Ki Lawu siuman dua hari kemudian, dan dunia terasa lebih tipis daripada sebelumnya—seperti ia menatapnya dari balik kain.
Banjir sudah surut, meninggalkan garis lumpur di dinding setinggi lutut dan bau apek yang menempel di segalanya. Nayla duduk di sampingnya, matanya berkantung, jelas tak banyak tidur. Ketika Ki Lawu membuka mata, ia hampir menangis lega, lalu menyembunyikannya dengan marah seperti biasa. "Bapak," katanya serak, "kalau Bapak ngelakuin itu lagi tanpa mikir, saya yang bunuh Bapak duluan sebelum umur Bapak habis."
Ki Lawu tersenyum lemah. Tapi senyumnya pudar saat ia mencoba mengingat sesuatu—nama sumber air yang ia jaga selama ratusan tahun—dan menemukan tempat itu kosong di kepalanya. Hilang. Tergusur bersama air. Ia menggenggam tangan Nayla, dan untuk pertama kalinya gadis itu melihat ketakutan murni di mata tua yang biasanya tenang itu.
"Aku mulai lupa," katanya pelan. "Jam pasirku mengalir lebih cepat dari yang kuduga. Malam banjir itu memakan banyak." Ia menatap langit-langit bernoda air berbentuk pulau. "Tapi bukan itu yang membuatku ngeri, Nak. Ada yang lain."
Ia menceritakan apa yang ia rasakan di ambang gelap malam itu—bukan hanya dirinya yang memudar, tapi sesuatu yang lain yang mendekat. Dan kini, dengan inderanya yang justru menajam saat tubuhnya melemah, ia bisa merasakannya jelas. Ada hawa dingin di kost ini yang bukan dari banjir. Ada bau yang ia kenal dari malam terakhir Sumberwangi—bau sesuatu yang ikut lolos lewat robekan tabir di belakangnya, yang dulu sempat ia kira berhasil ia tahan.
"Aku gagal menutup robekan itu sepenuhnya," katanya, suaranya gemetar. "Malam beringinku tumbang, ada yang ikut menyeberang bersamaku. Aku terlalu lemah untuk menahannya. Aku pikir ia tersesat entah di mana, hilang di kota sebesar ini. Tapi aku salah." Ia menatap Nayla, dan tatapan itu membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Makhluk itu bukan penjaga yang lupa seperti yang kutemui di lahan kosong. Ia jauh lebih tua. Lebih lapar. Ia ada sebelum ada desa, sebelum ada tanah yang perlu dijaga—sesuatu yang dulu kami para penjaga kurung di seberang tabir justru supaya tak menyentuh manusia. Dan ia menyeberang karena aku, lewat luka yang kubuka, ikut di punggungku seperti kutu di bulu kerbau."
"Terus sekarang dia di mana?" Nayla bertanya, suaranya hampir tak terdengar.
Ki Lawu menutup mata, mengendus pelan, dan ketika ia membukanya lagi, wajahnya kehilangan seluruh warna. "Di sini," bisiknya. "Sudah lama. Mengintai. Dan ia tidak mengintai aku." Ia mencengkeram tangan Nayla lebih erat. "Ia mengincarmu."
Nayla tertawa, tawa gugup yang langsung mati di tenggorokannya. "Saya? Kenapa saya? Saya bukan siapa-siapa, saya cuma—"
"Karena kau berbau seperti tanah yang direnggut," kata Ki Lawu, dan kata-kata itu menohok Nayla sampai ke ulu hati. "Lukamu, Nak. Kemarahanmu pada tanah yang diambil dari keluargamu—itu bukan sekadar perasaan. Itu jejak. Bagi makhluk lapar itu, manusia yang menyimpan luka kehilangan tanah berbau seperti pintu yang setengah terbuka. Mudah dimasuki. Dan kau—" suaranya pecah, "—kau bersamaku tiap hari, dekat dengan satu-satunya penjaga yang tersisa di kota ini, yang harusnya melindungimu, tapi terlalu lemah untuk berdiri sekalipun."
Di luar jendela, lampu gang berkedip sekali, lalu mati. Bukan karena listrik. Suhu di kamar itu turun mendadak, embun muncul di kaca, dan Nayla merasakannya juga sekarang—tanpa indera dhanyang, tanpa apa pun selain naluri hewani paling tua dalam tubuh manusia—bahwa ada sesuatu di balik dinding yang sedang memperhatikan. Sesuatu yang sabar. Sesuatu yang lapar. Sesuatu yang telah menunggu cukup lama.
Ki Lawu mencoba bangkit dan jatuh kembali ke kasur, tubuhnya tak menurut, terlalu banyak yang sudah ia korbankan malam banjir. Ia menatap kedua tangannya yang gemetar dan kosong, lalu menatap Nayla, lalu menatap ke arah dinding tempat dingin itu merayap masuk.
Dan di sanalah ia, di kamar kost seluas tiga langkah, terjepit di antara dua hal yang tak bisa ia genggam sekaligus. Di satu sisi: tanah Sumberwangi, segenggam ingatan yang bisa menumbuhkan akar baru, satu-satunya jalan agar ia berhenti memudar, satu-satunya celah untuk pulang atau setidaknya bertahan—celah yang mungkin tertutup selamanya kalau ia tunda. Di sisi lain: gadis di sampingnya, yang marahnya lahir dari tanah yang direnggut, yang kini diendus oleh sesuatu yang ia sendiri lepaskan ke dunia, dan yang tak akan punya siapa pun untuk melindunginya kalau ia pergi mengejar tanahnya.
Kejar jalan pulang, atau bertahan menjaga rumah yang baru saja ia temukan.
Ki Lawu, dhanyang yang nyasar ke kota, yang seumur hidupnya tak pernah harus memilih karena ia selalu adalah tempatnya, kini untuk pertama kalinya dipaksa memilih. Dan saat dingin itu merayap di bawah pintu kamar, dan Nayla mencengkeram lengannya dengan jari yang gemetar, dan jam pasir di dalam dadanya terus mengalir butir demi butir—ia membuka mulut, belum tahu kata apa yang akan keluar.
Di balik dinding, sesuatu yang sangat tua dan sangat lapar mulai menggaruk pelan, sabar, seolah punya semua waktu di dunia.