Pagi-pagi sekali, sebelum azan subuh selesai dan sebelum Bu Sari menyalakan kompor untuk merebus air, Ki Lawu sudah berjongkok di pekarangan kost dengan gembor karat di tangan kanannya, menyiram satu per satu pot yang berbaris di sepanjang dinding—pot kemangi, pot cabai rawit yang buahnya tak pernah lebih dari segenggam, pot lidah mertua yang kata Nayla 'gampang banget dipiara Pak, mati aja susah,' dan pot tanah hitam kecil di pojok yang tak ditanami apa-apa karena itu bukan pot biasa, itu tanah hidup yang menapas, yang tiap subuh ia sapa lebih dulu daripada yang lain.
"Kamu duluan," katanya pelan pada pot pojok itu, seperti orang menyapa kerabat tua. "Yang lain ngantri."
Ia tak lagi malu disebut dhanyang. Tiga bulan lalu kata itu membuatnya merasa seperti pengungsi yang kehilangan istana; sekarang kata itu terasa pas, sesederhana 'tukang kebun gang' atau 'om sebelah'. Gang sempit tempat ia tinggal—gang yang dulu adalah tempat asing penuh klakson dan bau aspal—kini ia kenal sebutir demi sebutir: ia tahu got mana yang mampet kalau hujan deras, ia tahu pohon palem depan kost itu rewel kalau seminggu tak disiram, ia tahu kucing belang milik Pak Darto suka tidur di atas tutup tandon karena hangat, dan ia tahu—ini yang paling penting—tiap pojok yang tabirnya tipis, tiap titik yang dulu mati dan kini perlahan dihidupkan oleh tanah pot yang ditanam warga tanpa tahu mereka sedang memasang pasak penjaga.
Masalahnya, menjadi dhanyang gang sempit ternyata bukan soal menjaga tabir saja. Bukan soal kekosongan purba di seberang. Itu sudah selesai. Yang tak selesai-selesai adalah hal-hal yang jauh lebih kecil dan jauh lebih ribut.
"Pak Lawu! Pak Lawuuu!"
Ia menoleh. Mbak Yuni—yang dulu nyaris dimakan kekosongan lewat lukanya, yang kini sudah lunas utang dan rajin bawa oleh-oleh tiap pulang kampung—berdiri di mulut gang dengan pot bunga di tangan, raut wajahnya seperti orang yang membawa pasien sekarat ke gawat darurat.
"Pak, aglonema saya kenapa ya? Daunnya kuning semua. Padahal udah saya kasih vitamin yang viral itu, yang di marketplace, yang katanya bisa bikin daun mengkilap."
Ki Lawu menerima pot itu, memandanginya, lalu mendekatkan hidungnya ke tanah—bukan untuk gaya, tapi karena memang begitu caranya membaca. Ia mengendus. Bau pupuk kimia yang berlebihan, bau akar yang membusuk karena terlalu sering disiram, dan di balik semua itu, bau tanaman yang lelah disayang dengan cara yang salah.
"Kebanyakan sayang," katanya. "Kamu siram tiap hari?"
"Iya dong Pak, biar nggak kering."
"Akarnya bukan kering, Nduk. Akarnya kebanjiran. Tanaman itu kayak orang—dikasih air mulu, tenggelam. Disayang berlebihan, malah mati." Ia mencungkil sedikit tanah dengan jari, menunjukkan akar yang menghitam. "Kamu siram kalau tanahnya udah kering aja. Cek pakai jari. Sama, vitamin viral itu buang. Tanaman nggak butuh yang viral, butuh yang sabar."
Mbak Yuni mencatat di ponselnya dengan khidmat, seolah Ki Lawu baru saja menyampaikan wahyu, lalu berlari pulang setelah berterima kasih tiga kali. Ki Lawu menghela napas dan kembali ke gembornya, tapi belum sampai pot ketiga, datang lagi—kali ini Pak Darto, dengan keluhan mangga di halamannya yang berbunga lebat tapi tak pernah jadi buah, lalu disusul ibu muda penghuni kamar atas yang sirih gadingnya 'kok nggak mau menjalar Pak,' lalu anak SD tetangga yang disuruh ibunya bertanya kenapa cabai mereka rontok bunganya.
Nayla, yang muncul di teras sambil menguap dengan rambut masih kusut dan mug kopi di tangan, menyaksikan antrean keluhan tanaman itu dengan senyum geli yang ia sembunyikan di balik mug.
"Selamat pagi, Sesepuh Tanaman se-Gang," katanya. "Antreannya udah kayak loket BPJS."
Ki Lawu menatapnya dengan ekspresi seorang raja yang dipaksa turun takhta jadi tukang kebun. "Dulu aku njaga sumber air sehektare, Nduk. Aku ngatur rezeki sedesa. Aku nengahin sengketa antara roh sungai sama roh sumur yang berantem soal batas tanah selama empat puluh tahun." Ia menunjuk pot aglonema yang baru saja dibawa kabur Mbak Yuni. "Sekarang aku ngurusin daun kuning."
"Dan Pak suka," kata Nayla, bukan bertanya.
Ki Lawu diam sebentar. Lalu, dengan keengganan seorang tua yang gengsi mengakui kebahagiaannya sendiri, ia berkata, "...Ya. Aku suka."
Karena itulah kebenarannya. Menjaga sehektare sumber air adalah pekerjaan agung yang jauh, megah, dan sepi. Tapi mengajari Mbak Yuni cara tidak menenggelamkan aglonemanya—itu dekat. Itu menyentuh. Itu berarti seseorang datang kepadanya bukan karena takut, bukan karena butuh mukjizat, tapi karena percaya bahwa lelaki tua di pojok gang ini tahu cara membuat sesuatu tumbuh. Dan dalam kepercayaan sekecil itu, Ki Lawu menemukan bentuk penghormatan yang lebih murni daripada sesaji apa pun yang pernah ia terima di bawah beringinnya.
Siang harinya, ia berjalan menyusuri rutenya—rute yang ia ciptakan sendiri, yang tak ada di peta mana pun. Ia singgah di kolong jembatan tempat roh-roh dulu berkumpul ketakutan, yang kini ditanami pohon trembesi muda dan tanah hidup yang menapas tenang; ia menyapa roh asam tua yang menjaga taman kecil di bekas lahan kosong, yang kini ingat namanya dan menyebutnya 'Adimas' dengan rasa hormat seorang sesepuh pada yang lebih muda meski Ki Lawu jauh lebih tua—soal usia di antara yang halus memang rumit. Ia memeriksa pot-pot di gang sebelah, mengendus tabir di pojok bekas terminal, dan di mana-mana ia menemukan hal yang sama: tipis, tenang, terjaga. Kota yang dulu menguruk tanahnya kini, di pojok-pojok kecilnya, belajar menahannya tetap hidup.
Di sebuah warung kopi pinggir gang, Pak Karyo si tukang sampah—satu-satunya yang dari awal melihatnya sebagai dhanyang sungguhan—menuangkan kopi tubruk ke gelas Ki Lawu tanpa diminta.
"Gimana, Ki? Capek jadi tukang kebun seantero gang?"
Ki Lawu menyesap kopinya. Pahit, panas, dan entah kenapa terasa sempurna. "Capek," akunya. "Tapi capek yang bener. Capek yang ada gunanya." Ia menatap gang di luar warung—anak-anak pulang sekolah berlarian melewati pot-pot, seorang ibu menyiram tanaman di depan kamarnya, Bu Sari berdiri di teras kost berteriak menyuruh seseorang mengangkat jemuran karena mendung. Suara-suara biasa. Suara rumah.
"Dulu aku njaga karena itu tugasku," kata Ki Lawu pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Pak Karyo. "Sekarang aku njaga karena aku sayang." Ia meletakkan gelas. "Ternyata beda, Karyo. Beda banget."
Pak Karyo mengangguk, dan dua lelaki tua—satu manusia, satu dhanyang—duduk dalam diam yang nyaman, menyaksikan kota kecil mereka yang sempit dan ribut dan hidup, sementara di luar mendung pelan-pelan turun menjadi gerimis pertama yang akan menyirami semua pot tanpa perlu gembor siapa pun.