Nayla menatap celah yang menganga di pusat kota itu—mulut tabir yang belum tertutup penuh, pasak hitam Wibawa masih mengganjal di jantungnya—dan untuk sesaat ia merasa seluruh malam ini menggumpal jadi satu titik di dadanya, satu pertanyaan yang harus ia jawab sebelum Ki Lawu menjawabnya dengan tubuhnya sendiri. Di sekelilingnya, kota yang membeku perlahan ramai oleh kaki-kaki yang datang: Bu Sari dengan kerudung melintang dan napas terengah, Pak Karyo masih memegang sapu lidinya seperti tongkat, Pak Darto dan Mbak Yuni dan nenek penjual gorengan yang tangannya masih berbau minyak, roh asam tua yang berjalan seperti asap yang enggan bubar. Mereka datang tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Mereka datang karena malam ini kota sudah belajar bahwa tidak ada yang berdiri di pusat sendirian.
Dan dari situlah jawaban itu lahir di kepala Nayla—bukan sebagai ilham yang turun dari langit, tapi sebagai sesuatu yang ia susun, sepotong demi sepotong, seperti ia menyusun denah bangunan: dari fondasi yang sudah ada, dari beban yang sudah dihitung, dari titik-titik tumpu yang sudah berdiri.
"Pak," katanya, dan suaranya tidak lagi memohon. Suaranya tegas, suara seorang arsitek yang sudah melihat strukturnya berdiri di kertas. "Pak bilang celahnya harus diisi pasak inti. Pasak yang hidup, yang berakar dari sisi kita, yang narik tabir ketutup dari dalam. Bener kan?"
Ki Lawu mengangguk lemah, darah yang membeku di bibirnya retak ketika ia bicara. "Bener, Nduk. Dan cuma aku yang—"
"Siapa bilang pasak inti cuma boleh satu akar?" Nayla berjongkok di hadapannya, menggenggam tangannya yang gemetar, dan menatap matanya dengan keyakinan yang menyala. "Pasar lama, Pak. Pasar lama ditegakin pakai banyak hati. Pasak pinggir di pekarangan kost—itu ditopang Bu Sari, ditopang aku, ditopang pot-pot yang disiram tiap pagi. Nggak ada satu pun pasak di kota ini yang berdiri sendirian malam ini. Kenapa pasak yang paling penting, pasak inti, harus Pak tanggung sendirian sampai Pak lenyap?"
Ki Lawu membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Sesuatu di balik matanya yang lelah bergerak—keraguan lama yang berusia ratusan tahun, insting korban-diri yang sudah jadi tulang dalam dirinya, bertabrakan dengan pelajaran yang baru beberapa jam lalu Nayla paksakan ke dadanya di pasar lama.
"Stek tanah Sumberwangi yang Pak bawa," Nayla melanjutkan, mengeluarkan bungkusan kain dari tasnya, ragi tanah yang masih lembap dan berbau hujan pertama, "ini ragi terkuat kita. Tapi ragi nggak butuh satu tubuh buat tumbuh. Ragi butuh tanah. Dan di sekeliling Pak sekarang ada tanah hidup yang udah diakuin kota—pasak pinggir, roh-roh yang berumah, warga yang berani. Mereka semua bisa narik tabir ketutup bareng Pak. Bukan Pak yang nanem diri sendirian. Kita semua yang nanem, sama-sama, dan Pak jadi salah satu akarnya. Bukan satu-satunya."
Di belakang mereka, Bu Sari maju selangkah. Ia tidak sepenuhnya mengerti soal tabir dan pasak dan ragi, tapi ia mengerti satu hal yang lebih tua dari semua itu: ia mengerti apa artinya ketika seseorang yang ia sayangi hendak mengorbankan diri di depan matanya. "Lawu," katanya, dan ia menyebut nama itu dengan getir karena ia sendiri pernah ada di malam ketika Ki Lawu lupa namanya. "Kamu nampung aku tiga bulan ini di kamar kost yang sempit itu, makan dari dapur yang sama, ngajarin warga gang nyiram pot kayak orang gila. Kamu kira aku bakal diem aja ngeliat kamu jadi tanah sendirian? Aku ikut. Pekarangan kostku itu pasak. Aku yang siram. Aku ikut narik."
Pak Karyo mengangguk, menancapkan sapu lidinya ke aspal yang membeku seperti menanam tongkat penjaga. "Saya dari kecil ngeliat yang halus, Ki. Saya ngerti kota ini lebih dari yang ngaku-ngaku ngerti. Tiap subuh saya nyapu gang ini, dan tiap sapuan itu ngerawat tanah tanpa saya sadar. Itu juga akar. Pakai itu, Ki. Pakai kami."
Ki Lawu menatap mereka satu per satu—wajah-wajah yang tiga bulan lalu mengiranya om-om gila, yang nyaris memanggil satpam, yang kini berdiri di pusat kota yang membeku menawarkan akar mereka sendiri agar ia tidak lenyap. Dan untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun keberadaannya, dhanyang tua itu menghadapi sesuatu yang lebih sulit daripada mati: ia menghadapi tawaran untuk hidup.
"Aku nggak pernah," katanya, dan suaranya pecah, "nggak pernah dibantu, Nduk. Dhanyang itu yang ngasih. Yang njaga. Yang ngorbanin. Kami nggak dibantu. Kami yang nolong." Ia menggeleng, air mata mengalir di pipinya yang cekung. "Aku nggak tau caranya nerima."
Nayla mengeratkan genggamannya. "Maaf, Pak, tapi itu yang harus Pak pelajarin malam ini. Pak ngajarin pasar lama buat berani. Pak ngajarin Yuni buat ngaku. Pak ngajarin seluruh kota buat nyintai tanahnya. Sekarang giliran kota ngajarin Pak satu hal yang Pak nggak pernah tau." Suaranya melembut, hampir berbisik. "Cara nerima cinta tanpa harus bayar pakai nyawa. Pak boleh dijaga juga, Pak. Penjaga juga boleh dijaga."
Di pusat kota, di tepi celah yang masih mengembuskan dingin dari seberang, Ki Lawu menutup matanya. Dan ketika ia membukanya kembali, sesuatu telah berubah di sana—bukan kepasrahan seorang yang hendak mati, tapi kelelahan seorang yang akhirnya membiarkan dirinya bersandar. Ia melihat ke arah celah, lalu ke arah bungkusan stek Sumberwangi di tangan Nayla, lalu ke arah lingkaran orang dan roh yang mengelilinginya, dan ia mengangguk, satu kali, pelan.
"Baik," katanya. "Kita tanem bareng. Kita jadi pasak inti bareng-bareng." Ia menarik napas yang gemetar. "Tapi kalian harus janji satu hal sama aku."
"Apa, Pak?"
"Kalau aku lupa," Ki Lawu menatap Nayla dengan mata yang basah dan tenang, "kalau besok aku bangun dan nggak inget nama kalian, nggak inget malam ini, nggak inget aku siapa—jangan sedih. Berarti aku ngasih banyak. Dan yang ngasih banyak itu nggak ilang. Cuma pindah ke tanah, ke orang, ke yang dia jaga." Ia tersenyum, dan kali ini senyum itu tidak menghancurkan hati Nayla, melainkan menambalnya. "Buku ingetan yang kamu bikin itu, Nduk. Itu yang bakal nyimpen aku. Kalian yang bakal nyimpen aku. Aku nggak bakal sendirian, bahkan kalau aku lupa segalanya."
Nayla mengangguk, tak mampu bicara, dan di sekeliling mereka, kota yang membeku perlahan menghangat oleh kehadiran orang-orang yang menolak membiarkan penjaganya berdiri sendirian. Celah masih menganga. Pasak Wibawa masih menancap. Tapi untuk pertama kalinya sejak groundbreaking, Ki Lawu tidak menghadapinya sebagai satu makhluk yang harus habis demi semua—melainkan sebagai satu akar di antara banyak akar, satu hati di antara banyak hati, satu napas dalam kota yang akhirnya belajar bernapas bersama. Jalan ketiga telah diucapkan. Dan kini mereka harus menanamnya.