Pagi datang ke kota seperti pagi yang tak tahu apa-apa. Lalu lintas kembali padat di jalan-jalan yang semalam membeku, klakson dan deru motor mengisi udara yang semalam dipenuhi lolongan anjing dan tangis bayi yang tak ada. Orang-orang berangkat kerja melewati lokasi groundbreaking superblok Cakra Bumi tanpa tahu bahwa di tanah itu, beberapa jam lalu, mulut menuju ketiadaan nyaris menelan mereka semua. Itulah cara kota bekerja: ia melupakan dengan cepat, ia menelan kengeriannya sendiri ke dalam rutinitas, dan hanya segelintir orang yang merawat tanah yang ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Di kost Bu Sari, di kamar sempit yang sama tempat semua ini bermula tiga bulan lalu, Ki Lawu duduk bersandar di dinding, dibungkus selimut, sementara Nayla menyodorkan teh hangat ke tangannya yang masih gemetar. Ia tidak ingat banyak. Ia tidak ingat nama Bu Sari—lagi. Ia tidak ingat pasar lama, tidak ingat Pak Karyo, tidak ingat sebagian besar dari tiga bulan yang ia jalani di kota ini. Tapi ia ingat Nayla—samar, seperti ingat wajah dalam mimpi—dan ia ingat satu hal yang lebih tua dari semua ingatan yang hilang: ia ingat baunya. Bau dingin yang melarikan diri ke selatan.
"Dia belum kalah, Nduk," kata Ki Lawu, dan meski ingatannya berlubang, kepastian dalam suaranya utuh. "Aku nyium dia semalem. Wibawa. Yang lapar. Mulut di kota ketutup, tapi dia kabur sebelum ketutup penuh. Dia lari ke tempat dia bisa makan lagi."
Nayla duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia kelelahan sampai ke tulang, matanya bengkak, tapi otaknya kembali bekerja, menyusun peta seperti biasa. "Ke mana, Pak? Tanah hidup di kota udah kita pasangin pasak semua. Roh-roh udah berumah. Nggak ada kekosongan tersisa di Jakarta buat dia makan."
"Bukan di Jakarta." Ki Lawu menatap ke arah jendela, ke arah selatan, ke arah gunung yang tak terlihat dari gang sempit ini tapi selalu ia rasakan di tulangnya. "Sumberwangi."
Nama itu menggantung di udara kamar seperti sesuatu yang lama tak diucapkan. Sumberwangi—desa yang melahirkan Ki Lawu, beringin yang ditebang di malam pertama, tanah keramat yang diuruk dan merobek tabir hingga melemparnya ke kota ini. Robekan asli. Luka pertama. Dan Ki Lawu, di antara semua ingatan yang hilang, masih menyimpan satu kebenaran tentangnya: robekan itu tak pernah benar-benar tertutup.
"Pas kita ke Sumberwangi waktu itu," kata Nayla pelan, mengingat ziarah pahit-manis mereka ke desa yang setengah mati, "Pak nemu robekan di deket tunggul beringin. Pak bilang itu jalan belakang dia. Kita... kita nggak nutup itu, Pak. Kita cuma ambil stek tanah terus balik ke kota."
"Karena waktu itu prioritasnya kota," kata Ki Lawu. "Mulut pusat lebih besar, lebih bahaya. Kalau kota jebol, semua jebol. Jadi kita tutup kota dulu." Ia menghela napas, dan dalam embusan itu ada kelelahan ratusan tahun. "Tapi sekarang Wibawa nggak punya pijakan di kota. Satu-satunya tempat dia bisa numbuhin diri lagi cuma tanah keramat yang masih nyisa. Dan tanah keramat yang masih nyisa, yang belum diuruk sampe mati, cuma ada di satu tempat di seluruh pulau ini." Matanya menatap Nayla. "Di bawah tunggul beringin yang dulu aku jaga."
Bu Sari, yang berdiri di ambang pintu mendengarkan, melipat tangannya. Ia tidak mengerti separuh dari yang mereka bicarakan, tapi ia mengerti satu hal yang penting. "Jadi belum selesai," katanya datar. "Semaleman kita nyaris mati, kamu lupa namaku—lagi—dan ini belum selesai."
"Belum, Bu," kata Nayla, dan ia bangkit, kelelahan terlupakan, tergantikan oleh tekad yang sudah ia kenal baik. "Tapi kali ini beda. Dia lemah. Dia kabur. Dia nggak punya kerajaan korporat lagi—Cakra Bumi runtuh secara hukum, dalangnya ketauan, Renata udah nggak ada. Dia cuma sisa kekosongan yang lari ke lubang terakhirnya. Kalau kita tutup lubang itu, dia nggak punya tempat lagi."
Ki Lawu mengangguk, tapi wajahnya tetap berat. "Nutup robekan asli nggak segampang nutup mulut pusat, Nduk. Tanah Sumberwangi udah sekarat. Sumber airnya mati. Beringinnya tinggal tunggul. Tanah yang sekarat itu gampang dimakan kekosongan—dia bakal numbuh cepet di sana, lebih cepet dari di kota. Kita harus ke sana sebelum dia cukup kuat."
Pak Karyo muncul di belakang Bu Sari, masih lelah dari semalam tapi sudah berdiri tegak, sapu lidinya entah di mana. Ia mendengar cukup banyak. "Saya ikut, Ki," katanya. "Roh-roh kolong juga mau ada yang ikut. Yang asam tua itu bilang dia mau lihat tanah keramat sebelum mati—katanya udah ratusan tahun dia nggak nyium tanah yang bener-bener keramat."
Ki Lawu menatap mereka semua—gadis arsitek yang menolak membiarkannya mati, ibu kost yang tegas dan penyayang, tukang sampah yang melihat yang halus, roh-roh terlempar yang menemukan rumah—dan untuk sesaat ia hampir tak percaya bahwa makhluk seperti dirinya, yang ditakdirkan menjaga sendirian, kini dikelilingi oleh begitu banyak yang bersedia ikut ke ujung. "Perjalanan ke Sumberwangi jauh," katanya. "Dan yang nunggu di sana bukan culture-clash lucu kayak ojol atau kelurahan. Yang nunggu di sana ketiadaan yang lapar, di tanah yang sekarat, jauh dari semua pasak yang kita bangun. Kalau kalian ikut, kalian ikut ke tempat paling bahaya."
"Pak," kata Nayla, dan ia tersenyum lelah, "Pak ngajarin kita semaleman kalau penjaga itu bukan satu makhluk yang berdiri sendirian. Pak nggak bisa nyuruh kita pulang sekarang cuma karena bahaya. Itu nyalahin pelajaran Pak sendiri."
Ki Lawu memandang gadis itu lama, lalu tertawa—tawa kecil, serak, tapi tawa pertamanya sejak malam yang panjang itu. "Kamu selalu mukul aku pakai kata-kataku sendiri, Nduk."
"Karena kata-kata Pak bener," jawab Nayla. "Cuma kadang Pak lupa makainya buat diri sendiri."
Maka mereka mulai berkemas—stek tanah hidup dari kota, sisa ragi Sumberwangi, buku ingatan Nayla yang kini lebih tebal dan lebih penting dari sebelumnya, karena ia menyimpan siapa Ki Lawu di saat Ki Lawu sendiri tak lagi mampu menyimpannya. Lingkaran cerita yang dimulai di Sumberwangi akan kembali ke Sumberwangi. Ke tunggul beringin tempat semua bermula. Ke akar luka yang pertama.