Satu tahun berlalu, dan kalau ada satu cara untuk mengukur betapa banyak yang telah berubah, itu adalah dinding samping kost Bu Sari—dinding yang setahun lalu masih menyimpan garis cokelat samar setinggi lutut, jejak banjir yang dulu nyaris menenggelamkan gang dan memaksa Ki Lawu memboroskan umurnya menahan air hingga nyaris sekarat. Garis itu kini tak ada lagi. Bukan karena banjir tak pernah lagi datang—Jakarta tetap Jakarta, hujan tetap turun deras—tapi karena gang ini sekarang menyerap airnya sendiri, lewat biopori yang ditanam di tiap pekarangan, lewat embung kecil di ujung kampung, lewat tanah-tanah yang dihidupkan kembali sehingga tak lagi mengeras menolak air seperti beton. Dan garis yang lama, bekas luka lumpur di dinding itu, sudah dicat ulang bulan lalu saat warga gotong royong mengecat seluruh gang menyambut penilaian lomba kampung sehat tingkat kota.
Ki Lawu berdiri di depan dinding itu pagi ini, gembor di tangan seperti biasa, dan ia menyentuh permukaan cat yang masih baru. Ia ingat malam banjir itu—ingat samar, karena banyak ingatannya hilang permanen sejak ia jadi pasak inti—tapi cukup ingat untuk tahu bahwa ia hampir mati di tempat ini, di gang asing yang dulu sama sekali bukan rumahnya. Sekarang dinding itu bersih, oranye cerah, dan di atasnya anak-anak muda kampung melukis mural pohon beringin besar dengan akar yang menjalar ke seluruh dinding—mereka tak tahu kenapa mereka memilih beringin, hanya merasa 'pohonnya bagus, Pak, kokoh', dan Ki Lawu tak pernah mengatakan apa-apa, hanya tersenyum diam-diam tiap melewatinya.
Gang itu kini menjadi rujukan. Orang-orang dari kelurahan lain datang studi banding—"Pak RW, kok bisa gangnya nggak banjir lagi? Kok bisa ijo banget?"—dan Pak RW dengan bangga menjelaskan soal biopori dan tanaman dan gotong royong, sambil tak pernah menyebut, karena tak tahu, bahwa di balik semua itu ada seorang dhanyang tua yang mengajari gang ini cara mencintai tanahnya kembali. Kelurahan menjadikannya percontohan. Ada plang kecil di mulut gang sekarang: KAMPUNG HIJAU TELADAN. Bu Sari memajang foto penyerahan piala di ruang tamunya, di samping foto almarhum suaminya.
Di dapur kost pagi itu, Bu Sari sedang menggoreng tempe sambil bersungut-sungut tentang harga cabai yang naik lagi, dan Ki Lawu duduk di kursi dapur—kursi yang sudah dianggap kursinya—mengupas bawang yang diminta Bu Sari karena 'matamu kan dhanyang, nggak perih kena bawang, kan?' (yang sebenarnya tidak benar, matanya tetap perih, tapi ia tak pernah membantah).
"Aku masih nggak ngerti," kata Bu Sari sambil membalik tempe, "kamu ini dhanyang yang katanya bisa ngatur rezeki sedesa, kok ya tetep aja nggak bisa bantuin aku nawar cabai di pasar."
"Aku bisa kasih untung kecil, Bu. Aku nggak bisa ngubah harga pasar." Ki Lawu meletakkan bawang yang sudah dikupas. "Beda urusannya."
Bu Sari mendengus, tapi sudut bibirnya naik. Setahun lalu ia nyaris memanggil satpam untuk mengusir lelaki aneh ini. Setahun lalu ia menatapnya dengan curiga, menganggapnya beban, om-om gila yang dititipkan Nayla. Sekarang—Bu Sari sendiri tak ingat persis kapan pergeseran itu terjadi—Ki Lawu sudah menjadi bagian dari rumah ini seperti meja makan, seperti kompor, seperti foto suaminya di dinding. Ia bangun pagi menyiram, ia jaga kost saat Bu Sari ke pasar, ia tahu di mana Bu Sari menyimpan korek dan kunci cadangan, dan saat Bu Sari sakit demam bulan lalu, Ki Lawu-lah yang membuatkannya wedang jahe dan diam-diam memberinya 'untung kecil' berupa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk.
"Sewa bulan ini udah kamu bayar?" tanya Bu Sari, karena ketegasan soal sewa adalah satu hal yang tak pernah luntur darinya, dhanyang atau bukan.
"Udah, Bu. Tanggal lima. Dari upah aku bantuin Pak Karyo ngangkut sampah sama jualan bibit di pasar minggu."
"Bagus." Bu Sari mengangguk puas, lalu, dengan nada yang ia usahakan terdengar biasa saja tapi gagal menyembunyikan kelembutannya, ia menambahkan, "Tapi kalau kamu lagi seret, bilang. Nggak usah maksa. Kamu kan... ya, kamu kan keluarga sekarang."
Ki Lawu berhenti mengupas. Ia menatap Bu Sari, perempuan yang dulu mau mengusirnya, yang kini menyebutnya keluarga sambil pura-pura sibuk dengan tempenya supaya tak perlu menatap balik. Dan Ki Lawu—dhanyang berusia ratusan tahun yang pernah dijaga oleh seluruh desa, yang pernah punya beringin keramat dan sumber air sehektare—merasakan kata 'keluarga' itu menghangatkan sesuatu di dalam tubuh manusianya yang renta. Karena di Sumberwangi, ia dijaga karena ia dhanyang. Di sini, ia dijaga karena ia... dia. Lelaki tua yang mengupas bawang, yang menyiram pot, yang membayar sewa tepat waktu, yang membuatkan wedang jahe saat ibu kost demam.
"Inggih, Bu," katanya, suaranya sedikit serak. "Matur nuwun."
Ingatannya berlubang—ia masih lupa banyak hal, kadang lupa nama Bu Sari sebentar di pagi hari sebelum buku ingatan Nayla mengembalikannya, kadang lupa sebagian dari tiga bulan pertamanya di kota, kadang lupa wajah-wajah warga Sumberwangi yang dulu ia jaga. Kuasanya kecil—ia tak bisa lagi menumbuhkan sehektare semalam, tak bisa menahan banjir besar, hanya bisa memberi untung-untung kecil dan merawat pot-pot. Ia hanya dhanyang tua yang lelah. Tapi pagi itu, di dapur yang berbau tempe goreng dan bawang dan kopi tubruk, dengan garis lumpur banjir yang sudah memudar dari dinding dan dari hidupnya, Ki Lawu menyadari bahwa ia memiliki sesuatu yang tak pernah ia miliki bahkan di puncak kekuatannya dulu di Sumberwangi: rumah yang memilih untuk menyayanginya, bukan karena ia kuat, tapi justru saat ia lemah.
Di luar, gerimis turun lembut di gang hijau yang teduh, menyirami pot-pot dan biopori dan tanah-tanah yang menapas, dan dinding kost menyerap basahnya tanpa meninggalkan garis baru.