Senja terakhir di bulan yang ke sekian setelah segalanya usai turun perlahan di atas gang, dan Ki Lawu duduk di kursi teras kost—kursi yang sekarang sudah benar-benar miliknya, yang catnya mengelupas di sandaran tangan karena terlalu sering ia duduki—menatap gang sempit yang lampu-lampunya satu per satu menyala saat langit memerah lalu mengungu. Di sampingnya Nayla duduk di lantai teras bersandar ke tiang, kakinya selonjor, dan di kursi sebelah Bu Sari mengipasi diri dengan koran sambil sesekali berteriak menyuruh anak tetangga jangan main bola dekat pot. Aroma kopi tubruk dan gorengan dari warung ujung gang mengambang di udara, azan magrib mulai terdengar dari musala, dan suara kota—klakson jauh, gemericik motor, anak-anak pulang main, ibu-ibu memanggil makan—mengalun seperti yang selalu ia dengar tiap senja, hanya saja kini tak ada satu pun bagian darinya yang terdengar asing.
Ia ingat senja pertamanya di kota ini. Ia ingat—samar, karena banyak yang hilang, tapi cukup—betapa bisingnya, betapa anyirnya bau aspal, betapa kesepiannya berdiri di gang penuh manusia yang tak satu pun melihatnya sebagai apa adanya, hanya sebagai om-om gila yang bicara pada pohon palem. Ia ingat kepanikan menyadari ini bukan alamnya, ketakutan merasakan tubuhnya memudar, dan kerinduan yang menyayat pada beringinnya yang ditebang, pada sumber airnya, pada Sumberwangi yang ia kira adalah satu-satunya rumah yang mungkin baginya.
Sekarang ia menatap gang yang sama, dan yang ia rasakan adalah damai.
"Pak lagi mikirin apa?" tanya Nayla, memperhatikan keheningan Ki Lawu yang berbeda dari biasanya.
Ki Lawu tak langsung menjawab. Ia menatap mural beringin besar di dinding seberang, yang dilukis anak-anak muda tanpa tahu kenapa mereka memilih pohon itu. "Sumberwangi," katanya akhirnya. "Aku lagi mikirin Sumberwangi."
Nayla menegang sedikit—setahun lebih bersama Ki Lawu, ia tahu betapa kata itu dulu sanggup membuat dhanyang tua ini terdiam berjam-jam dalam pilu. Tapi kali ini, saat Ki Lawu menyebut nama kampungnya, suaranya tidak pilu. Suaranya tenang, hangat, seperti orang menyebut nama teman lama yang baik-baik saja.
"Pak kangen?" tanya Nayla hati-hati.
"Kangen," jawab Ki Lawu, tanpa ragu. "Tapi kangen yang nggak sakit, Nduk. Kangen yang seneng." Ia tersenyum. "Beringin baru di sana udah gede sekarang. Mbah Surti kirim kabar lewat kerabat Bu Sari—sumber airnya udah ngalir lagi, warga banyak yang balik, panen mulai jalan. Dan dhanyang mudanya—" ia berhenti, dan ada kebanggaan seorang tua dalam suaranya, "—dhanyang mudanya tumbuh baik. Sumberwangi punya penjaganya sendiri. Desa itu hidup, dan dia hidup tanpa aku."
"Pak nggak sedih?" tanya Nayla. "Tempat lahir Pak punya penjaga lain. Pak nggak dibutuhin lagi di sana."
Ki Lawu menggeleng pelan, dan untuk menjawabnya ia menatap gang—gang sempit, ribut, penuh pot dan biopori dan tanah yang menapas, gang yang setahun lebih lalu adalah tempat asing tempat ia terdampar tanpa KTP dan tanpa harapan.
"Dulu aku kira rumah itu tempat kita lahir," katanya. "Tempat yang ngebentuk kita, yang kita warisi, yang nungguin kita pulang. Makanya pas beringinku ditebang, aku ngerasa kehilangan rumah, dan aku pikir satu-satunya cara nggak tersesat itu pulang ke tempat itu." Ia menatap Nayla, lalu Bu Sari, lalu gang. "Tapi aku salah. Rumah itu bukan tempat kita lahir. Rumah itu tempat yang kita rawat sampai dia ngerawat kita balik. Rumah itu tempat yang butuh kita, dan yang kita pilih buat dibutuhin." Ia menyentuh sandaran kursi yang catnya mengelupas. "Sumberwangi ngelahirin aku. Tapi kota ini—kota ini aku pilih. Dan tempat yang kita pilih, kadang, lebih jadi rumah daripada tempat yang ngelahirin kita."
Bu Sari, yang pura-pura tidak mendengarkan sambil mengipasi diri dengan koran, berdehem keras dan berkata, "Halah, ngomong apa sih kamu, melow banget. Udah, gorengan udah dingin tuh, dimakan." Tapi tangannya diam-diam mengusap sudut matanya dengan koran.
Malam turun penuh. Lampu gang menyala semua, kuning hangat, dan dari teras Ki Lawu bisa melihat ke sepanjang gang—bisa melihat, dengan mata dhanyang-nya yang masih tersisa, titik-titik tanah hidup yang menyala lembut seperti bara kecil di kegelapan, tiap pot, tiap pekarangan, tiap biopori, tiap pojok yang dulu mati dan kini menapas. Ia bisa merasakan roh-roh di pos masing-masing: Ki Jombang di taman asam, penunggu sumur di embung, roh-roh muda di kolong jembatan, semua tenang, semua berumah, semua menjaga. Ia bisa merasakan tabir di seluruh kota kecilnya, tipis tapi terjaga, dipasak oleh ratusan tangan yang merawat tanah tanpa tahu mereka sedang memasang benteng melawan kekosongan. Dan jauh di seberang tabir, di tempat yang tak terjangkau, kekosongan itu—Wibawa, si lapar abadi—terkurung, kelaparan, menunggu keserakahan manusia membuka celah lagi suatu hari. Karena keserakahan tak bisa dibunuh, hanya bisa dilawan dengan terus merawat. Dan njaga, Ki Lawu tahu sekarang, memang tak pernah selesai. Tapi itu bukan beban lagi. Itu pekerjaan. Pekerjaan paling berarti yang bisa ia kerjakan, di tempat yang paling membutuhkannya.
Ia tidak lagi memudar. Tanah kota mengakuinya, menahannya, memberinya tenaga alih-alih mengambilnya. Ingatannya masih berlubang—ia masih lupa nama-nama, masih lupa wajah-wajah, masih perlu buku ingatan Nayla untuk menyimpan siapa dirinya—tapi yang penting tidak hilang: ia tahu ia dhanyang, ia tahu ini rumahnya, ia tahu siapa yang ia jaga dan siapa yang menjaganya. Kuasanya kecil, hanya untung-untung kecil dan kemangi yang tumbuh semalam. Tapi kecil itu cukup. Kecil itu, ternyata, justru lebih bermakna daripada megah—karena yang kecil itu menyentuh, yang kecil itu dekat, yang kecil itu adalah perbedaan antara aglonema Mbak Yuni yang hidup dan yang mati, antara gang yang banjir dan yang menyerap airnya sendiri, antara roh yang lapar dan roh yang berumah.
"Pak," kata Nayla, memecah keheningan, menyandarkan kepalanya ke tiang teras. "Inget setahun lebih lalu, waktu aku bilang 'selamat datang di rumah'?"
"Inget," kata Ki Lawu—dan kali ini ia benar-benar ingat, salah satu ingatan yang ia jaga mati-matian agar tak hilang.
"Sekarang gimana rasanya?"
Ki Lawu menatap gang sempit yang menyala lampu-lampunya di malam Jakarta yang biasa, mendengar suara kota yang dulu asing dan kini seperti dengung jantungnya sendiri, mencium aroma kopi dan gorengan dan tanah lembap yang menapas. Dhanyang yang dulu nyasar ke kota, yang terdampar tanpa pohon dan tanpa tanah dan nyaris lenyap, kini duduk di teras rumah yang ia pilih, di antara gadis yang ia jaga dan perempuan yang menampungnya dan kota yang sebutir demi sebutir belajar mencintainya kembali.
"Rasanya," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya sejak malam pertamanya di kota ini, ia mengucapkannya dengan keyakinan penuh, tanpa sisa keraguan, tanpa bayang kerinduan yang menyayat, "rasanya aku nggak tersesat lagi."
Ia tidak kehilangan rumah. Ia menumbuhkannya kembali, di tempat yang paling tak ia sangka, di kota yang menguruk tanahnya, di gang yang sempit, dari ketiadaan menjadi tempat yang mengakuinya. Bukan rumah yang melahirkannya. Tapi rumah yang ia pilih, yang ia rawat sampai ia dirawat balik, yang membutuhkannya dan yang ia butuhkan.
Malam itu, di teras yang hangat, di antara orang-orang yang ia cintai, di tanah yang akhirnya mengakuinya, Ki Lawu—dhanyang kota, dipilih dan berakar dan tak lagi tersesat—menutup matanya, mendengarkan napas tanah yang hidup di seluruh gang, dan tersenyum. Yang tersesat, akhirnya, telah pulang. Bukan ke tempat asalnya. Tapi ke tempat yang ia jadikan rumah.