Mereka tinggal di Sumberwangi beberapa hari, di rumah Mbah Surti yang menyambut mereka dengan dapur yang mengepul dan tikar pandan yang digelar di ruang depan. Ki Lawu terbaring lemah di tikar itu, dibungkus selimut tua yang berbau kayu dan asap, dan untuk pertama kalinya sejak malam groundbreaking, ia membiarkan dirinya benar-benar beristirahat—bukan karena ada ancaman yang menahannya bangun, tapi karena tidak ada lagi ancaman.
Nayla duduk di sebelahnya, buku ingatan terbuka di pangkuannya. Buku itu kini tebal, halamannya penuh dengan tulisan tangan yang berubah-ubah seiring waktu: catatan-catatan awal yang dibuat dengan skeptis dan sinis, lalu makin lama makin lembut, makin penuh, sampai ke catatan-catatan terakhir yang ditulis dengan tangan gemetar di tengah perang. Ia membacakannya untuk Ki Lawu, pelan, satu per satu, karena dhanyang tua itu sudah lupa begitu banyak dan buku ini adalah satu-satunya tempat di mana ia masih utuh.
"Namamu Lawu Sumarwa," baca Nayla, mengulang halaman pertama yang dibuat saat KTP-nya keluar. "Pak nggak mau senyum waktu difoto KTP karena katanya dhanyang nggak berpose."
Ki Lawu tersenyum samar. "Aku inget itu," katanya. "Dikit. Petugasnya kesel."
"Pak bisa baca niat orang lewat bau," Nayla melanjutkan. "Pak bisa numbuhin tanaman semalem, tapi tiap mukjizat ngabisin Pak." Ia berhenti, menatap dhanyang yang terbaring lemah itu. "Pak, sekarang... Pak masih bisa numbuhin?"
Ki Lawu menatap tangannya yang kurus, lalu mengulurkannya ke arah pot kecil di sudut ruangan—pot kemangi milik Mbah Surti yang setengah layu. Ia memejamkan mata, memanggil. Untuk waktu yang lama, tak terjadi apa-apa. Lalu, dengan susah payah, satu daun kemangi yang layu menegak sedikit. Hanya satu daun. Lalu Ki Lawu menurunkan tangannya, terengah seolah baru mengangkat batu.
"Satu daun," katanya, dan ada kepedihan dalam suaranya, tapi juga penerimaan. "Dulu aku bisa numbuhin sehektare semalem, Nduk. Sekarang aku ngos-ngosan cuma buat satu daun kemangi." Ia menghela napas. "Wibawa makan hampir semua kuasaku. Dan apa yang nggak dia makan, aku kasih ke pasak inti, ke beringin baru. Aku nanem hampir semua diriku ke tanah." Ia menatap Nayla. "Aku bukan dhanyang yang dulu lagi. Aku dhanyang kecil yang lelah, yang lupa banyak, yang nggak bisa bikin mukjizat besar."
Nayla menutup buku ingatan dan menggenggam tangan Ki Lawu yang masih hangat. "Tapi Pak masih di sini," katanya. "Pak nggak lenyap. Itu yang penting. Pelajaran Pak sendiri—yang ngasih banyak itu nggak ilang, cuma pindah. Pindah ke beringin baru di Sumberwangi. Pindah ke pasak-pasak di kota. Pindah ke aku, ke Bu Sari, ke buku ini." Ia mengangkat buku itu. "Pak mungkin lupa siapa Pak. Tapi kami inget. Dan selama kami inget, Pak nggak pernah bener-bener ilang."
Ki Lawu menatap gadis itu lama. Di luar, sore turun ke desa Sumberwangi, dan dari jendela ia bisa melihat tunas beringin baru di pusat desa, hijau pucat di samping tunggul lama, dijaga oleh Mbah Surti yang menaruh kembang segar di pangkalnya tiap pagi sekarang—kembang segar, bukan kering, karena ada yang hidup lagi untuk dirawat.
"Nduk," kata Ki Lawu pelan, dan dalam suaranya ada pertanyaan yang sudah ia tunda sejak malam pertama ia terlempar ke kota. "Sekarang semuanya udah selesai. Wibawa terkurung. Robekan ketutup, di kota dan di desa. Pagar berdiri. Roh-roh berumah." Ia menatap langit-langit, ke arah masa depan yang tiba-tiba terbuka lebar dan kosong. "Aku harus ke mana sekarang? Ke mana aku pulang?"
Nayla tidak menjawab. Karena ia tahu pertanyaan itu tidak mencari jawaban dari mulutnya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus Ki Lawu jawab sendiri, dengan hatinya, di antara dua rumah yang sama-sama nyata dan sama-sama punya harga: desa yang melahirkannya dan kini perlahan bangkit, atau kota yang menampungnya dan kini diam-diam membutuhkannya.
"Pak nggak harus jawab sekarang," kata Nayla akhirnya, melembut. "Istirahat dulu. Sembuh dulu. Sumberwangi mulai idup lagi. Liat aja dulu, jadi apa desa ini. Terus baru Pak putusin." Ia tersenyum. "Kali ini nggak ada yang maksa Pak, Pak. Nggak ada Wibawa, nggak ada penggusuran, nggak ada tenggat. Buat pertama kalinya sejak Pak nyasar ke kota, Pak bisa milih bener-bener karena Pak mau. Bukan karena harus."
Dan Ki Lawu, dhanyang kecil yang lelah, menutup matanya di tikar pandan rumah Mbah Surti, di desa yang melahirkannya, dan untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia tidur tanpa beban menjaga di pundaknya, tanpa luka yang merembes, tanpa ketiadaan yang mengintai di pojok. Ia tidur seperti orang yang akhirnya boleh beristirahat.