Beringin baru itu tumbuh di sebelah tunggul beringin lama, dan dengan tiap jengkal akar yang menancap, robekan asli Sumberwangi menyempit. Wibawa, kekosongan berbentuk kota yang lapar abadi, merasakan pijakannya terkikis dari bawah. Di kota, mulut pusat telah tertutup—ia tak punya tempat di sana. Dan kini di desa, lubang terakhirnya dijahit oleh akar yang ditanam dengan cinta. Tak ada lagi tanah sekarat untuk dimakan. Tak ada lagi kekosongan untuk dimasuki. Untuk pertama kalinya sejak ia menyeberang lewat robekan yang dibuat penggusuran, makhluk lapar itu kehabisan tempat.
"Kau tak mengerti," kata Wibawa, dan suaranya menipis, sosoknya mulai terurai di tepi robekan yang menyempit, wajah-wajah penjaga yang dulu ia telan satu per satu gugur dari tubuhnya, kembali ke tanah yang melahirkan mereka. "Aku tak bisa dibunuh. Aku bukan makhluk. Aku ketiadaan. Aku adalah tanah yang tak dicintai, keserakahan yang memakan tempat. Selama ada manusia yang menggusur tanpa sayang, selama ada keramat yang dirobek demi keserakahan, aku akan selalu ada."
"Aku tau," kata Ki Lawu, dan ia berdiri—dengan susah payah, ditopang Nayla, tapi berdiri—di sebelah beringin baru yang tunasnya bergetar di angin gerimis. "Aku nggak nyoba bunuh kau, Wibawa. Aku nggak bisa, dan nggak ada yang bisa. Keserakahan nggak bisa dibunuh. Kekosongan nggak bisa dihabisin." Ia menatap sosok yang terurai itu, dan dalam tatapannya tidak ada benci—hanya sesuatu yang menyerupai kasihan. "Tapi kau bisa dikurung. Sama kayak penjaga lama Nusantara dulu ngurung kau di seberang tabir, sebelum penggusuran ngelepas kau. Kau bisa dikembaliin ke tempatmu."
Di sekeliling tunggul, beringin baru menjalarkan akarnya, dan tiap akar adalah jeruji. Tanah hidup dari kota, ragi Sumberwangi, air yang merembes kembali dari sumber yang dikira mati, cinta dua tempat yang dijahit jadi satu—semuanya mengepung robekan dari sisi kehidupan, mendorong kekosongan kembali ke seberang. Wibawa mencakar-cakar di udara yang penuh, mencari satu titik kosong untuk bertahan, dan tidak menemukannya. Di Sumberwangi, di tanah yang dulu paling ia incar, ia justru menemukan tanah yang paling penuh cinta—karena tanah yang sekarat di tangan orang yang menyayanginya ternyata lebih hidup daripada tanah subur di tangan orang yang serakah.
"Ini belum berakhir," desis Wibawa, suaranya nyaris habis, sosoknya nyaris terurai sepenuhnya, ditarik mundur ke robekan yang menutup. "Selama kota tumbuh tanpa cinta, aku akan kembali. Selama manusia mengubur tanah hidup di bawah beton, akan selalu ada celah untukku. Kau hanya menunda, dhanyang. Kau hanya menjahit satu luka di tubuh yang penuh luka."
"Mungkin," kata Ki Lawu pelan, dan ia tidak membantah, karena ia tahu makhluk itu mengatakan kebenaran. "Mungkin kau bener. Mungkin selama ada keserakahan, kau bakal selalu ada di seberang, nunggu. Tapi selama itu juga," ia menatap Nayla, menatap Pak Karyo, menatap Mbah Surti dan Mbah Karto dan roh asam tua dan beringin baru yang bergetar, "selama itu juga bakal ada yang njaga. Bakal ada yang nyintai tanahnya. Bakal ada yang nanem ulang yang ditebang, ngejahit ulang yang dirobek. Kau dan aku, Wibawa—kita berdua nggak bakal pernah bener-bener menang. Kau nggak bisa makan semuanya, dan aku nggak bisa nyelametin semuanya. Tapi selama masih ada yang ngerawat, kau nggak bakal pernah kelaperan abis. Dan selama masih ada yang serakah, aku nggak bakal pernah nganggur." Ia tersenyum lelah. "Itu bukan kemenangan. Itu cuma njaga. Dan njaga itu nggak pernah selesai. Itu yang kau nggak pernah ngerti tentang penjaga."
Wibawa membuka mulut untuk menjawab, tapi tak ada lagi suara yang keluar. Sosoknya terurai sepenuhnya, ditarik kembali ke seberang tabir oleh akar beringin baru yang menutup robekan, dan untuk satu momen terakhir, di antara wajah-wajah yang gugur dari tubuhnya, Ki Lawu mengira ia melihat sebuah wajah yang nyaris manusiawi—lelah, kosong, lapar yang tak pernah dipahami siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri. Lalu wajah itu lenyap, dan robekan menutup dengan suara seperti tanah yang menghela napas lega, dan tunas beringin baru berdiri sendirian di sebelah tunggul lama, kecil dan hijau dan hidup di tanah Sumberwangi yang mulai mengingat cara hidup kembali.
Gerimis berhenti. Burung-burung, yang tadinya menolak terbang di atas desa, mulai berkicau lagi di kejauhan. Dan di antara warga tua yang menangis dan kota yang menopang, Ki Lawu jatuh berlutut di tanah leluhurnya, terkikis, nyaris habis, tapi hidup—dan untuk pertama kalinya sejak beringinnya ditebang di malam pertama, ia merasa lukanya, luka yang merobek tabir dan melemparnya ke kota, akhirnya mulai menutup.