Ki Lawu berlutut di pekarangan kost, telapak tangannya menempel di tanah yang lembap oleh siraman sore, dan ia bertanya pada tanah dengan cara yang hanya dhanyang bisa—bukan dengan kata, tapi dengan seluruh kebingungannya, seluruh rindunya, seluruh dua rumah yang menariknya ke arah berlawanan. Ia menanyakan Sumberwangi, dan tanah kota menjawab dengan menunjukkan padanya kenangan yang masih utuh: beringin lama, sumber air, warga desa yang menaruh sesaji karena sayang. Lalu ia menanyakan Jakarta, dan tanah kecil di bawah tangannya—tanah yang dulu mati, yang ditumbuhkan dari kompos dapur dan cacing kebun Pak Karyo, yang disiram Bu Sari sambil menggerutu—menjawab dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih dalam: ia menjawab dengan mengakuinya.
Tanah kota mengenalnya. Tipis, ya, tidak sekuat Sumberwangi yang berabad merawatnya, tapi mengenalnya—karena selama tiga bulan ia merawat tanah ini, mengajari gang menanam, menghidupkan kembali pojok-pojok yang mati, dan tanah ini tumbuh untuk mengakuinya sebagai balasan. Dan dalam pengakuan itu Ki Lawu menemukan jawabannya, bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai pengorbanan, tapi sebagai sesuatu yang anehnya terasa seperti rindu yang akhirnya menemukan arahnya.
Ia bangkit, dan berjalan kembali ke teras, tempat Nayla, Bu Sari, dan Pak Karyo menunggunya dalam diam. Senja sudah turun penuh, lampu-lampu gang sudah menyala, dan dari kejauhan terdengar suara kota yang biasa—klakson, azan dari musala di ujung gang, gemericik motor, anak-anak yang pulang main. Suara yang dulu asing dan bising, kini terdengar seperti suara rumah.
"Aku udah mutusin," kata Ki Lawu, dan ketiganya menegakkan punggung. Ia duduk pelan di kursi teras, menatap gang yang tiga bulan lalu adalah tempat asing tempat seorang gadis menemukannya bicara pada pohon palem dan menyapa selokan dengan hormat. "Aku nggak pulang ke Sumberwangi."
Bu Sari, yang sudah menduga, tetap menarik napas. Nayla diam, menunggu sisanya.
"Sumberwangi udah punya penjaganya," lanjut Ki Lawu, suaranya tenang, tanpa keraguan yang selama ini selalu menyertai tiap keputusannya. "Desa itu lahir kembali, dan dia lahir bareng penjaga mudanya sendiri. Kalau aku tinggal di sana, aku cuma jadi kenangan tua yang ngalangin yang muda tumbuh. Aku bakal jadi dhanyang yang kuasanya abis, yang lupa banyak, duduk di bawah beringin sambil ngenang masa lalu." Ia menggeleng pelan. "Itu bukan njaga. Itu cuma nunggu lenyap di tempat yang nyaman."
Ia menatap gang. "Tapi di sini—kota ini nggak punya penjaga. Kota ini nggak percaya penjaga. Kota ini nguruk tanahnya, ngelupain yang halus, ngubur sumber-sumber airnya di bawah beton, dan tiap kali ada yang serakah, ada celah buat kekosongan masuk lagi. Kota ini, lebih dari mana pun, butuh yang ngingetin cara mencintai tanahnya." Suaranya melembut. "Dan ternyata, aku ngerti sekarang—itu pekerjaan paling penting yang bisa aku kerjain. Bukan njaga tanah yang udah tau cara nyayangi dirinya. Tapi njaga tanah yang harus diajarin lagi."
Nayla merasakan matanya panas, tapi ia tersenyum. "Jadi Pak tinggal."
"Aku tinggal," kata Ki Lawu, dan untuk pertama kalinya kata itu keluar bukan sebagai kekalahan, bukan sebagai 'tidak bisa pulang', tapi sebagai pilihan utuh. "Bukan karena aku nggak bisa pulang. Aku bisa—Sumberwangi nawarin aku pintu. Tapi aku milih nggak. Aku milih di sini." Ia menatap mereka satu per satu, gadis arsitek yang melindunginya, ibu kost yang menampungnya, tukang sampah yang mengenalinya. "Karena di sini aku nemu apa artinya njaga di tempat yang harus diajarin nyintai tanahnya lagi. Dan itu—itu lebih berarti daripada pulang ke tempat yang udah nggak butuh aku."
Bu Sari mengusap matanya dengan ujung kerudung, lalu berdehem keras untuk menutupi harunya. "Ya udah," katanya, dengan nada tegas yang tidak menipu siapa pun. "Berarti kamu tetep di kamar yang itu. Tapi sewa tetep jalan ya, jangan kira gara-gara kamu dhanyang terus gratis. Dan pot-pot di pekarangan itu kamu yang ngurus, aku capek nyiramin."
Ki Lawu tertawa—tawa serak yang tulus, tawa pertamanya yang benar-benar ringan sejak ia nyasar ke kota ini. "Inggih, Bu," katanya. "Aku yang ngurus."
Nayla menyandarkan kepalanya ke tiang teras, menatap dhanyang tua yang memilih kota asing sebagai rumahnya, dan ia merasakan sesuatu yang lama hilang dari dirinya—sesuatu yang lahir di tanah keluarganya yang digusur dulu, yang ia simpan jadi marah selama bertahun-tahun—akhirnya benar-benar menutup. Ki Lawu memilih berakar di tempat yang paling tak menyangka, di kota yang menggusur, di gang yang sempit, dan dalam pilihannya itu Nayla menemukan bukti bahwa rumah bukanlah sesuatu yang kita warisi, melainkan sesuatu yang kita tumbuhkan.
"Pak," katanya pelan. "Selamat datang di rumah."
Dan Ki Lawu, dhanyang yang dulu nyasar ke kota, kini memandang gang sempit yang menyala lampu-lampunya di malam Jakarta yang biasa, dan untuk pertama kalinya sejak beringinnya ditebang di malam pertama, ia tidak merasa tersesat. Ia di rumah. Bukan rumah yang melahirkannya. Tapi rumah yang ia pilih, yang ia tumbuhkan, yang membutuhkannya—dan yang, sebutir demi sebutir, sedang belajar mencintainya kembali.