Serangan kekosongan itu menghantam Ki Lawu seperti gelombang dingin yang ingin menelan, dan untuk sesaat Nayla mengira ia melihat dhanyang tua itu lenyap. Tapi tepat sebelum dingin itu menyentuhnya, pagar kota—seluruh jejaring pasak yang menyala serentak—mengalir ke depan melewati Ki Lawu, melindunginya, menahan terjangan itu seperti ribuan tangan yang menengadah serempak. Makhluk lapar tertahan sejengkal dari jantung yang ingin ia makan, mencakar-cakar di udara yang penuh, tidak menemukan satu pun kekosongan untuk dimasukinya.
Ia mundur. Menyusut. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menyeberang ke kota ini, ia kalah.
Tapi mulut tabir di pusat belum tertutup penuh. Itulah yang Ki Lawu rasakan saat gelombang mulai surut, saat ia hampir membiarkan dirinya jatuh karena lelah yang melampaui lelah. Celah itu masih menganga—lebih kecil, terdesak, tapi belum terjahit di titik terdalamnya. Pasak yang Wibawa tancapkan masih ada di sana, hitam dan dalam, mengganjal jahitan agar tidak menutup sempurna. Dan selama pasak itu ada, celah bisa membuka kembali. Selama mulut itu tidak tertutup penuh, kemenangan malam ini hanyalah penundaan.
Ki Lawu memahami apa artinya. Ia memahaminya dengan ketenangan seorang yang sudah lama tahu bahwa momen ini akan datang.
"Nayla," katanya, dan suaranya begitu pelan hingga gadis itu harus mendekat untuk mendengarnya. Darah dari hidungnya sudah membeku di bibirnya. "Celahnya belum ketutup. Pasak Wibawa masih nancep di tengah. Pagar bisa nahan dia, bisa nyusutin dia, tapi nggak bisa nyabut pasak itu. Cuma ada satu cara nyabut pasak yang nancep ke tabir."
"Jangan," kata Nayla. Ia sudah tahu. Ia tahu sebelum Ki Lawu selesai. "Pak, jangan ngomong yang aku pikir Pak mau ngomong."
"Pasak itu harus diganti pasak lain," Ki Lawu melanjutkan, lembut, tak terhentikan. "Pasak yang hidup. Yang berakar ke tabir dari sisi kita, narik tabir ketutup dari dalam. Seseorang harus jadi pasak inti—nanem dirinya ke jantung kota, ke celah itu, gantiin pasak Wibawa pakai dirinya sendiri." Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Nayla. "Stek tanah Sumberwangi yang aku bawa pulang—itu ragi terkuat yang kita punya. Kalau aku tanem stek itu bareng diriku, bareng sisa umur yang masih ada, ke celah itu... mulut tabir ketutup. Permanen. Pasak Wibawa kecabut. Kota selamat."
Nayla menggeleng, air mata sudah mengalir deras. "Dan Pak? Apa yang kejadian sama Pak kalau Pak nanem diri Pak ke sana?"
Ki Lawu tidak menjawab dengan kebohongan. Ia tidak pernah bisa. "Aku bakal jadi tanah, Nduk," katanya pelan. "Sisa umurku, sisa kuasaku, sisa ingatanku—semua masuk ke tanah buat nahan tabir. Aku bakal lupa segalanya. Lupa kamu. Lupa Bu Sari. Lupa Sumberwangi. Lupa namaku sendiri. Mungkin aku masih ada sebagai... sesuatu di dalam tanah. Tapi bukan Ki Lawu lagi. Bukan siapa-siapa yang kamu kenal." Ia tersenyum, dan senyum itu menghancurkan hati Nayla lebih dari air mata mana pun. "Mungkin aku lenyap sama sekali. Aku nggak tau. Nggak ada dhanyang yang pernah balik buat cerita."
"NGGAK!" Nayla mencengkeram kedua bahu Ki Lawu, mengguncangnya, tidak peduli betapa rapuh tubuh itu. "Nggak, Pak! Kita baru aja menang! Pasar lama berdiri lagi tanpa Pak! Warga berani sendiri! Pak sendiri yang ngajarin aku—penjaga sejati tau kapan harus percaya sama yang dijaga buat jaga diri mereka! Pak yang bilang itu! Beberapa jam yang lalu! Dan sekarang Pak mau ngorbanin diri lagi?!"
"Ini beda, Nduk"—
"NGGAK BEDA!" Suaranya pecah, menggema di lahan yang membeku, dan beberapa kepala menoleh—Pak Karyo, beberapa warga yang sudah berdatangan ke pusat. "Pak selalu bilang ini beda! Tiap kali Pak mau mati buat kita, Pak bilang yang ini beda, yang ini nggak ada jalan lain! Pak bohong! Selalu ada jalan lain, Pak. Cuma Pak terlalu cepet milih yang nyakitin diri Pak sendiri karena itu yang Pak tau dari dulu!"
Ki Lawu menatap gadis itu, dan untuk pertama kalinya malam itu, keyakinannya goyah—bukan karena ia ragu pengorbanan itu perlu, tapi karena ia melihat di wajah Nayla cermin dari semua yang ia pelajari malam ini dan hampir ia lupakan lagi. Beberapa jam lalu ia menolak mati di pasar lama karena Nayla mengajarinya bahwa penjaga tidak harus habis. Dan sekarang, di hadapan celah yang belum tertutup, instingnya yang berusia ratusan tahun langsung kembali ke jawaban lama: korbankan diri, habiskan diri, mati demi yang lain.
"Tapi pasak inti, Nduk," katanya, dan untuk pertama kalinya ada keraguan dalam suaranya, retakan kecil tempat harapan bisa masuk. "Celah itu harus diisi. Seseorang harus jadi pasaknya. Kalau bukan aku—"
"Maka kita cari cara lain," potong Nayla, mencengkeram tangannya, menatapnya dengan mata yang basah tapi menyala dengan keyakinan yang sama yang malam itu menyelamatkan pasar lama. "Cara yang nggak ngabisin Pak. Karena pelajaran yang Pak ajarin ke aku, Pak—itu juga buat Pak. Pasak inti nggak harus ditegakin sama satu pengorbanan. Kalau pasak pinggir bisa ditopang banyak orang, kalau pasar lama bisa berdiri pakai banyak hati—kenapa pasak inti nggak?"
Ki Lawu membeku. Di tengah lelah yang melampaui segalanya, di tepi celah yang menganga menunggu diisi, sesuatu dalam kata-kata gadis itu menyentuh tepat ke pusat yang selama berabad-abad ia jaga sendirian. Ia membuka mulut untuk menjawab, tapi tidak ada kata yang keluar.
Dan di sekeliling mereka, satu per satu, orang-orang yang menyelamatkan kota malam ini mulai berdatangan ke pusat—Bu Sari, Pak Karyo, Pak Darto, Mbak Yuni, roh asam tua, dan di belakang mereka, kota yang penuh, menunggu. Mereka belum tahu apa yang harus dilakukan. Tapi mereka datang. Karena malam itu, kota sudah belajar bahwa tidak ada yang harus berdiri di pusat sendirian.