Malam itu Ki Lawu tidak bisa tidur, dan ia tahu kenapa—bukan karena gelisah, tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tubuhnya terasa ringan, dan keringanan itu membuatnya ingin keluar, ingin merasakan tanah, ingin memastikan bahwa apa yang ia rasakan itu benar. Maka ia bangkit dari tikar di kamarnya, melewati lorong kost yang sunyi, dan keluar ke pekarangan tempat pot-pot berbaris dan tanah hidup di pojok menapas dalam gelap.
Ia berlutut, persis seperti malam ia memutuskan untuk berakar di kota ini, dan menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah pekarangan yang lembap oleh embun. Tapi kali ini ia tidak bertanya. Kali ini ia memanggil.
Di Sumberwangi dulu, memanggil tanah adalah hal sealamiah bernapas. Ia hanya perlu meniatkan, dan tanah keramat yang telah merawatnya selama berabad menjawab seketika, melimpah, tanpa batas—sumber air memancar, akar bergerak, rezeki mengalir. Lalu ia terlempar ke kota, dan selama berbulan-bulan ia memanggil ke tanah yang tak mengenalnya, dan tanah itu diam, asing, menolak, dan tiap kali ia memaksakan mukjizat tanpa pengakuan tanah, tubuhnya tumbang dan umurnya terkikis, butir demi butir jam pasirnya jatuh menuju lenyap.
Malam ini, ia memanggil, dan ia menunggu—setengah hatinya bersiap untuk keheningan yang biasa, untuk tanah kota yang hanya menjawab tipis, samar, secukupnya.
Tapi tanah itu menjawab penuh.
Bukan dengan limpahan dahsyat seperti Sumberwangi—tanah ini lebih muda, lebih kecil, baru setahun lebih dihidupkan dari kompos dapur dan cacing kebun Pak Karyo dan siraman Bu Sari yang menggerutu. Tapi ia menjawab utuh, sepenuh dirinya yang kecil, tanpa keengganan, tanpa penolakan. Ki Lawu merasakannya merambat naik dari telapak tangannya ke lengannya ke dadanya: pengakuan. Tanah ini mengenalnya. Tanah ini menyebut namanya dalam bahasa tanpa kata yang hanya dipahami antara dhanyang dan bumi. Tanah ini berkata: kamu yang merawatku. Kamu milikku, dan aku milikmu.
Dan untuk pertama kalinya sejak beringinnya ditebang di malam pertama yang melemparnya ke kota ini, Ki Lawu merasakan jam pasir di dalam dirinya—jam pasir yang sejak awal hidupnya di kota terus mengalir, terus menjatuhkan butir-butir umur dan ingatan dan kuasa menuju kelenyapan—jam pasir itu berhenti.
Butir-butirnya berhenti jatuh.
Ia tidak memudar lagi.
Ki Lawu duduk diam di pekarangan dalam gelap, kedua tangannya masih di tanah, dan air mata mengalir di pipinya yang keriput tanpa ia sadari. Bukan tangis sedih. Bukan juga tangis bahagia yang sederhana. Ini tangis seseorang yang selama setahun lebih hidup dengan kepastian bahwa ia sedang sekarat pelan-pelan, bahwa tiap kebaikan kecil yang ia beri mengikis sisa hidupnya, bahwa pada akhirnya ia akan lupa segalanya dan lenyap di kota asing—dan kini, malam ini, mendapati bahwa kepastian itu tidak lagi berlaku. Ia tidak akan lenyap. Ia berakar. Tanah ini menahannya, sama seperti Sumberwangi dulu menahannya, hanya saja kali ini tanah ini ia pilih sendiri, ia tumbuhkan sendiri, dari ketiadaan menjadi rumah.
Aturan yang ia jelaskan pada Nayla setahun lebih lalu di kamar kost—aturan yang menjadi kutukannya selama ini—kini berbalik menjadi berkahnya. Ia kuat di tanah yang mengakuinya. Selama ini kalimat itu adalah penjara: karena tak ada tanah yang mengakuinya, ia lemah, ia memudar. Tapi kalimat yang sama, malam ini, menjadi kebebasan: karena ada tanah yang mengakuinya—tanah kota, tanah yang ia rawat, tanah yang ia ajari mencintai dirinya kembali—maka ia kuat. Tidak sekuat dulu. Tidak akan pernah sekuat Ki Lawu yang menjaga sehektare sumber air di bawah beringin keramat. Tapi cukup. Cukup untuk menjaga gangnya, cukup untuk membimbing roh-roh muda, cukup untuk memberi untung-untung kecil pada warga yang baik hati. Dan yang terpenting: cukup untuk tetap ada, untuk tidak lenyap, untuk melihat anak-anak yang ia jaga tumbuh tua.
Ia mencoba sesuatu. Pelan, hati-hati, ia menumbuhkan—bukan sehektare, bukan sehelai daun yang menguras nyawa seperti dulu, tapi setangkai kemangi dari biji di pot pojok. Tangkai itu tumbuh dalam hitungan napas, hijau dan harum, dan—Ki Lawu menunggu dengan dada berdebar—tubuhnya tidak tumbang. Tidak ada rasa terkuras. Tidak ada butir umur yang jatuh. Tanah memberinya tenaga untuk menumbuhkan kemangi itu, alih-alih mengambil tenaganya. Karena begitulah seharusnya seorang dhanyang bekerja: bukan membakar dirinya untuk memberi keajaiban, tapi menyalurkan kelimpahan tanah yang mengakuinya.
Ia tertawa pelan dalam gelap, tawa serak yang basah oleh air mata, dan ia mencium aroma kemangi yang baru tumbuh.
"Pak?"
Ia menoleh. Nayla berdiri di ambang teras, mengucek mata, rupanya terbangun dan melihat lampu pekarangan yang Ki Lawu lupa nyalakan—atau mungkin ia hanya merasakan ada sesuatu, karena setelah setahun lebih bersama dhanyang, indra Nayla pun ikut menajam pada hal-hal halus.
"Pak ngapain di luar tengah malem? Dingin."
Ki Lawu menatapnya, wajah tua yang basah air mata itu memancarkan sesuatu yang belum pernah Nayla lihat sepenuhnya—bukan kelelahan, bukan kerinduan pada kampung, bukan ketakutan akan memudar.
"Nduk," katanya. "Tanahnya ngenalin aku. Penuh. Kayak dulu." Suaranya gemetar. "Aku nggak memudar lagi. Aku... aku berakar."
Nayla terdiam. Ia mengerti apa artinya itu—ia yang menulis buku ingatan justru karena takut Ki Lawu akan lupa segalanya dan lenyap, ia yang setahun lebih hidup dengan kecemasan bahwa pria tua ini sedang pelan-pelan menghilang. Ia melangkah turun ke pekarangan, berlutut di samping Ki Lawu, dan meletakkan tangannya di tanah yang sama. Ia tak bisa merasakan apa yang dirasakan Ki Lawu—ia manusia, bukan dhanyang—tapi ia merasakan kelembapan tanah, kehangatannya yang aneh untuk tengah malam, dan ia percaya.
"Jadi Pak bakal lama di sini," katanya pelan.
"Aku bakal lama di sini," Ki Lawu mengangguk. "Selama tanah ini idup. Selama ada yang ngerawatnya. Selama ada yang sayang." Ia menatap pekarangan, gang, kota gelap di balik gang yang lampu-lampunya berkelip seperti bintang yang dipindahkan ke bumi. "Dan selama itu, aku njaga."
Mereka berlutut bersama di pekarangan tengah malam, tangan di tanah yang menapas, dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai dengan sebuah pohon yang ditebang, jam pasir seorang dhanyang berhenti mengalir—bukan karena waktu berhenti, tapi karena ia akhirnya pulang.