Mereka belum sempat berangkat ke Sumberwangi ketika kota memutuskan untuk mempercepat segalanya, seperti yang selalu kota lakukan.
Hujan turun tiga hari tanpa jeda. Bukan hujan desa yang ramah, yang ditunggu petani dan menyusup pelan ke tanah. Ini hujan kota yang tak punya ke mana harus pergi—jatuh di atap, jatuh di aspal, jatuh di beton, lalu berkumpul jadi air keruh yang naik dari got-got mampet, merayap masuk ke gang-gang sempit, dan akhirnya mengetuk pintu kost Bu Sari dengan tinggi semata kaki dan terus naik.
Ki Lawu berdiri di teras yang mulai tergenang, dan untuk pertama kalinya sejak tiba, ia tidak merasa asing—ia merasa marah. Bukan marah pada hujan. Air tak bersalah. Ia marah pada apa yang dilakukan kota pada air: tak ada tanah untuk meminumnya, tak ada akar untuk menahannya, tak ada sumber untuk menampungnya. Air dipaksa jadi musuh padahal ia tamu.
Lalu ia mencium sesuatu yang membuat tengkuknya meremang. Di antara bau hujan, bau lumpur, bau sampah plastik yang terbawa arus, ada satu bau lain yang ia kenal—bau dingin orang yang menandatangani sesuatu di tempat jauh lalu lupa ada tanah di ujungnya. Bau yang sama persis dengan malam terakhir Sumberwangi.
"Banjir ini bukan kebetulan," gumamnya pada Nayla, yang sedang panik mengangkat barang ke tempat tinggi. "Aku mencium bau yang sama. Di hulu sana, ada tanah yang diuruk. Resapan ditutup. Sungai dipersempit untuk dibangun sesuatu. Air ini tak punya tempat lagi, jadi ia datang kemari. Aku mencium proyek yang sama dengan yang membunuh pohonku, hanya tubuhnya berbeda."
Tapi tak ada waktu untuk menyelidiki. Air naik cepat. Mbak Yuni terjebak di tangga sambil menggendong kucing kampung yang ketakutan. Pak Darto berusaha menyelamatkan gerobak buburnya yang hanyut. Bu Sari berteriak agar semua naik ke lantai atas. Dan di ujung gang, Nayla melihat seorang anak kecil—anak Pak Darto—terpeleset di arus yang makin deras, terbawa beberapa meter sebelum tersangkut tiang listrik, menangis sambil mencengkeram tiang dengan air sudah setinggi dadanya.
Ki Lawu tidak berpikir. Aturan kotak kecil yang ia sepakati dengan Nayla, jatah harian, batas aman—semuanya lenyap dari kepalanya seperti debu ditiup. Yang tersisa hanyalah hakikatnya yang paling tua: penjaga tidak membiarkan yang dijaganya tenggelam.
Ia turun ke air. Ia berlutut di tengah arus, menancapkan kedua telapak tangan ke dalam genangan, mencari—jauh ke bawah, melewati aspal, melewati pipa, sampai ke tanah yang dibungkam di bawah kota—dan ia memohon. Bukan memaksa. Memohon, seperti pada tetangga lama. Tolong. Sekali ini. Ingatlah caramu meminum air. Ingatlah caramu menjadi tanah.
Dan tanah, yang sudah ratusan tahun dilupakan dan ditindih, untuk sesaat mengingat. Di sekitar tiang listrik tempat anak itu tersangkut, arus melambat—bukan berhenti, tapi melambat cukup untuk Nayla menerjang, meraih anak itu, dan menariknya ke tempat tinggi. Genangan di gang itu tidak surut ajaib seperti di film; air kota terlalu besar untuk satu dhanyang lemah. Tapi di titik-titik tempat Ki Lawu menyentuh, tanah mulai meminum lagi, sedikit, dan arus yang mematikan menjadi arus yang hanya merepotkan. Itu cukup. Itu cukup untuk tidak ada yang tenggelam.
Harganya datang seketika. Ki Lawu merasakan lapisan-lapisan di dalam dirinya terkelupas—bukan satu, bukan dua, tapi banyak, lebih banyak dari yang berani ia hitung. Pandangannya menggelap, telinganya berdenging, dan ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: lupa. Sekilas, ia lupa nama gunung tempat desanya berada. Sekilas, ia lupa warna mata Nayla. Ingatan-ingatan kecil terlepas seperti daun di badai, dan ia panik mencengkeramnya, tapi beberapa sudah hilang dan ia bahkan tak tahu apa yang hilang.
Ia ambruk di air dangkal. Nayla, yang baru menyerahkan anak Pak Darto ke pelukan ayahnya, berbalik dan menjerit melihat tubuh tua itu terkapar dengan wajah di atas permukaan air hanya beberapa senti. Ia menerjang lagi, menariknya keluar, dan tubuh Ki Lawu seringan ranting kering—terlalu ringan, ringan dengan cara yang menakutkan, seolah sebagian dari dirinya memang sudah pergi.
Dan di tengah kekacauan itu, sesuatu yang lain terjadi: orang-orang melihat. Tetangga di lantai atas, warga gang yang berdiri di tempat tinggi, semua menyaksikan bagaimana di sekitar lelaki tua itu air sempat melambat ketika seharusnya tidak, bagaimana arus seolah enggan menyentuhnya. Sebagian menatap dengan mulut ternganga, takjub, berbisik tentang "orang pintar", tentang "wali", tentang keajaiban. Tapi sebagian lain menatap dengan mata menyipit, curiga, dengan bisik yang berbeda—bisik tentang dukun, tentang santet banjir, tentang "jangan-jangan dia yang ngirim air ini biar kelihatan jadi pahlawan". Di kota yang sudah lama tak percaya pada penjaga, bahkan keajaiban pun dicurigai.
Nayla tak peduli pada bisik-bisik itu. Ia menggendong tubuh ringan Ki Lawu di pelukannya, hujan dan air mata bercampur di wajahnya, dan ia merasakan—dengan ngeri yang dingin—betapa redupnya napas pria itu. "Bapak bodoh," isaknya. "Bapak bodoh, kita kan udah sepakat. Bangun. Bangun, Pak. Bapak nggak boleh lupa siapa Bapak. Belum. Belum waktunya."
Ki Lawu, di ambang yang gelap, mendengar suara itu dari jauh. Ia mencengkeramnya seperti orang tenggelam mencengkeram tali. Suara itu—suara gadis yang marah karena peduli—ia putuskan untuk tidak melupakannya, apa pun yang harus ia korbankan. Dari semua yang terlepas malam itu, satu nama ia genggam mati-matian: Nayla.