Pak Karyo mengajak Ki Lawu berkeliling di malam Jumat Kliwon—bukan untuk hal seram seperti yang dibayangkan orang tentang malam itu, tapi justru sebaliknya, untuk hal yang paling tenang yang pernah dilihat Ki Lawu sejak ia nyasar ke kota ini: ronda penjaga. Bukan ronda manusia dengan kentongan dan pos hansip, tapi ronda yang tak terlihat mata biasa, ronda para roh tersesat yang dulu meringkuk ketakutan di kolong jembatan dan kini, satu per satu, sudah punya rumah.
Titik pertama yang mereka kunjungi adalah taman kecil di bekas lahan kosong tempat dulu Ki Lawu pertama kali bertemu roh asam tua yang lupa namanya. Roh itu kini berdiri tegak di samping pohon asam muda yang ditanam warga, sosoknya yang dulu pudar dan nyaris menjadi 'lapar' kini jernih, hampir bersinar tenang seperti orang tua yang sudah tidur cukup setelah bertahun-tahun insomnia. Di bawah pohon asam itu ada bangku, dan di bangku itu tiap sore anak-anak bermain, ibu-ibu mengobrol, dan kakek-kakek main catur—dan roh asam menjaga mereka semua dengan rasa syukur yang dalam, karena keberadaan mereka di tanahnya, kepercayaan mereka untuk duduk dan tertawa di bawah pohonnya, adalah sesaji yang jauh lebih mengenyangkan daripada dupa.
"Adimas Lawu," sapa roh asam, membungkuk hormat. "Tanah ini tenang. Tidur nyenyak."
"Kamu juga keliatan nyenyak," balas Ki Lawu. "Inget namamu sekarang?"
Roh asam tersenyum, senyum samar yang berpuluh tahun tak pernah ia tampilkan. "Inget. Namaku Ki Jombang. Penunggu pohon asam, dulu, di Pasar Lama." Ia menatap pohon asam mudanya. "Kalinya udah nggak ada. Tapi asamnya tumbuh lagi, di sini. Aku berumah lagi, Adimas. Setelah sekian lama."
Mereka melanjutkan ronda. Di embung kecil yang dibuat warga di ujung kampung sebagai resapan—gagasan yang diam-diam disusupkan Nayla ke dalam program kelurahan—seorang penunggu sumur tua menjaga air dengan setia, memastikan tak ada yang membuang sampah, memberi 'untung kecil' pada anak-anak yang ikut membersihkan. Di pojok bekas terminal yang dulu tabirnya menganga, seekor roh penjaga pohon kenari kini bersemayam di pohon trembesi muda, karena kenari aslinya sudah lama ditebang tapi cinta-rawat warga pada pohon penggantinya cukup untuk mengakuinya. Di tiap titik, cerita yang sama: roh yang dulu terlempar, terlupakan, dan kelaparan, kini punya tanah yang mengakuinya, manusia yang merawat tempatnya tanpa tahu bahwa mereka sedang memberi makan seorang penjaga.
"Lucu ya, Ki," kata Pak Karyo sambil mendorong gerobak sampahnya yang malam itu kosong—ia memang sengaja tak bekerja, hanya menemani. "Manusia kota pikir mereka cuma nanem pohon biar adem, biar nggak banjir. Nggak ada yang tau mereka lagi ngasih rumah ke roh-roh yang nyaris ilang."
"Nggak perlu tau," kata Ki Lawu. "Justru bagus mereka nggak tau. Kalau tau, nanti mereka nanem karena takut, karena pengin imbalan dari yang halus. Padahal yang bikin tanah hidup itu bukan takutnya. Yang bikin tanah hidup itu sayangnya yang tulus." Ia memungut sehelai daun trembesi yang gugur, memutarnya di jari. "Roh-roh ini berumah bukan karena disembah. Mereka berumah karena ada manusia yang ngerawat tanah dengan ikhlas. Itu beda sama zaman dulu. Zaman dulu, kami dijaga sama sesaji, sama ritual, sama takut. Sekarang kami dijaga sama—" ia mencari kata, "—sama orang yang cuma pengin gangnya ijo dan nggak banjir."
Di kolong jembatan tempat segalanya dulu dimulai, mereka berhenti paling lama. Tempat itu, yang dulu lembap, gelap, penuh hawa putus asa para roh yang melarikan diri dari kota yang melupakan mereka, kini ditanami trembesi dan tanaman rambat, dindingnya dicat mural oleh anak-anak muda kampung, dan di bawahnya beberapa roh muda—roh-roh yang baru lahir dari tanah hidup baru, bukan yang terlempar dari masa lalu—berkumpul mengelilingi Ki Lawu seperti murid mengelilingi guru.
Mereka ini berbeda dari roh-roh tua yang tersesat. Mereka lahir di kota, dari tanah kota, dan mereka tak punya kampung untuk dirindukan, tak punya beringin yang ditebang untuk diratapi. Kota inilah satu-satunya rumah yang mereka kenal. Dan mereka memandang Ki Lawu—dhanyang tua yang memilih berakar di sini—sebagai sesepuh mereka, yang mengajari cara menjaga tanah urban yang aneh ini: tanah yang dipenuhi beton dan kabel dan klakson, tanah yang harus diajari mencintai dirinya kembali.
"Eyang," tanya salah satu roh muda, sosoknya tipis seperti uap dari aspal panas, "gimana caranya njaga kalau manusianya lupa sama kita? Kalau mereka nggak percaya?"
Ki Lawu duduk di atas batu, dan roh-roh muda itu mendekat. "Justru di situ tugasnya," katanya. "Njaga yang udah percaya itu gampang. Njaga yang lupa, yang nggak percaya—itu yang susah, dan itu yang paling perlu. Kalian nggak usah maksa mereka percaya. Cukup bikin tanah tempat kalian tinggal jadi tempat yang enak, yang ijo, yang sejuk, yang bikin orang pengin duduk dan napas. Lama-lama mereka sayang sama tempat itu. Dan pas mereka sayang sama tempat itu—" ia tersenyum, "—tanpa sadar mereka udah njaga kalian."
Roh-roh muda menyerap kata-kata itu, dan dalam keheningan kolong jembatan yang kini tenang, Ki Lawu menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat dan sekaligus pilu: ia sedang menjadi apa yang dulu dilakukan para penjaga tua Nusantara—mewariskan cara menjaga pada generasi berikutnya. Dhanyang Ciliwung yang nyaris bisu di bawah beton telah mewariskan padanya cara mengurung kekosongan; kini ia mewariskan pada roh-roh muda kota cara berumah, cara menjaga, cara bertahan di dunia yang melupakan mereka. Kaum yang terlupakan, yang dibuang ke pinggir oleh kota yang menguruk segalanya, akhirnya menemukan tempat—bukan dengan merebut kembali masa lalu, tapi dengan menumbuhkan masa depan di celah-celah kecil yang ditinggalkan.
Dalam perjalanan pulang, Pak Karyo bertanya, "Capek nggak, Ki, jadi tetua banyak roh gitu?"
Ki Lawu menatap langit kota yang oranye oleh polusi cahaya, tak ada bintang, tapi entah kenapa malam itu terasa luas. "Capek," akunya, untuk kesekian kali kata itu keluar tanpa keluhan. "Tapi aku nggak sendirian ngurusnya. Itu bedanya, Karyo." Ia tersenyum tipis. "Dulu aku kira njaga itu kerjaan satu makhluk. Sekarang aku ngerti—njaga itu kerjaan seluruh kampung. Manusia, roh, tanah, semua bareng. Dan itu—itu yang bikin aku nggak habis."