Mereka kembali ke Jakarta pada akhir minggu, mobil sewaan menembus jalan tol yang sama yang dulu terasa seperti luka, tapi kini terasa berbeda—mungkin karena Ki Lawu sudah berdamai dengan begitu banyak, mungkin karena ia tidak lagi melihat tanah yang diuruk hanya sebagai kekalahan, melainkan sebagai tanah yang menunggu seseorang menanamnya kembali. Bu Sari menyambut mereka di kost dengan kolak dan omelan tentang berapa lama mereka pergi, dan untuk sesaat semuanya terasa seperti pulang—pulang ke gang sempit yang tiga bulan lalu adalah tempat asing yang bising dan bau aspal.
Gang itu selamat. Penggusuran yang dipaksakan Cakra Bumi telah runtuh bersama perusahaannya: tanpa Tuan Wibawa, tanpa Renata, dengan pemalsuan sertifikat yang dibongkar di pengadilan oleh kesaksian Pak Hendra, PT Cakra Bumi Wijaya hancur secara hukum dalam hitungan minggu. Proyek superblok di pusat kota mangkrak, pasaknya tercabut, tanahnya ditinggalkan. Warga gang yang dulu panik kini menanam di pekarangan mereka dengan bangga, gang hijau jadi rujukan kelurahan, dan tak satu pun dari mereka benar-benar tahu bahwa tanah yang mereka rawat itu adalah pasak yang menahan kekosongan dari menelan kota mereka.
Tapi pada malam pertama mereka kembali, Pak Karyo datang ke kost dengan wajah serius, membawa kabar dari kolong-kolong dan pojok-pojok kota yang ia jaga. "Ki," katanya, duduk di teras kost sambil menyeruput teh Bu Sari, "pagar kita berdiri. Tapi pagar butuh dijaga. Roh-roh muda yang baru berumah di pasak-pasak itu—mereka masih belajar. Sebagian belum ngerti caranya nyerap rasa syukur warga, belum ngerti caranya nahan tabir kalau ada yang nyoba buka lagi. Roh asam tua bisa bantu, tapi dia juga udah sepuh." Ia menatap Ki Lawu. "Mereka butuh yang ngajarin, Ki. Yang mimpin. Tetua."
Ki Lawu mendengarkan dalam diam. Di pekarangan kost, di tanah hidup yang dulu mengakuinya pertama kali, pot-pot warga berbaris rapi, disiram tiap pagi, hidup. Ia bisa merasakan jejaring pasak yang membentang di seluruh kota—tipis, baru, rapuh, tapi ada—dan ia bisa merasakan roh-roh muda di tiap titik, kebingungan, belajar, butuh bimbingan.
"Dan ada yang lebih," lanjut Pak Karyo. "Warga. Mereka tau cara nyiram, cara ngerawat, tapi mereka nggak tau kenapa. Mereka nggak tau tanah yang mereka rawat itu nahan sesuatu. Suatu hari nanti, kalau ada lagi yang serakah, kalau ada lagi yang nguruk tanah keramat—dan pasti ada, Ki, kota nggak pernah berhenti bangun—mereka butuh yang ngingetin. Yang ngajarin lagi cara mencintai tanah. Kota ini gampang lupa, Ki. Sampeyan sendiri yang bilang. Kota nelen kengeriannya sendiri ke rutinitas. Besok mereka lupa malam groundbreaking. Lupa kekosongan. Dan kalau mereka lupa, pagar bisa runtuh pelan-pelan."
Nayla, yang duduk di anak tangga teras, ikut bicara. "Pak, aku udah mikirin ini sejak di Sumberwangi." Ia memeluk lututnya, menatap gang yang lampunya mulai menyala satu per satu di senja. "Sumberwangi udah punya penjaga baru. Desa itu bangkit, dia lahir penjaganya sendiri dari beringin baru. Mereka nggak butuh Pak lagi—mereka sayang Pak, tapi mereka nggak butuh Pak." Ia menoleh ke arah dhanyang tua itu. "Tapi kota ini beda. Kota ini nggak pernah punya penjaga yang masih hidup. Dhanyang Ciliwung udah hampir bisu di bawah beton. Penjaga-penjaga lama udah dimakan atau dilupain. Roh-roh muda masih belajar. Kota ini—" ia berhenti, lalu melanjutkan pelan, "kota ini nggak cuma butuh penjaga, Pak. Kota ini butuh diajarin cara percaya sama penjaga lagi. Dan itu pekerjaan yang nggak ada di Sumberwangi."
Ki Lawu menatap mereka berdua—tukang sampah yang melihat yang halus, gadis arsitek yang menolak membiarkannya mati—dan ia merasakan kedua jalan terbentang di hadapannya dengan jelas, untuk pertama kalinya tanpa paksaan apa pun. Di selatan, Sumberwangi yang bangkit, tanah leluhur yang melahirkannya, cinta warga tua yang menawarinya pulang. Di sini, kota yang asing dan bising dan tak percaya, yang menggusur tanpa sayang, yang melupakan dengan cepat—tapi yang punya gang dengan pot-pot yang disiram tiap pagi, ibu kost yang menganggapnya keluarga, gadis yang mencatat siapa dirinya di buku, roh-roh muda yang butuh diajari, dan jutaan orang yang harus diajari lagi cara mencintai tanah di bawah kaki mereka.
Kedua jalan kini sama-sama nyata. Sama-sama punya harga. Dan untuk pertama kalinya sejak malam pertama ia nyasar, tak ada Wibawa, tak ada penggusuran, tak ada tenggat yang memaksa—hanya pilihan, murni, miliknya sendiri.
"Aku perlu duduk di pekarangan," kata Ki Lawu pelan, bangkit dengan susah payah. "Aku perlu nanya tanah."
Dan ia berjalan ke pekarangan kost, ke sepetak tanah hidup yang dulu pertama kali mengakuinya di kota ini, dan berlutut di sana di bawah langit Jakarta yang berawan, di antara pot-pot kemangi dan cabai yang disiram warga tiap pagi, untuk bertanya pada tanah ke mana ia harus pulang.