"Kau pikir beberapa orang tua dan tanah sekarat bisa menghentikanku?" Suara Wibawa pecah jadi sesuatu yang lebih dingin, lebih putus asa, dan dalam keputusasaan itu ada bahaya. Robekan di belakangnya melebar, mengembuskan ketiadaan yang lebih pekat, dan sosok kekosongan itu mulai membesar, menyerap sisa keramat dari tunggul, dari tanah, dari udara desa itu sendiri. "Aku akan makan tanah ini sampai habis. Aku akan makan orang-orang tuamu. Aku akan makan kau, dhanyang, dan kali ini tak ada kota penuh hati untuk menahanku."
Ki Lawu tidak menjawab dengan kemarahan. Ia berlutut di sebelah tunggul beringin, di tanah retak yang dulu dialiri sumber air, dan mengeluarkan dari bungkusan kainnya stek tanah hidup yang ia bawa dari kota—stek yang lahir dari kompos dapur kost, dari cacing kebun Pak Karyo, dari pekarangan yang disiram Bu Sari tiap pagi, dari pasak-pasak yang ditegakkan warga Jakarta, dan di tengahnya, ragi tanah Sumberwangi asli yang ia ambil saat ziarah dulu. Tanah kota dan tanah desa, dijahit jadi satu di telapak tangannya.
"Aku nggak mau ngelawan kau pakai kekuatan, Wibawa," kata Ki Lawu, sambil menggali lubang kecil di sebelah tunggul lama dengan tangannya yang gemetar. "Aku nggak punya kekuatan lagi. Kau udah makan hampir semua kuasaku. Aku nggak bisa numbuhin sehektare semalam kayak dulu. Aku cuma dhanyang kecil yang lelah." Ia meletakkan stek itu ke dalam lubang, lembut, seperti membaringkan bayi. "Tapi aku masih bisa nanem satu benih. Dan kau nggak bisa makan benih yang ditanem pakai cinta."
Ia menoleh ke arah Nayla, ke arah Pak Karyo dan roh asam tua, ke arah Mbah Surti dan Mbah Karto dan para warga tua Sumberwangi. "Bantu aku," katanya, dan kata itu—kata yang seminggu lalu mustahil keluar dari mulut dhanyang yang ditakdirkan memberi tanpa menerima—keluar dengan tenang. "Kita tanem beringin baru. Bareng-bareng. Warga kota dan warga desa, sama-sama. Yang kota bawa raginya, yang desa bawa cintanya. Itu yang bakal nutup robekan ini. Bukan aku sendirian. Kita."
Nayla berjongkok di sebelahnya, mengumpulkan tanah dengan kedua tangannya, menimbun stek itu. Pak Karyo ikut. Mbah Surti, dengan tangan tua yang gemetar, menaburkan kembang kering yang ia bawa—kembang yang selama bertahun-tahun ia taruh di tunggul mati karena ia tak pernah bisa berhenti mencintai beringin yang hilang. Mbah Karto menuangkan air dari kendi, air terakhir dari pancuran yang nyaris kering, ke akar benih baru. Roh asam tua mengulurkan kabutnya, memberikan secuil dari dirinya yang dulu hampir lupa namanya. Satu per satu, tangan-tangan dari kota dan desa, dari yang hidup dan yang halus, menimbun benih beringin baru di sebelah tunggul beringin lama.
Dan Ki Lawu memanggil.
Ia memanggil seperti malam itu di pusat kota, tapi kali ini di tanah yang melahirkannya, dengan ingatan yang dipulihkan sesaat oleh tunggul leluhur. Ia menuangkan apa yang tersisa dari dirinya ke dalam benih—bukan semuanya, karena ada banyak akar lain yang menopang, karena ia tidak lagi sendirian—dan benih itu menjawab. Tanah Sumberwangi yang sekarat, yang Wibawa kira tak punya cinta tersisa, merespons cinta yang ditanamkan ke dalamnya. Sebuah tunas muncul. Kecil, rapuh, hijau pucat di tanah retak yang abu-abu. Tapi hidup.
"Tidak," bisik Wibawa, dan untuk pertama kalinya dalam suaranya ada sesuatu yang menyerupai ketakutan. "Tanah ini mati. Kau tak bisa—"
"Tanah nggak pernah bener-bener mati selama ada yang nyintainya," kata Ki Lawu, dan tunas itu tumbuh—tidak secepat mukjizat lamanya, tapi cukup, didorong oleh air Mbah Karto, oleh kembang Mbah Surti, oleh ragi kota dan cinta desa. Akar putih menjalar ke bawah, mencari air yang nyaris kering, dan menemukannya, dan dari kedalaman tanah Sumberwangi, dari sumber yang dikira mati, setetes air merembes. Lalu setetes lagi. Tunas beringin baru itu menancapkan akarnya melewati robekan tabir, menjahitnya seperti benang menjahit luka, dari sisi kehidupan.
Kekosongan di mulut robekan menjerit—jeritan sunyi yang membuat anjing-anjing desa melolong dan gerimis tiba-tiba turun dari langit yang tadinya cerah. Wibawa mengulurkan tangan kekosongannya ke arah tunas, hendak mencabutnya, menelannya sebelum akarnya mengikat. Tapi tangan itu tak bisa menyentuhnya. Karena benih beringin baru itu ditanam oleh cinta dari dua tempat, dijaga oleh tangan yang hidup dan yang halus, berakar pada keberanian yang Wibawa tak pernah bisa pahami—dan kekosongan tak bisa memakan apa yang penuh.