Mereka membentuk lingkaran di sekeliling celah, dan Nayla, dengan otak arsiteknya yang tak pernah benar-benar berhenti menghitung, menempatkan tiap orang seperti menempatkan tumpuan beban di atas denah: Bu Sari di sisi utara, ke arah pekarangan kostnya yang jauh; Pak Karyo di sisi gang lama; Pak Darto dan Mbak Yuni dan nenek gorengan ke arah pasar lama yang malam ini mereka selamatkan dengan tangan kosong; roh asam tua dan roh-roh kolong di titik-titik di antaranya. Dan di pusat, di tepi celah itu sendiri, Ki Lawu berlutut dengan bungkusan stek Sumberwangi di kedua tangannya.
"Inget," kata Nayla, suaranya menggema di lahan yang membeku, ditujukan ke semua dan ke setiap orang sekaligus. "Kita nggak ngelawan dia pakai benci. Dia kekosongan. Kalau kita isi pakai marah, pakai takut, itu malah jadi makanannya. Kita isi pakai yang dia nggak bisa makan." Ia menelan ludah. "Cintai tanahmu. Inget kenapa kamu njaga. Inget rumahmu. Bareng-bareng. Sekarang."
Ki Lawu menancapkan stek Sumberwangi ke tanah di tepi celah, tepat di sebelah pasak hitam Wibawa yang masih mengganjal. Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa—hanya dingin yang merembes dari seberang, hanya ketiadaan yang menggeram pelan seperti perut lapar yang menolak ditutup. Lalu Ki Lawu menutup matanya, meletakkan kedua telapak tangannya di tanah, dan memanggil.
Ia memanggil bukan dengan suara. Ia memanggil dengan seluruh sisa dirinya: dengan ingatan tentang beringin Sumberwangi sebelum ditebang, tentang sumber air yang dulu ia jaga, tentang warga desa yang menaruh sesaji bukan karena takut tapi karena sayang. Ia memanggil dengan tiga bulan di kost Bu Sari, dengan kekonyolan ojek online dan OTP, dengan Nayla yang awalnya mengiranya gila lalu jadi anak yang ia jaga. Ia menuangkan semua itu ke dalam stek, ke dalam tanah, ke dalam celah. Dan saat ia merasa dirinya mulai menipis, mulai mengalir keluar dari tubuhnya seperti air dari kendi yang retak, ia tidak sendirian dalam aliran itu.
Karena di sisi utara, Bu Sari menutup matanya dan memikirkan pekarangan kostnya—pot-pot yang ia siram tiap pagi sambil menggerutu, tanah kecil tempat ia menanam cabai dan kemangi, rumah yang ia pertahankan setelah suaminya pergi. Cintanya pada tanah sekecil itu mengalir ke jejaring pasak, dan Ki Lawu merasakannya datang, hangat, menopangnya dari satu sisi.
Di sisi gang, Pak Karyo memikirkan tiap subuh selama dua puluh tahun, tiap sapuan yang merawat tanah tanpa ia sadar. Itu mengalir juga.
Di pasar lama, Pak Darto dan Mbak Yuni dan nenek gorengan memikirkan lapak-lapak yang malam ini hampir hilang, memikirkan keberanian yang mereka temukan tanpa dhanyang, dan keberanian itu—yang Wibawa tak pernah bisa pahami—mengalir paling deras, paling tak bisa ditelan.
Roh-roh menambahkan akar mereka. Roh asam tua, yang dulu hampir lupa namanya di lahan kosong, kini mengingat dirinya cukup untuk memberi.
Dan perlahan, Ki Lawu merasakan bebannya terbagi. Sisa umurnya tidak tuntas keluar sekaligus seperti yang ia takutkan; ia mengalir, ya, ia memboroskan banyak, tapi tiap kali ia merasa dirinya nyaris habis, ada akar lain yang menopang, ada hati lain yang mengisi celah yang ia tinggalkan. Tanah di tepi celah mulai menapas. Stek Sumberwangi mulai berakar, akar putih yang menjalar lebih cepat dari yang mungkin, menjalar ke arah pasak hitam Wibawa, melilitnya, mendorongnya.
Celah mulai menutup.
Dari seberang, dari dalam celah yang menyempit, terdengar suara—bukan jeritan, bukan geraman, tapi sesuatu yang lebih mengerikan karena begitu sunyi: suara kekosongan yang kelaparan, yang mencari-cari satu titik kosong untuk dimasuki dan tidak menemukannya. Pasak hitam Wibawa bergetar, lalu terangkat sejengkal, lalu tercabut dari tanah dengan suara seperti akar yang putus dari batu, dan terlempar kembali ke seberang tabir tempat ia berasal. Mulut tabir di jantung kota itu, mulut yang dibuka groundbreaking dengan langit yang memar dan anjing yang melolong, menjahit dirinya sendiri—dijahit oleh akar Sumberwangi dan cinta-rawat seluruh kota, dari dalam.
Ki Lawu roboh.
Nayla menangkapnya sebelum kepalanya membentur tanah. Tubuh dhanyang tua itu ringan, terlalu ringan, seperti tubuh yang sebagian dirinya telah pindah ke tempat lain. Napasnya dangkal. Darah dari hidungnya sudah berhenti karena tak ada lagi yang tersisa untuk mengalir. Tapi dadanya naik-turun. Ia bernapas. Ia tidak lenyap.
"Pak," bisik Nayla, mengguncangnya pelan. "Pak, bangun. Celahnya ketutup. Kita menang, Pak. Pak nggak ilang. Pak masih di sini."
Ki Lawu membuka matanya. Dan untuk sesaat yang membekukan dada Nayla, ia menatap gadis itu tanpa kenal—mata yang kosong, bingung, seperti mata orang yang bangun di tempat asing tanpa tahu siapa dirinya. Bibirnya bergerak. "Siapa... kamu?"
Nayla menahan isaknya, mengingat janji yang Ki Lawu minta beberapa saat sebelum mereka menanam. Jangan sedih kalau aku lupa. Berarti aku ngasih banyak. Ia memaksa senyum lewat air matanya. "Aku Nayla, Pak. Aku yang nyatet semua tentang Pak di buku. Pak lupa, nggak apa-apa. Aku inget buat Pak. Kami semua inget buat Pak."
Di sekeliling mereka, orang-orang dan roh-roh mendekat, lelah, terkuras, tapi hidup. Langit di atas pusat kota, yang sejak groundbreaking memar seperti luka lebam, perlahan mencair kembali jadi langit malam Jakarta yang biasa—berawan, berpolusi, bertabur sedikit lampu yang menang melawan cahaya kota. Mulut tabir telah tertutup. Ancaman terbesar malam itu telah lewat.
Tapi saat Ki Lawu, ditopang Nayla dan Bu Sari, perlahan berusaha duduk, ia memejamkan mata dan mengendus udara dengan insting yang tak pernah hilang sepenuhnya bahkan ketika ingatannya hilang. Dan keningnya berkerut. Ada bau yang tersisa. Tipis, jauh, mengarah ke selatan, ke arah gunung. Bau dingin yang familiar, bau ketiadaan yang melarikan diri. Wibawa tidak hancur. Mulut pusat memang tertutup, tapi makhluk lapar itu masih punya satu jalan belakang—satu robekan yang sejak awal tak pernah benar-benar dijahit. Robekan asli di Sumberwangi.