Minggu-minggu berikutnya, Sumberwangi bangkit pelan-pelan, seperti orang sakit yang belajar berjalan lagi. Beringin baru di pusat desa tumbuh—tidak secepat mukjizat, tapi dengan kecepatan tanaman sungguhan, yang justru terasa lebih ajaib karena nyata. Akarnya menancap melewati robekan yang dulu menganga, dan dari kedalaman tanah, sumber air yang dikira mati mulai menetes lagi. Mula-mula hanya rembesan di sela batu dekat tunggul lama. Lalu aliran tipis. Lalu, pada suatu pagi yang membuat Mbah Karto menangis di pinggir pancuran tua, air mengalir kembali ke pancuran yang sudah kering bertahun-tahun, jernih dan dingin dan berbau seperti hujan pertama.
Kabar tentang air yang hidup kembali menyebar ke keluarga-keluarga yang dulu pindah dari Sumberwangi. Beberapa kembali—mula-mula hanya untuk melihat, lalu tinggal. Seorang petani muda yang dulu merantau ke kota karena sawahnya retak kembali membawa istri dan anaknya, dan mulai mencangkul tanah yang dulu ditinggalkannya. Sebuah keluarga membuka kembali warung kecil di tepi jalan desa. Asap dapur yang dulu hanya mengepul dari segelintir rumah kini mengepul dari lebih banyak.
Ki Lawu, yang perlahan memulihkan sebagian kecil tenaganya di rumah Mbah Surti, sering duduk di bawah beringin baru di sore hari, menatap desa yang belajar hidup kembali. Dan ada sesuatu yang aneh dalam perasaannya—campuran haru dan, anehnya, semacam keterpisahan yang lembut. Karena desa ini bangkit, ya, tapi ia bangkit bukan karena Ki Lawu. Ia bangkit karena beringin baru. Karena warga yang kembali. Karena cinta yang ditanam ulang.
Pada suatu senja, Mbah Surti datang menemaninya duduk di bawah beringin muda, membawa dua gelas teh yang mengepul. Perempuan tua itu duduk di akar yang mulai menonjol dari tanah, dan untuk beberapa saat mereka diam, menatap anak-anak desa yang bermain di dekat pancuran yang kembali mengalir.
"Ki," kata Mbah Surti akhirnya, "warga udah mulai ngomong-ngomong. Mereka pengin sampeyan tinggal. Jadi dhanyang Sumberwangi lagi, kayak dulu. Mereka kangen punya penjaga." Ia menyodorkan teh. "Ini rumah sampeyan, Ki. Tanah ini yang nglahirin sampeyan. Pulang. Tinggal di sini. Kami yang ngerawat sampeyan sekarang, gantian."
Ki Lawu menerima teh itu, menghangatkan tangannya yang masih sering dingin. Tawaran itu adalah segalanya yang dulu ia inginkan—segalanya yang ia perjuangkan sejak malam pertama ia terlempar ke kota: pulang ke Sumberwangi, memulihkan ikatannya dengan tanah leluhur, kembali jadi dhanyang desa yang ia jaga ratusan tahun. Ini adalah jalan pulang yang ia kira sudah hilang selamanya. Dan kini ia ditawarkan dengan tangan terbuka.
Tapi ia menatap beringin baru di atasnya—pohon muda yang tunasnya kini sudah setinggi orang dewasa, daunnya rimbun, akarnya menancap dalam—dan ia merasakan sesuatu yang membuatnya terdiam. Karena beringin baru ini bukan hanya pohon. Tanah yang menumbuhkannya, cinta yang menanamnya, telah melahirkan sesuatu. Ia bisa merasakannya—samar, masih sangat muda, masih belajar—sebentuk kesadaran yang tumbuh di akar beringin baru, lahir dari cinta warga desa dan kota yang menanamnya bersama. Sebuah dhanyang baru. Penjaga muda Sumberwangi, yang lahir dari tanah baru, untuk menjaga desa yang lahir kembali.
"Mbah," kata Ki Lawu pelan, "sampeyan ngerasain itu? Di beringin baru ini?"
Mbah Surti mengernyit, menatap pohon muda itu, lalu matanya melebar—karena ia, yang seumur hidup menaruh kembang di tunggul, yang tak pernah berhenti percaya pada penjaga, merasakannya juga. Sesuatu yang muda dan hangat dan menjaga, tumbuh di akar pohon baru. "Ya Allah," bisiknya. "Ada... ada yang baru."
Ki Lawu tersenyum, dan dalam senyum itu ada haru dan pelepasan sekaligus. "Sumberwangi udah punya penjaganya sendiri, Mbah," katanya. "Penjaga yang lahir dari tanah baru, dari cinta yang baru ditanem. Dia bakal tumbuh bareng desa ini, ngenal warga yang baru, njaga sumber air yang baru ngalir. Dia milik di sini, sebagaimana aku dulu milik di sini." Ia meletakkan tangannya di akar beringin muda, dan ia merasakan kesadaran muda itu menyapanya—dengan hormat, dengan kerinduan kekerabatan, seperti anak menyapa leluhur. "Kalau aku tinggal, aku malah ngalangin dia tumbuh. Desa nggak butuh dua penjaga. Dan yang ini—yang baru ini—dia yang seharusnya di sini. Bukan aku yang udah lupa banyak, yang kuasanya udah hampir abis."
Mbah Surti menatapnya dengan mata basah. "Jadi sampeyan nggak pulang."
"Aku belum mutusin, Mbah," kata Ki Lawu jujur. "Tapi aku mulai ngerti satu hal. Pulang ke Sumberwangi bukan lagi pulang ke tempat yang butuh aku. Sumberwangi udah punya penjaganya. Yang nawarin aku tinggal itu cinta sampeyan, dan aku syukur banget. Tapi cinta itu beda sama kebutuhan." Ia menatap senja yang turun ke desa yang hidup kembali. "Dan mungkin, Mbah, rumah itu bukan tempat yang nglahirin kita. Rumah itu tempat yang butuh kita njaga."