan ini catatan latihan. Bukan untuk dibaca tamu."
"Tidak ada yang minta dibaca," kata Julia cepat. "Kamu periksa saja apakah ada yang hilang. Mbak akan duduk diam."
Zafira membuka buku itu sedikit, hanya untuk dirinya. Tulisan jadwal latihan masih di halaman terakhir. Ia menutupnya lagi sebelum mata siapa pun sempat ikut membaca. "Tidak basah. Tidak hilang. Cukup."
"Lengkap," katanya. "Dompet, catatan, sabuk. Terima kasih sudah dibawakan. Zafira semalam mau tanya ke mall, tapi badannya tidak jadi."
Sheila meletakkan tas itu di kursi lain, dalam jangkauan anaknya tetapi tidak membebani bahu. Lutfi memperkenalkan diri sebagai orang yang menyerahkan medali pada Sabtu lalu. Zafira baru memahami ucapan selamat datang kembali di podium: laki-laki itu pernah menonton pertandingannya sebelum kecelakaan dua tahun silam.
"Saya mengenalmu dari kejuaraan, tetapi kami datang untuk mengembalikan barangmu dan berterima kasih karena kamu menolong istri saya," katanya. "Dua urusan itu berbeda."
Zafira mengangguk. Ia tidak ingin medali yang diraih di lapangan berubah menjadi utang pada keluarga sponsor.
Sheila memberikan segelas air kepada Zafira sebelum kembali duduk.
"Mbak ingin menanggung biaya pengobatanmu," kata Julia. "Yang sudah keluar, yang masih harus dibayar, dan obat yang kamu bawa pulang. Mbak tidak mengirim orang ke rumah sakit untuk menanyakan ini. Mbak menanyakannya di sini, di depan ibumu. Kamu boleh menolak semuanya, dan Mbak tetap pulang dengan terima kasih."
Zafira tidak langsung menjawab. Gelas di tangannya sudah tidak dingin. Punggungnya panas, tetapi kalimat itu lebih dulu minta tempat. Sheila tidak menimpali. Lutfi juga tidak. Mereka menunggu gadis di ujung sofa, sesuai yang baru saja ia minta. Dengar dulu. Jangan ditolak karena takut. Jangan diterima karena berhutang.
"Tante mau menanggung karena Zafira menolong," kata Zafira, pelan, memastikan, "atau karena Tante kasihan melihat Zafira duduk begini?"
"Karena kamu terluka saat membantu Mbak," jawab Julia. "Kasihan ada. Mbak tidak akan berbohong. Tapi kasihan bukan izin untuk mengatur kamu. Kalau kamu bilang tidak, Mbak taruh uang itu tetap di tempatnya."
Zafira mengangguk sekali. Ia menatap ibunya, bukan untuk minta keputusan, hanya untuk memastikan Bunda tetap di samping. Sheila mengangguk kecil. Artinya, lanjut.
"Zafira sudah ditangani," katanya. "Di rumah sakit terdekat dari mall. Lukanya dijahit. Obatnya diberikan. Zafira diperbolehkan pulang. Bukan kabur, bukan menolak dokter. Semalam Zafira demam. Pagi ini demamnya sudah turun. Nyeri di punggung masih ada. Zafira tidak akan menambah keterangan yang tidak dikatakan orang yang menangani. Zafira juga tidak akan menyebut kapan ini selesai. Itu bukan keahlian Zafira."
Julia mendengarkan tanpa memotong. "Kamu pergi sendiri."
"Iya. Dompet tertinggal di tas. Kasir tidak bisa lewat ponsel. Dokter yang menangani bersedia menalangi dulu, supaya Zafira bisa pulang. Itu utang Zafira pada dokter, bukan pada Tante."
Sheila baru mendengar rincian kasir itu dengan urutan yang utuh. Tangannya di lengan anaknya mengerat sedikit, lalu mengendur. "Kamu tidak bilang ada yang menalangi."
"Zafira mau bilang hari ini, Bun. Semalam Zafira tidak sampai ke situ." Zafira menarik napas pendek. "Struknya ada di kamar, di kantong obat. Jumlahnya yang tertulis itu, bukan yang Tante kira-kira."
Julia bergeser di sofa. "Kalau begitu Mbak ganti jumlah itu. Mbak tidak akan menebak."
"Belum selesai, Tante." Zafira meletakkan gelas. Tangannya tidak gemetar seperti tadi, tetapi ia tetap tidak menyandar. "Zafira menolak yang lain. Tidak perlu Tante menanggung sisa hidup Zafira selama punggung ini nyeri. Tidak perlu obat berikutnya, tidak perlu ongkos, tidak perlu apa pun yang membuat pertolongan kemarin berubah jadi transaksi. Zafira berhenti di lobi karena ada yang berteriak. Bukan karena menunggu dibayar."
Ruang tamu hening. Julia menelan. Air matanya naik, tetapi suaranya tetap jelas. "Mbak dengar. Mbak tidak akan menawar lebih dari yang kamu sebut."
"Utang pada dokter boleh," kata Zafira. "Lewat Bunda. Sekali. Jumlah di struk. Sesudah itu selesai. Tante tidak usah merasa lunas terhadap Zafira, karena dari awal tidak ada harga."
Sheila menghembuskan napas. "Saya yang pegang struknya. Saya yang sebut angkanya pada Mbak, nanti, bukan di sofa ini selagi dia menahan duduk. Transfernya ke saya, saya yang kembalikan ke dokter. Zafira tidak memegang uang itu."
"Mbak setuju," kata Julia. "Dan Mbak minta maaf sudah membuka tawaran yang lebih besar. Kamu benar memotongnya."