"Oke, jadi gini logikanya," kata Nayla pagi-pagi, menyebar sketsa di lantai teras seperti arsitek yang mempresentasikan denah. "Bapak kuat di tanah yang ngakuin Bapak. Tanah Sumberwangi udah diuruk, jauh, dan mungkin udah rusak. Jadi daripada nyari tanah lama, kita bikin tanah baru yang mau ngakuin Bapak. Kita tumbuhin ikatan dari nol."
Ki Lawu menatap gadis itu dengan campuran takjub dan keraguan. "Ikatan tempat tidak ditumbuhkan, Nak. Ia mengeras selama puluhan, ratusan tahun. Tanah harus mengenalmu lewat musim demi musim. Itu seperti meminta benih jadi beringin tua dalam semalam."
"Bapak sendiri yang numbuhin tunas dalam semalam," balas Nayla. "Jadi jangan sok nggak bisa cepat. Kita nggak butuh beringin tua. Kita butuh sepetak kecil yang cukup ngakuin Bapak biar Bapak bisa berhenti ngikis umur tiap napas. Anggap aja... infus. Bukan sembuh, tapi bertahan."
Ki Lawu terdiam. Logikanya tidak salah secara hakikat—ia tak pernah memikirkannya begitu karena selama ratusan tahun ia tak pernah perlu. Dhanyang tidak membuat tanahnya. Dhanyang dilahirkan dari tanah yang sudah lama dicintai. Tapi tak ada hukum yang bilang itu tak bisa dibalik. Mungkin tak ada yang pernah cukup terdesak untuk mencoba.
Maka mereka mencoba. Bu Sari menyumbang ember bekas cat yang besar. Nayla membeli tanah dan pupuk dari toko bunga, menyeret karung-karung itu naik tangga sambil mengomel. Ki Lawu, dengan upacara yang membuat Bu Sari berkali-kali bertanya "ini beneran perlu atau Bapak cuma suka ribet?", menyusun tanah lapis demi lapis sambil membaca semacam doa dalam bahasa yang Nayla tak kenal, lembut dan berirama, seperti nyanyian menidurkan anak.
"Tanah harus diperkenalkan padaku," Ki Lawu menjelaskan. "Sama seperti tetangga baru. Kau tidak bisa langsung menumpang tidur di rumah orang asing. Kau harus datang, menyapa, membawa sesuatu, hadir berulang kali, sampai mereka mengenal langkahmu di halaman."
Hasil eksperimen pertama adalah bencana yang lucu. Ki Lawu mencoba mengalirkan sedikit dirinya ke dalam ember—menanam 'sapaan' pertama—dan tanahnya, alih-alih mengenalnya, menolaknya seperti tubuh menolak duri. Tanaman cabai yang ditanam Nayla layu seketika dalam hitungan jam, daunnya menghitam. Ki Lawu sendiri pusing dan harus duduk. Tanah toko itu, ternyata, adalah tanah yang sudah "mati"—diayak, disterilkan, dipupuk kimia, tanah yang tak punya ingatan, tak punya cacing, tak punya napas. Tanah yang tak bisa mengenal siapa pun karena ia sendiri sudah lupa caranya hidup.
"Tanahnya terlalu bersih," Ki Lawu menyimpulkan, lelah. "Tak ada nyawa kecil di dalamnya. Aku tak bisa berkenalan dengan sesuatu yang sudah mati."
Nayla mengusap wajah, frustrasi, lalu—di sinilah otak desainnya bekerja—matanya menyala. "Berarti kita butuh tanah yang masih hidup. Tanah yang masih ada... ingatannya. Pak." Ia menoleh. "Bapak masih ingat persis di mana letak desa Bapak?"
Ki Lawu menegakkan badan. "Setiap jengkalnya. Sampai mati pun, kalau aku belum lupa."
"Kalau kita ambil tanah dari sana—dari deket bekas beringin Bapak, dari deket sumber air yang Bapak jaga—mungkin tanah itu masih 'kenal' Bapak. Masih ada ingatannya. Kita bawa kemari, kita pakai jadi bibit buat tanah baru. Kayak ragi. Sedikit aja, tapi yang hidup, buat ngehidupin yang banyak."
Ki Lawu menatapnya dengan mata yang melebar. Itu—ide itu—begitu sederhana dan begitu benar sampai ia heran kenapa dirinya, yang berusia ratusan tahun, tak terpikir. Tentu. Tanah Sumberwangi mengenalnya. Bahkan setelah diuruk, di lapisan dalam yang belum tersentuh besi, masih ada tanah yang menyimpan ingatan akan langkahnya selama dua belas keturunan. Bukan untuk pulang ke sana—ia terlalu lemah, dan desa itu mungkin sudah hancur. Tapi untuk membawa segenggam ingatan ke kota, dan menanamnya ulang seperti stek dari pohon induk.
"Nak," katanya pelan, suaranya tergetar, "itu... itu mungkin bisa."
"Mungkin," Nayla mengoreksi, tapi senyumnya tak bisa ditahan. "Banyak yang bisa gagal. Tanahnya mungkin udah rusak total. Kita nggak punya uang ke sana. Bapak mungkin terlalu lemah buat perjalanan. Tapi—iya. Mungkin bisa." Ia menatap ember berisi tanah mati dan cabai layu, lalu menatap Ki Lawu. "Ini berarti ikatan tempat bukan cuma dipulihkan, Pak. Bisa ditumbuhin ulang. Dari stek. Bapak nggak harus pulang ke masa lalu buat hidup. Bapak bisa nanam akar baru di sini."
Kalimat itu menggantung di udara teras yang panas, dan keduanya merasakan beratnya tanpa benar-benar membicarakannya. Karena di balik harapan teknis itu, ada pertanyaan lain yang belum berani mereka sentuh: kalau Ki Lawu bisa menumbuhkan akar baru di kota, kalau ia tak harus pulang untuk hidup—maka pulang berhenti jadi keharusan, dan mulai jadi pilihan. Dan pilihan, Nayla tahu dari hidupnya sendiri, selalu lebih berat daripada keharusan.
Malam itu mereka mulai menabung untuk ongkos ke Sumberwangi, dan Ki Lawu, untuk pertama kalinya sejak beringinnya tumbang, tidur dengan setitik harapan yang nyata di dadanya. Ia tak tahu bahwa di luar jendela, di balik kabel-kabel yang menyilang seperti jaring laba-laba gila, sepasang mata yang bukan mata sedang memandang ke arah kamar Nayla, sabar, lapar, dan tak terburu-buru.