Jalan ke Sumberwangi terasa berbeda dari ziarah mereka yang dulu. Dulu mereka datang dengan harapan pahit, mencari tanah yang masih mengenal Ki Lawu, mengambil stek dan pulang membawa duka yang sudah diterima. Kini mereka datang dengan tergesa, sebuah mobil sewaan yang Nayla setir sendiri menembus pagi yang naik jadi siang, melewati jalan tol yang dibangun di atas tanah-tanah yang dulu rumah orang, melewati kaki gunung yang hijaunya makin terkikis oleh proyek-proyek mangkrak.
Semakin dekat ke desa, Ki Lawu semakin gelisah. Bukan karena ingatannya—ingatannya tentang desa ini, anehnya, salah satu dari sedikit yang masih utuh, seolah tanah yang melahirkannya menolak untuk dilupakan—tapi karena baunya. Bau dingin itu menguat di udara seiring mobil mendaki. Bau ketiadaan. Wibawa sudah tiba lebih dulu, dan ia sudah mulai makan.
Mereka tiba di Sumberwangi menjelang sore, dan desa itu terlihat lebih buruk dari terakhir kali. Sawah yang dulu menguning kini retak-retak. Sungai kecil yang membelah desa tinggal aliran tipis yang nyaris kering. Beberapa rumah tua masih berdiri, asapnya mengepul dari dapur, tanda bahwa segelintir keluarga masih bertahan. Tapi udara di atas desa terasa salah—lebih dingin dari seharusnya, lebih sunyi, seolah burung-burung memutuskan tidak terbang di sini.
Dan di pusat desa, di tempat yang dulu berdiri beringin keramat setinggi rumah tiga lantai, tunggul itu masih ada. Tunggul beringin yang ditebang di malam pertama, kayu raksasa yang dipotong rata dengan tanah, lingkaran-lingkaran tahun di permukaannya seperti peta dari abad-abad yang Ki Lawu jaga. Di sekeliling tunggul itulah dingin paling pekat. Di sanalah, di celah tanah dekat akar yang membusuk, robekan tabir asli menganga—lebih lebar dari saat ziarah dulu, mengembuskan ketiadaan, dan di mulutnya berdiri sebuah sosok.
Wibawa.
Tapi bukan lagi Wibawa yang berwibawa dalam jas mahal di seremoni groundbreaking. Topeng manusia itu sudah retak, runtuh sebagian, memperlihatkan apa yang ada di baliknya: kekosongan berbentuk manusia, tambal-sulam dari wajah-wajah penjaga yang ia telan selama berabad, sosok yang tampak seperti kota dan desa dan hutan yang dirobek lalu dijahit jadi satu siluet yang lapar. Di tanah keramat Sumberwangi yang sekarat, ia memang menumbuhkan dirinya kembali—lebih cepat dari kekhawatiran Ki Lawu, menyerap sisa keramat dari tanah yang dulu paling dicintai.
"Kau membawa mereka," kata Wibawa, dan suaranya seperti angin yang lewat di gua kosong. "Kau membawa orang-orangmu ke tempat aku paling kuat. Tanah ini sekarat, dhanyang. Tanah ini tak punya cinta tersisa untuk menolakku. Di kotamu kau menang karena di sana ada banyak hati. Di sini tak ada apa-apa selain tanah mati dan beberapa orang tua yang menunggu giliran mati juga."
Ki Lawu turun dari mobil, ditopang Nayla, dan berjalan pelan menuju tunggul. Tiap langkah menguras tenaganya, tapi ia berjalan tegak, atau setegak yang bisa dilakukan tubuh yang nyaris habis. Ia berdiri di hadapan tunggul beringin yang dulu adalah dirinya, di tanah yang dulu adalah rumahnya, di depan kekosongan yang merampas semua itu.
"Kau salah, Wibawa," kata Ki Lawu. Suaranya pelan tapi tak gemetar. "Tanah ini nggak mati. Dia sekarat. Itu beda. Yang sekarat masih bisa diobatin. Yang sekarat masih inget pernah hidup." Ia meletakkan telapak tangannya di tunggul, di lingkaran-lingkaran tahun yang dingin, dan menutup matanya. "Dan tanah ini masih inget aku."
Untuk sesaat tak terjadi apa-apa. Lalu, dari bawah telapak tangan Ki Lawu, dari dalam tunggul yang mati, sesuatu menjawab. Bukan tunas, bukan daun—tanah Sumberwangi terlalu sekarat untuk itu—tapi pengakuan. Sebuah denyut, tipis dan jauh seperti detak jantung yang nyaris berhenti, mengalir dari tunggul ke tangan Ki Lawu, dan untuk satu momen yang membuat napas Nayla tertahan, tanah leluhur mengingat dhanyangnya sepenuhnya. Ingatan yang Ki Lawu hilang di kota mengalir balik sesaat—wajah Bu Sari, pasar lama, tiga bulan yang ia jalani—tanah Sumberwangi mengembalikannya sebagai pemberian terakhir, sebagai cara mengatakan: aku ingat kau, anakku, walau kau lupa dirimu.
Dan dari rumah-rumah tua di sekeliling pusat desa, pintu-pintu mulai terbuka. Beberapa orang tua keluar—Mbah Karto yang dulu menjaga pancuran, Mbah Surti yang masih menaruh kembang di tunggul tiap Jumat meski beringinnya sudah lama tiada, beberapa keluarga lain yang bertahan. Mereka tidak melihat Wibawa; mata manusia biasa tak bisa menangkap kekosongan. Tapi mereka melihat Ki Lawu—atau merasakannya—dan mereka mengenalinya, bukan dengan mata, tapi dengan sesuatu yang lebih tua, dengan kerinduan yang turun-temurun pada penjaga yang hilang.
"Ki Lawu," bisik Mbah Surti, perempuan tua yang kembangnya sudah kering di tangan, air mata mengalir di keriput pipinya. "Sampeyan... balik."
Ki Lawu menoleh ke arah para warga tua desanya, dan untuk sesaat dhanyang yang lelah itu, yang nyaris habis, yang sudah lupa begitu banyak, merasakan sesuatu yang ia kira sudah hilang selamanya: ia merasakan dirinya dikenal di tanah yang melahirkannya. Dan Wibawa, di mulut robekan, menggeram—karena ia datang ke Sumberwangi mengira akan menemukan tanah mati tanpa cinta, dan alih-alih menemukan tanah sekarat yang masih, sampai napas terakhir, mencintai penjaganya.